Wali Kota Cilegon Dipeluk Pendukungnya Sebelum Masuk ke Rutan KPK

Langkah Wali Kota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi menuju mobil tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tertahan ketika sejumlah pendukung dan kerabatnya maju untuk menyalami dan memeluknya, Minggu (24/9/2017) dini hari.

Iman ditahan setelah diperiksa di kantor KPK di Kuningan, Jakarta Selatan, sejak Sabtu siang.

Iman keluar dari Kantor KPK sekitar pukul 00.02 WIB. Kemeja gelap yang dikenakan Iman Ariyadi telah berbalut rompi oranye bertuliskan “Tahanan KPK”.

 Petugas mengawal Iman menuju mobil tahanan yang akan membawanya ke Rumah Tahanan (Rutan) KPK di gedung lama KPK yang juga terletak di kawasan Kuningan.

Di lobi gedung KPK, sejumlah pendukung dan kerabat Iman telah menunggu.

Mereka segera maju untuk menyalami maupun memeluk Iman yang telah berstatus tersangka kasus suap perizinan di Kota Cilegon, Banten.

Bahkan seorang perempuan berhijab abu-abu menangis saat Iman dimasukkan ke mobil tahanan.

Setelah Iman dipindah ke rutan, lima tersangka lain pada kasus yang sama juga digiring ke mobil tahanan untuk ditahan di rutan.

Keempat tersangka itu di antaranya adalah Kepala Badan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kota Cilegon, Ahmad Dita Prawira, yang ditahan di Rutan Pomdam Jaya, Guntur, Jaksel.

Tersangka ketiga adalah Project Manager PT Brantas Adipraya, Bayu Dwinanto Utomo, yang ditahan di Rutan Polres Jakarta Timur.

Sedangkan dua tersangka lainnya adalah Legal Manager PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC), Eka Wandoro, dan seorang swasta, Hendry.

Keduanya ditahan di Rutan Polres Jakarta Pusat.

 “Para tersangka ditahan 20 hari pertama masa penyidikan,” kata Juru bicara KPK, Febri Diansyah.

Sebelumnya, KPK memeriksa sembilan orang dan menyita uang Rp 1,152 miliar dari pihak Cilegon United Football Club dalam operasi tangkap tangan (OTT) dugaan praktik suap di Cilegon, Banten, pada Jumat (22/9/2017) sore.

Sehari kemudian, Wali Kota Cilegon Iman Ariyadi dan Hendry mendatangi kantor KPK.

Uang Rp 1,152 miliar tersebut diduga sisa dari dana sebesar Rp 1,5 miliar yang ditransfer oleh PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) dan PT Brantas Abipraya ke Cilegon United FC.

Uang Rp 1,5 miliar tersebut diduga suap dari kedua perusahaan tersebut untuk memuluskan izin Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) pembangunan pusat ritel Transmart.

Izin tersebut diajukan lewat Badan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kota Cilegon tahun 2017.

Modus penyuapan, dana dikirim dalam bentuk dana CSR ke klub sepakbola Cilegon United FC. Wali Kota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi merupakan pengurus klub sepak bola itu.

Pihak KPK juga menetapkan Dirut PT KIEC, Tubagus Dony Sugimukti, sebagai tersangka karena diduga terlibat sebagai pemberi suap.

Tubagus Dony yang dikabarkan tengah berada di Yogyakarta diminta untuk segera menyerahkan diri ke pihak KPK.

 Terkait kasus dugaan suap di Kota Cilegon, pada Minggu siang, penyidik KPK melakukan penggeledahan di sejumlah lokasi.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah menuturkan, dari penggeledahan yang dilakukan sejak pukul 10.00 WIB tersebut, KPK menyita sejumlah dokumen perizinan.

“Disita sejumlah dokumen perizinan terkait dengan PT KIEC,” kata Febri dalam keterangan tertulis, Minggu.

Adapun penggeledahan dilakukan di beberapa lokasi yang sebelumnya telah disegel oleh KPK.

Lokasi tersebut di antaranya Kantor Badan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kota Cilegon, Kantor Klub Cilegon United FC, serta beberapa ruangan di kantor PT KIEC.

Penyitaan juga telah dilakukan terhadap buku tabungan bank dan rekening koran CU FC.

“Dokumen tersebut akan dipelajari lebih lanjut untuk kebutuhan penguatan bukti dalam penyidikan ini,” papar Febri. 

42total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *