Veto AS atas Resolusi Yerusalem Menambah Kekecewaan bagi Dunia dan Angin Segar untuk Israel

HAK veto yang diajukan oleh Amerika Serikat (AS) atas resolusi Yerusalem yang diusulkan oleh Mesir dalam rapat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) sangat disayangkan oleh berbagai pihak. Apalagi sebenarnya 14 dari 15 anggota DK PBB sudah menyetujui resolusi tersebut. Rancangan resolusi tersebut tidak secara khusus menyebutkan AS atau Presiden Trump namun mengungkapkan penyesalan mendalam atas keputusan status Yerusalem.

Juru Bicara Presiden Palestina, Nabil Abu Rudeinah, mengatakan bahwa veto yang diajukan AS terhadap rancangan resolusi itu bertentangan dengan konsensus internasional.

“Veto AS melanggar resolusi sah internasional dan resolusi Dewan Keamanan. Itu penuh bias buat pendudukan dan agresi,” kata Abu Rudeinah.

Salah satu negara yang melantangkan suaranya atas kekecewaannya terhadap veto AS adalah Turki. Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan bahwa keputusan AS memveto resolusi tersebut sekali lagi menunjukkan bahwa Washington kehilangan objektivitas dan tidak dapat diterima begitu saja.

“Amerika Serikat ditinggalkan sendirian dalam pemungutan suara itu, yang menjadi tanda nyata tidak sah keputusannya mengenai Yerusalem,” kata kementerian luar negeri Turki dalam pernyataan.

Ada yang menentang, ada pula yang mendukung. Hak veto yang diajukan oleh AS menjadi angin segar bagi Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan rasa terima kasihnya dan memuji sikap dari AS tersebut.

“Terima kasih, Duta Besar Haley. Di hari Hanukkah, Anda berbicara seperti seorang Maccabi,” ungkap Netanyahu melalui akun Twitter resminya.

“Anda menyalakan lilin kebenaran. Anda mengusir kegelapan. Satu mengalahkan banyak orang. Kebenaran mengalahkan kebohongan. Terima kasih, Presiden Trump. Terima kasih, Nikki Haley,” tambah Netanyahu.

Akibat veto tersebut, Majelis PBB yang beranggotakan 193 negara tersebut akan mengadakan sebuah sesi khusus darurat yang langka pada Kamis 21 Desember atas permintaan negara-negara Arab dan Muslim. Mansour mengatakan bahwa ia berharap dukungan yang luar biasa di Majelis Umum untuk resolusi tersebut. Pemungutan suara semacam itu tidak mengikat, namun membawa bobot politik.

Sekadar mengingatkan, pada Kamis 7 Desember, Presiden AS Donald Trump mengumumkan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Presiden berusia 72 tahun itu menekankan bahwa keputusan tersebut pada dasarnya keputusan yang terlambat.

Keputusan Trump tersebut melanggar kebijaka AS selama ini dan konsensus internasional bahwa status Yerusalem harus diserahkan pada perundingan Israel-Palestina. Hal tersebut juga menimbulkan kritik keras dari negara-negara Muslim dan sekutu-sekutu terdekat Israel di Eropa, yang juga menolak akui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

 

115total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *