Ustaz dan Pengajian, Sandi Suap Politikus dan Hakim

Anggota DPR dari Fraksi Golkar Aditya Anugrah Moha didakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi telah menyuap Ketua Pengadilan Tinggi Manado, Sudiwardono sebesar 110.000 dolar Singapura (Rp 1,1 miliar) dan fasilitas Hotel Alila serta menjanjikan uang 10.000 dolar lagi.

Suap ini diberikan agar Marlina Moha Siahaan, ibu Aditya, divonis bebas dalam kasus korupsi pada tingkat banding.

Untuk memuluskan tindak pidana ini, Aditya dan Sudiwardono menggunakan sandi ustaz dan pengajian. Ustaz merujuk pada diri Aditya sementara pengajian merujuk pada pertemuan keduanya untuk bertransaksi suap.

Kata sandi ‘ustaz’ muncul saat Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Palu, Sulawesi Tengah Lexsy Mamonto menyampaikan kepada Sudiwardono bahwa saudaranya ingin meminta bantuan terkait penanganan perkara. Kepada Sudiwardono, Lexsy menyebut nomor telepon Sudiwardono akan diberikan kepada seorang ‘ustaz’ agar dapat berkomunikasi langsung.

“Selanjutnya Lexsy Mamonto menyampaikan bahwa nomor telepon Sudiwardono akan diberikan kepada seorang ‘ustaz’ dan ‘ustaz’ tersebut akan menghubungi Sudiwardono,” kata jaksa penuntut umum KPK Ali Fikri saat membacakan surat dakwaan Aditya, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (28/2).

Selang beberapa hari kemudian, Sudiwardono menerima pesan singkat dari seseorang bernama ‘ustaz’, yang menyatakan akan menelepon. Kepada Sudiwardono, ‘ustaz’ tersebut mengungkap dirinya adalah Aditya Moha.

“Setelah itu ‘ustaz’ tersebut menelepon Sudiwardono dan menyampaikan namanya adalah Aditya Anugrah Moha bekerja sebagai anggota DPR dan merupakan anak dari Marlina Moha Siahaan,” kata jaksa KPK.

Aditya pun langsung menemui Sudiwardono di ruang kerjanya setelah kunjungan Komisi III ke Pengadilan Tinggi Manado pada 7 Agustus 2017. Dalam pertemuan itu, Aditya meminta bantuan Sudiwardono terkait banding yang telah diajukan sang ibu.

Politikus Golkar itu juga meminta agar Sudiwardono tak melakukan penahanan terhadap ibunya. Tak hanya itu, Aditya juga meminta Sudiwardono menjadi hakim yang menangani perkara ibunya di tingkat banding dan meminta agar putusan tingkat banding membebaskan ibunya dari segala tuntutan hukum.

“Sudiwardono kemudian menjawab ‘ya nanti saya bantu, Ibumu tidak akan ditahan, namun harus ada perhatian’,” ungkap jaksa KPK.

Menindaklanjuti pertemuan di ruang kerja Sudiwardono, Aditya kemudian menghubungi kembali Sudiwardono untuk bertemu. Dalam komunikasi itu, pertemuan selanjutnya menggunakan bahasa sandi ‘pengajian’.

Aditya dan Sudiwardono akhirnya bertemu di pekarangan Masjid Kartini, Jalan 17 Agustus Bumi Beringin Manado. Dalam pertemuan ini, Aditya menawarkan uang sejumlah SGD 50.000 kepada Sudiwardono untuk vonis bebas ibunya. Sudiwardono menolak tawaran tersebut dan meminta SGD 120.000 untuk vonis bebas Marlina dengan alasan harus dibagikan kepada anggota majelis hakim lainnya.

Anggota Majelis Hakim yang menangani banding Marlina selain Sudiwardono adalah Yap Arfen Rafael dan Andreas Lumme. Aditya menyanggupi permintaan itu. Sebagai tahap awal, penyerahan SGD 80.000 dilakukan Aditya di rumah Sudiwardono di Yogyakarta, pada 12 Agustus 2017.

Sudiwardono kemudian meminta sisa uang yang dijanjikan untuk vonis bebas Marlina, yang sebelumnya divonis 5 tahun dan denda Rp200 juta serta membayar uang pengganti Rp 1,25 miliar oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Manado.

Pada akhir Agustus 2017, Aditya kembali menemui Sudiwardono di pekarangan Masjid Kartini. Dalam pertemuan itu, Sudiwardono menyampaikan kepada Aditya agar menyiapkan sisa uangnya sejumlah SGD 40.000 untuk vonis bebas sang ibu. Sudiwardono juga meminta fasilitas kamar di Hotel Alila Jakarta sebagai tempat penyerahan uang tersebut.

Pada 2 Oktober 2017, Sudiwardono kemudian mengirimkan pesan singkat kepada Aditya yang isinya, “Saya berencana Kamis malam (5 Oktober 2017) sudah di tempat ‘pengajian’. Sabtu malam ada undangan di TMII.”

“Kemudian terdakwa (Aditya Anugrah Moha) membalas SMS dengan menyampaikan ‘ok, pak agak malaman yah’,” tutur jaksa KPK.

Kemudian pada 5 Oktober 2017, Sudiwardono dan istrinya tiba di Jakarta dan langsung menuju ke Hotel Alila. Sudiwardono dan istrinya bermalam di kamar nomor 1203 Hotel Alila.

Namun, karena kesibukan Aditya, politikus Golkar itu batal mendatangi Sudiwardono untuk menyerahkan uang SGD 30.000. Aditya pun mengirim pesan singkat kepada Sudiwardono yang berisi, “malam ini pak, semalam pengajian sampai jam 5.”

Sudiwardono lantas membalas, “Yup.” Sekitar pukul 22.24 WIB, Aditya berangkat ke Hotel Alila. Uang sebesar SGD 30.000 itu diserahkan Aditya langsung kepada Sudiwardono. Sementara uang sebesar SGD 10.000 rencananya akan diserahkan Aditya setelah Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Manado yang diketuai Sudiwardono membacakan vonis bebas untuk ibunya.

Namun, setelah transaksi suap di Hotel Alila, Aditya dan Sudiwardono ditangkap tim KPK. Aditya didakwa sebagai pemberi suap, sementara Sudiwardono didakwa sebagai penerima suap.

123total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *