Tugas KPU Mengelola Konflik Pemilu

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Hasyim Asy’ari, menilai, konflik dalam pemilihan umum (Pemilu) dan pemilihan kepala daerah (Pilkada) harus dikelola dengan baik. Ajang pemilu maupun pilkada, bukan lagi disebut “potensi konflik”, namun sudah merupakan konflik itu sendiri.

“Pada dasarnya yang namanya pemilu, pilkada itu konflik. Jadi bukan potensi. Karena apa? Di dalamnya ini pertarungan memperebutkan kekuasaan. Kami sampaikan ini di KPU Provinsi dan Kabupaten/Kota, pemilu dan pilkada adalah konflik politik menuju kekuasaan,” ujar Hasyim di Kantor Bawaslu, Jakarta, Rabu (8/11).

Sebagai penyelenggara, kata Hasyim, KPU dan jajarannya harus mampu mengelolah konflik tersebut. Caranya, harus mengetahui dan menaati aturan yang ada.

“Maka dari itu, harus ada aturannya mana yang boleh, mana yang tidak prosedurnya bagaimana. KPU diberikan tugas untuk mengelola konflik itu. Bekerjalah menurut aturan dan bekerja berdasarkan kode etik,” tegas dia.

Jika tidak memahami aturan, lanjut dia, maka KPU pusat tentunya melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman KPU di tingkat daerah. Kegiatan tersebut, antara lain bimbingan teknis, supervisi, konsultasi dan pendampingan.

“Yang paling penting bagi KPU di semua tingkatan tidak menjad faktor penyebab konflik,” ungkap dia

Sebelumnya, Ketua KPU, Arief Budiman, mengatakan, Pilkada 2018 merupakan pilkada dengan dengan potensi konflik tertinggi dalam sejarah pilkada Indonesia. Pasalnya, pilkada yang diselenggarakan di 171 daerah ini melibatkan jumlah pemilih yang banyak dengan peredaran uang yang besar.

Menurut Arief, jumlah pemilih yang ikut pada Pilkada Serentak 2018 sekitar 158 juta dan anggaran penyelenggaraan pilkada untuk KPU sebesar Rp. 11,9 triliun.

Sementara Wakil Ketua Komisi II DPR, Lukman Edy, menyebutkan, 9 potensi konflik di Pilkada 2018, antara lain kurangnya pemahaman penyelenggara, netralitas penyelenggara, ASN, TNI-Polri, kecurangan oleh calon kepala daerah petahana, politik uang dan penggunana isu SARA dan fitnah di Pilkada.

97total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *