Trump Memulai Perang Dagang dengan Tiongkok

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani nota kepresidenan yang bisa menghasilkan tarif sampai US$ 60 miliar atas produk-produk impor dari Tiongkok, Kamis (22/3), sehingga mengancam terjadinya perang dagang di seluruh dunia.

Dalam nota tersebut Trump akan membidik impor dari Tiongkok setelah masa konsultasi, di mana para pelobi dan legislator diberi kesempatan untuk memperlunak tarif dalam daftar target yang mencakup 1.300 produk.

Tiongkok juga diberi kesempatan untuk merespons tindakan ini, demi menghindari risiko adanya pembalasan dramatis oleh Beijing. Trump juga berusaha mendinginkan situasi di awal pidatonya dengan mengatakan “Saya menganggap mereka sebagai seorang teman.”

“Kami telah bicara dengan Tiongkok dan sedang di tengah negosiasi,” kata Trump, sembari menambahkan bahwa salah satu penyebab dia terpilih presiden pada 2016 adalah hilangnya lapangan kerja di AS akibat hubungan dagang yang tidak adil.

Saat ini, AS mengalami defisit US$ 375 miliar dalam neraca perdagangan dengan Tiongkok.

Washington juga akan menindak adanya dugaan pelanggaran hak cipta intelektual oleh Tiongkok melalui mekanisme Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Lembaga ini berulangkali menjadi sasaran kemarahan pemerintah AS namun dinilai bisa memberi solusi untuk menghindari perang dagang.

Setelah pengumuman oleh Trump, kantor perwakilan dagang AS akan menyampaikan daftar produk yang menjadi target, khususnya dari sektor teknologi. Setelah itu ada masa konsultasi selama 60 hari sebelum tindakan definitif diberlakukan.

Selain rencana tarif, Trump juga akan memerintahkan Kementerian Keuangan AS untuk mengusulkan tindakan yang bisa membatasi investasi Tiongkok di AS, kata Everett Eissenstat, deputi direktur Dewan Ekonomi Nasional AS.

Eissenstat mengatakan Tiongkok mendapatkan keuntungan secara tidak adil dengan cara memaksa perusahaan-perusahaan AS untuk melakukan transfer teknologi sebagai syarat membuka usaha di Tiongkok.

Pecundang
Kantor berita pemerintah Tiongkok, Xinhua, menyebut kebijakan Trump ini sebagai tindakan yang ketinggalan zaman.

Sebelumnya, Trump juga telah menerapkan tarif tinggi atas produk panel surya, mesin cuci, aluminium, dan baja dari Tiongkok.

“Sanksi-sanksi tersebut didasarkan pada hukum dagang AS yang ketinggalan zaman, diberlakukan pada era Perang Dingin untuk melindungi industri dalam negeri, tetapi sudah jarang dipakai sejak lahirnya WTO pada 1995,” tulis Xinhua.

“Trump dan penasihat perdagangan Robert Lighthizer, mantan deputi Perwakilan Dagang AS di era pemerintahan Ronald Reagan, mungkin ingin kembali menyalakan perang dagang melawan Eropa Barat dan Jepang di era 1970an dan 1980an.”

Lebih lanjut Xinhua memaparkan bahwa dalam tiga dekade terakhir perdagangan dan rantai pasokan dunia sudah berubah pesat, di mana produk dari satu negara memakai komponen dari negara-negara lain agar lebih efisien.

“Karena itu menaikkan tarif atas barang-barang Tiongkok ibarat memakai perangkat buatan abad ke-20 — atau bahkan abad ke-19 — untuk mengatasi masalah pada abad ke-21 dan era globalisasi,” tulis Xinhua.

Media tersebut mengambil contoh iPhone buatan Apple, yang menggabungkan rancangan Amerika dengan perangkat keras dari berbagai negara dan digarap di pabrik perakitan Tiongkok.

“Meskipun dihitung sebagai ekspor Tiongkok ke Amerika Serikat, iPhone tetap diproduksi oleh perusahaan-perusahaan multinasional Amerika yang beroperasi di Tiongkok,” kata Xinhua.

Kalimat terakhir dalam tulisan editorial tersebut mengatakan: “Perang dagang hanya untuk para pecundang.”

83total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *