Tragedi Meledaknya Pesawat Pan Am, Teror Bom yang Renggut 259 Nyawa

PESAWAT penumpang Pan Am Flight 103 yang berangkat dari London ke New York meledak di atas Kota Lockerbie, Skotlandia, satu jam setelah keberangkatan pada Kamis 21 Desember 1988. Sebanyak 259 penumpang tewas dalam insiden ledakan pesawat tersebut. Selain itu, 11 warga sipil juga tewas tertimpa bagian-bagian pesawat yang jatuh secara tak terduga dari langit.

Pesawat tersebut meledak di atas ketinggian 31 ribu kaki saat sebuah bom yang disembunyikan di kaset audio meledak di dalam area kargo. Petugas berwenang mencurigai bom tersebut diletakkan oleh teroris yang lolos dari rendahnya keamanan Bandara Malta. Mereka menduga tindakan tersebut merupakan aksi balas dendam terhadap serangan bom di Libya pada 1986 atau insiden salah tembak AS yang menghancurkan pesawat Iran Airlines dan menewaskan 290 penumpang di Teluk Persia.

Kedutaan Besar AS di Helsinki, Finlandia menerima telepon yang berisi teror 16 hari sebelum pesawat itu meledak. Peringatan itu menyebut, ada sebuah bom yang diletakkan di penerbangan Pan Am dari Frankfurt. Beberapa orang mengatakan seharusnya para penumpang diberi tahu atas ancaman itu. Namun, Pemerintah AS mengatakan kedua kejadian tersebut murni kebetulan.

Awal 1990, tim investigasi mengklaim dua warga negara Libya, Abdel Basset Ali al-Megrahi dan Lamen Khalifa Fhimah sebagai tersangka. Libya yang saat itu dipimpin Moammar Ghadafi menolak menyerahkan keduanya untuk diadili di AS. Putusan tersebut diubah Ghadafi untuk mengurangi sanksi yang diberikan PBB terhadap Libya pada 1999. Presiden Libya setuju untuk menyerahkan kedua tersangka untuk diadili di Belanda dengan hukum dan jaksa Skotlandia. Al-Megrahi dihukum seumur hidup, sedangkan Fhimah dibebaskan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Amerika Serikat menuntut tanggung jawab atas pengeboman tersebut kepada Pemerintah Libya. Negara itu diwajibkan membayar USD8 juta (Rp108 miliar) kepada tiap keluarga korban sebagai kompensasi untuk mengurangi sanksi internasional Libya. Pada 2004, Libya mengatakan kompensasi itu adalah ‘harga sebuah perdamaian’. Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa Libya bertanggung jawab hanya untuk meringankan hukuman negara tersebut di pengadilan internasional bukan sebagai bentuk penyesalan.

Pan Am Airlines yang bangkrut pada 1991 menerima ganti rugi dari Pemerintah Libya pada 2006 sebanyak USD30 juta (Rp407 miliar).

145total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *