Tidak di Sangka, Ternyata Sandiaga Uno Tidak Kaya, Bahkan Terkenal Pelit

bangnapi.com, Jakarta – Masih ingatkah waktu Sandiaga Uno dilaporkan ke Polisi dengan dugaan penggelapan tanah oleh keluarga angkatnya sendiri? Saat itu Djarot berkomentar tentang hal ini, yang dianggap oleh pihak Sandi telah menyindir mereka. Sandi pun mengatakan bahwa Djarot tidak tahu apa-apa, ini urusan dua orang super kaya.

Memang yang kita tahu Sandi adalah anak muda yang kaya sebelum waktunya. Ia dianggap oleh banyak orang sebagai orang kaya yang sukses membentuk karir cemerlangnya. Bahkan, kaum banyak yang menganggap Sandi merupakan harapan baru untuk umat Islam sebagai pengusaha muslim yang akan membawa kembali masa-masa kejayaan Islam.

Tapi apakah benar Sandiaga Uno sekaya seperti yang disebutkan?

Mengapa muncul pertanyaan seperti itu, karena dalam kasus yang baru-baru ini menimpa telah ditemukan fakta bahwa Sandi tidak sekaya seperti yang ia sebutkan. Bahkan Sandi terkenal pelit. Malahan, Rudi Valinka alias @kurawa menyebutkan bahwa teman-teman Sandi menyebut ia sebagai orang yang pelit 7 turunan, 7 naikan, dan 7 tikungan. hahaha..

Dari Laporan Harta Kekayaan yang Sandi setor ke KPK, harta keseluruhan Sandi bernilai Rp 4 triliun. Uang cash yang ia miliki bernilai Rp 13 miliar. Sandi lebih banyak memegang surat saham.

Dari laporang keuangan tersebut memang terlihat harta Sandi sangat banyak. Tapi, yang jadi pertanyaan dan bikin kita geleng-geleng kepala adalah mengapa kasus pidana yang menimpanya kini nilainya kecil?

Kasus penggelapan tanah di Tangsel milik Edwards Soeryadjaya hanya bernilai Rp 3,115 miliar. Kasus tersebut terjadi pada tahun 2012 silam. Padahal, saat ia menjual tanah di Curug, dimana ada sedikit milik Edwards disana, seharusnya angka 3,115 miliar itu angka yang kecil. Total keseluruhan bisa bernilai Rp 30 miliar.

Sudah berkali-kali pihak Edwards ingin menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan. Tapi, berkali-kali Sandi mangkir, ngeles bahkan menolak untuk menyelesaikan. Tidak ada itikad baik dari pihak Sandi.

Saat Sandi dilaporkan, seharusnya Sandi tidak menganggapnya sebagai upaya kriminalisasi atas dirinya. Pasti, orang yang melaporkan seseorang saat ia sedang menjadi perhatian publik, ada sebuah harapan agar kerugian yang diderita bisa diselesaikan.

Tapi, anehnya, biarpun Sandi mempunyai harta yang banyak, dan jumlah ganti rugi yang harus di berikan kepada Edwards sangat kecil, mengapa Sandi tak kunjung mempunya itikad baik untuk menyelesaikan kasusnya? Cuma 3,115 miliar kok! Mengapa masih gak mau bayar juga? Malah minta ke polisi agar kasusnya ditangguhkan dulu. Ini kan aneh!

Salah satu Jawaban yang mungkin adalah “Sandiaga Uno sedang kehabisan duit”. Tapi apa benar demikian?

Apakah memang diperlukan untuk mengumumkan ke publik bahwa ia telah mengeluarkan Rp 29,3 miliar di putaran kedua ini? Yah memang sah-sah saja sih, itu urusan Sandi mau diumumkan atau tidak. Tapi, pada saat ia memberitahukan bahwa banyak pengusaha yang tidak mau membantunya untuk kampanye gegara mendukung penolakan reklamasi, tentu Sandi sedang terjepit.

Di sisi lain, Ahok-Djarot tidak pernah memikirkan masalah dana kampanye, karena dana dari warga mengalir dengan derasnya tanpa harus “mengemis” kesana-kemari. Ini pukulan telak untuk Sandi yang seolah-olah menjadi “single fighter” untuk masalah dana kampanye. Anies bisa apa untuk masalah ini? Selain berakting retorika untuk menutupi galaunya Sandi.

Sudah mengeluarkan puluhan miliar tapi cuma dapat jabatan “wagub”. Tapi Sandi enggak bisa berbuat apa-apa karena ia tak setenar Anies. Akhirnya, Sandi hanya menjadi “penyuntik” dana yang pengaruhnya jauh di bawah Anies.

Menurut pengakuan @kurawa, ia menulis, “Salah seorang rekan bisnis Sandi yg skr sdh jadi ketua organisasi top itu pernah bilang: Sandi saking Pelitnya, Dosanya pun Gak akan Dibagi.”

Akun @kurawa juga menilai bahwa harta yang dimiliki Sandi tak sebanyak yang tertulis dalam LHKPN di atas. Mengapa? Menurut @kurawa karena banyak yang pinjam nama dia dalam surat-surat berharga (saham).

Ada satu kasus lagi yang memperlihatkan pelitnya Sandi. Yaitu kasus “penggelapan upah” atas karyawan-karyawan Indonesian Finance Today (ITF). Ada 2 kasus disini. Pertama, penggelapan upah dengan tidak membayar gaji karyawan selama 3 bulan berturut-turut dengan uang THR. Kedua, masalah pembayaran pesangon untuk delapan jurnalis.

Para jurnalis ITF sudah mencoba berbagai cara tapi tidak kunjung direspon oleh pihak perusahan. Sampai saat ini mereka masih tetap mencari cara untuk mengupayakan hak mereka yang direnggut dengan tidak adil oleh Sandi. Kita saksikan saja nanti, apakah kasus ini akan ramai dibicarakan dan dibawa ke kepolisian.

Padahal, kasus ini terbilang murah-meriah. Cuma bernilai Rp 1 miliar. Angka yang sangat kecil untuk orang “SUPER KAYA” seperti Sandiaga Uno.

Lalu, pertanyaan intinya adalah: Dengan jiwa yang pelit seperti itu, mengapa Sandiaga Uno mau mengikuti kontestasi Pilkada yang tentunya bakal menguras uangnya berpuluh-puluh miliar? Wong, untuk 1 miliar aja sangat susah untuk Sandi keluarkan duit!

Menurut analisis @kurawa, jika Sandi jadi Wagub, bakal ada 3 perusahaan milik Sandi yang berpotensial dilibatkan untuk menangani Jakarta nanti. Yaitu, mobil murah, air bersih dan developer.

Akun @kurawa mengatakan, “Doi ada di bisnis mobil Nissan (Livina), perusahaan air minum Aetra dan website rumah yg digadang2kan bisa 300 juta (tanpa tanah)”

Terakhir, saya ingin mengutip beberapa pengakuan dari “followers”-nya @kurawa yang memberi kesaksian bagaimana pelitnya seorang Sandiaga Uno.

Akun bernama @ivnmeidical menulis, “ini bener. Bokap gw kadang main golf sama sandi, bayar kopi aja ga pernah mau. Langsung melipir pulang. Hadeuh..”

Akun @kemuningmanis juga menulis, “yes sama bgt infonya… temen gw jg blg gitu… klo kumpul tau2 mlipir gak bayar, pdhl small bill…”

Pilihan Anda menentukan nasib Jakarta 5 tahun kedepannya. Jangan sampai salah pilih yah..!!!

tulisan ini diadaptasi dari kultwitnya akun @kurawa belum lama ini.

796total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *