Terharu! Doa & Nasihat Orangtua Antarkan Jefferson Sabet Juara di Olimpiade Matematika di Bulgaria

Bisa memboyong pulang medali dalam kompetisi internasional tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Hal itulah yang dialami oleh Jefferson Caesario, mahasiswa Universitas Airlangga (Surabaya). Ia berhasil membawa medali perak dalam olimpiade International Mathematics Competition (IMC) di Bulgaria baru-baru ini.

Bisa memboyong pulang medali dalam kompetisi internasional tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Hal itulah yang dialami oleh Jefferson Caesario, mahasiswa Universitas Airlangga (Surabaya). Ia berhasil membawa medali perak dalam olimpiade International Mathematics Competition (IMC) di Bulgaria baru-baru ini.

Jefferson merupakan satu dari sembilan mahasiswa yang lolos seleksi nasional. Kompetisi tersebut diikuti oleh 300 lebih peserta dari 60 negara. Selama dua hari itu, para peserta berkompetisi menyelesaikan lima soal matematika dalam waktu lima jam.

Jefferson menceritakan, pengalaman bisa mengikuti kompetisi dan berhasil meraih juara amat berkesan. Meski sempat pesimis, namun ia berhasil meraih medali.

“Sebelum berangkat saya sempat pesimis. Karena terlalu sibuk kuliah jadinya persiapan untuk latihan soal hampir enggak sempat, sehingga baru efektif latihan saat di karantina. Selama di karantina pun, nilai saya paling rendah,” ujar Jefferson seperti dilansir dari Unair, Rabu (16/8/2017).

Bahkan, lanjut dia, sebelum keberangkatan ia sempat galau dan menghubungi orangtuanya. Ia pun dibekali petuah oleh sang mama.

“Kalau Tuhan sudah berkehendak kamu untuk menang, pasti bisa. Tinggal berusaha saja semaksimal mungkin,” ungkapnya menirukan kata-kata sang mama. Mendengar itu, semangat dan keyakinan Jefferson kembali bangkit.

Meski sudah pernah mengikuti kompetisi yang sama, namun dia merasa kali ini materi yang diujikan lebih rumit. Bahkan dari lima soal yang ditampilkan, sama sekali bukan jenis matematika yang ia kuasai.

“Materi olimpiade matematika kan ada banyak jenis, seperti kombinatorika, teori bilangan, analisis bilangan real, hingga analisis bilangan komplek. Yang paling saya kuasai sejak SMA hanya kombinatorika dan teori bilangan, sisanya saya pelajari secara otodidak. Ternyata saat kompetisi, bidang yang saya kuasai ndak muncul, itu yang bikin saya sempat down,” ungkap pria kelahiran 13 Maret 2017 itu.

Meski begitu, dia tidak patang semangat, Jeff sapaan akrabnya memilih untuk terus memutar otak dan berdoa dalam hati.

“Dalam kondisi stres begitu, saya terus berusaha memotivasi diri sendiri. Saya buang semua pikiran negatif, dan selalu saya katakan bahwa saya pasti bisa,” ungkapnya.

Satu demi satu persoalan terjawab. Sampai pada akhirnya tersisa satu soal kunci yang dianggapnya paling sulit untuk dikerjakan.

“Saya hampir menyerah di satu jam terakhir. Di momen inilah saya perbanyak berdoa. Kalau saya menyerah dengan satu soal ini, artinya kemungkinan saya hanya akan pulang dengan membawa kembali perunggu,” tuturnya.

Kekhawatiran yang dirasakan Jeff kala itu barangkali juga dirasakan oleh ratusan peserta lainnya. Ketika seluruh peserta fokus menggarap soal, batin mereka juga berkecamuk melawan stres dan rasa takut. Beruntung Jeff masih memiliki keyakinan. Disaat itulah, kekuatan doa mampu menghadirkan mukjizat. Seperti yang dialaminya di lima menit terakhir.

“Setelah berulangkali berdoa, dan benar-benar minta pertolongan Tuhan, terakhir saya menutup doa dengan mengucap ‘amin’. Tiba-tiba muncul rumus matematika di otak saya. Saya lantas coba buktikan rumus itu, dan ternyata ketemu jawabannya,” kenangnya.

Lima soal itupun akhirnya tuntas dikerjakan, termasuk di dalamnya satu soal kunci yang pada akhirnya dapat mengantarkannya memperoleh nilai tertinggi kedua dalam kompetisi tersebut.

Jefferson merupakan satu dari sembilan mahasiswa yang lolos seleksi nasional. Kompetisi tersebut diikuti oleh 300 lebih peserta dari 60 negara. Selama dua hari itu, para peserta berkompetisi menyelesaikan lima soal matematika dalam waktu lima jam.

Jefferson menceritakan, pengalaman bisa mengikuti kompetisi dan berhasil meraih juara amat berkesan. Meski sempat pesimis, namun ia berhasil meraih medali.

“Sebelum berangkat saya sempat pesimis. Karena terlalu sibuk kuliah jadinya persiapan untuk latihan soal hampir enggak sempat, sehingga baru efektif latihan saat di karantina. Selama di karantina pun, nilai saya paling rendah,” ujar Jefferson seperti dilansir dari Unair, Rabu (16/8/2017).

Bahkan, lanjut dia, sebelum keberangkatan ia sempat galau dan menghubungi orangtuanya. Ia pun dibekali petuah oleh sang mama.

“Kalau Tuhan sudah berkehendak kamu untuk menang, pasti bisa. Tinggal berusaha saja semaksimal mungkin,” ungkapnya menirukan kata-kata sang mama. Mendengar itu, semangat dan keyakinan Jefferson kembali bangkit.

Meski sudah pernah mengikuti kompetisi yang sama, namun dia merasa kali ini materi yang diujikan lebih rumit. Bahkan dari lima soal yang ditampilkan, sama sekali bukan jenis matematika yang ia kuasai.

“Materi olimpiade matematika kan ada banyak jenis, seperti kombinatorika, teori bilangan, analisis bilangan real, hingga analisis bilangan komplek. Yang paling saya kuasai sejak SMA hanya kombinatorika dan teori bilangan, sisanya saya pelajari secara otodidak. Ternyata saat kompetisi, bidang yang saya kuasai ndak muncul, itu yang bikin saya sempat down,” ungkap pria kelahiran 13 Maret 2017 itu.

Meski begitu, dia tidak patang semangat, Jeff sapaan akrabnya memilih untuk terus memutar otak dan berdoa dalam hati.

“Dalam kondisi stres begitu, saya terus berusaha memotivasi diri sendiri. Saya buang semua pikiran negatif, dan selalu saya katakan bahwa saya pasti bisa,” ungkapnya.

Satu demi satu persoalan terjawab. Sampai pada akhirnya tersisa satu soal kunci yang dianggapnya paling sulit untuk dikerjakan.

“Saya hampir menyerah di satu jam terakhir. Di momen inilah saya perbanyak berdoa. Kalau saya menyerah dengan satu soal ini, artinya kemungkinan saya hanya akan pulang dengan membawa kembali perunggu,” tuturnya.

Kekhawatiran yang dirasakan Jeff kala itu barangkali juga dirasakan oleh ratusan peserta lainnya. Ketika seluruh peserta fokus menggarap soal, batin mereka juga berkecamuk melawan stres dan rasa takut. Beruntung Jeff masih memiliki keyakinan. Disaat itulah, kekuatan doa mampu menghadirkan mukjizat. Seperti yang dialaminya di lima menit terakhir.

“Setelah berulangkali berdoa, dan benar-benar minta pertolongan Tuhan, terakhir saya menutup doa dengan mengucap ‘amin’. Tiba-tiba muncul rumus matematika di otak saya. Saya lantas coba buktikan rumus itu, dan ternyata ketemu jawabannya,” kenangnya.

Lima soal itupun akhirnya tuntas dikerjakan, termasuk di dalamnya satu soal kunci yang pada akhirnya dapat mengantarkannya memperoleh nilai tertinggi kedua dalam kompetisi tersebut.

92total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *