Begini Tamparan Ahok Untuk Sandiaga Yang Ingin Kaji Ulang Sistem Parkir Meter

BANGNAPI.COM , Jakarta – Parkir meter sering kita lihat di luar negeri, dan sistem parkir ini telah diterapkan di beberapa tempat di Jakarta. Akan tetapi Wakil Gubernur terpilih Sandiaga Uno menilai sistem parkir motor tidak cocok diterapkan di Jakarta, karena dia menilai pola yang diterapkan dalam sistem parkir model tersebut tidak cocok dengan budaya orang Indonesia.

Jadi menurut Sandi, budaya orang Indonesia itu seperti apa? Yang manual terus sajakah? Orang lain berlomba-lomba meninggalkan manual dan mempermudah segala sesuatu dengan sistem otomatis tanpa campur tangan manusia.

Lihat saja dulu parkir di mall tidak memakai palang otomatis seperti sekarang, masih catat pakai kertas. Sekarang sudah ada secure parking yang lebih aman dengan menggunakan sistem teknologi. Bayar tarif tol sekarang sudah pakai kartu biar lebih mudah dan efisien.

Begitu pula dengan parkir meter yang sudah ada di beberapa negara maju, dan lambat laun akan menjadi tren karena mengadopsi teknologi. Dan sekarang Sandiaga entah apa yang ada di pikirannya, malah mau kaji ulang. Mau sampai kapan terus-menerus seperti ini? Pakai sistem berbasis saja kadang masih ada kebocoran, apalagi pakai manual seperti dulu.

Menurut Ahok, dengan parkir meter, kebocoran retribusi parkir bisa ditekan. Dalam sistem parkir meter, juru parkir tetap diberdayakan dan digaji sesuai UMP. “Kami berdayakan semua tukang parkir malah dapat gaji gede sesuai UMP. Anaknya bisa dapat KJP, naik bus (Transjakarta) nggak bayar. Mungkin ormas-ormas nggak dapat duit kali ya,” sindir Ahok.

Sebuah sindiran halus namun menohok. Saya saja sempat bingung kenapa harus ada kajian ulang, padahal sistem ini sudah banyak diadopsi di negara-negara maju. Pasti ada udang di balik bakwan, mungkinkah ada desakan dari pihak belakang?

Sejak Ahok menjabat, banyak pihak yang gerah karena kehilangan lapak dan jatah yang selama ini begitu nikmat. Ahok datang, tiba-tiba semuanya kering dan apes. Ahok sudah kalah dan bakal berhenti pada Oktober, dan mereka mungkin akan berpesta lagi.

Sistem parkir meter mulai diberlakukan sejak tahun 2014. Parkai dibayar dengan kartu elektronik alias non tunai, dan juru parkir di larang menerima uang tunai dari pengguna parkir. Menurut Kepala Unit Pengelola Perparkiran Dishub DKI Jakarta Sunardi Sinaga mengatakan duit parkir di Jalan Sabang mencapai Rp 12 juta per hari, padahal sebelumnya hanya Rp 500.000.

Bayangkan kebocoran hingga Rp 11,5 juta terbang ke mana? Bocor, bocor, bocor, bocor. Bocor ke manakah uangnya? Masuk kantong orang lain mungkin, sudah pasti bukan kantong kangguru.

Contoh lainnya, Jalan Falatehan Jakarta Selatan, bisa mencapai Rp 7 juta dari sebelumnya hanya Rp 280.000. Jalan Boulevard Kelapa Gading Jakarta Utara bisa mencapai Rp 40 juta padahal dulu hanya Rp 470.000 per hari.

Bayangkan berapa banyak kerugian atau kebocoran yang terjadi selama bertahun-tahun. Terobosan ini tentunya sangat diapresiasi untuk menambah pendapatan daerah dan menutup keran kebocoran. Tapi Sandiaga dengan komentarnya mengatakan juru parkir adalah kearifan lokal yang tidak akan pernah bisa dihilangkan di tengah masyarakat.

Kearifan lokal apaan? Sekarang zaman sudah canggih, siapa pun bisa tergerus dan lenyap kalau tidak mau ikut arus. Padahal Ahok sudah katakan juru parkir tetap diberdayakan dengan UMP pula. Ada yang mau dikaji? Sepertinya pendapat Ahok ada benarnya juga, ada kemungkinan ormas-ormas sudah lama tidak dapat jatah lagi. Bingung deh melihat mereka.

Program yang sudah bagus dikaji ulang. Ide yang sudah bagus malah dirusak dan diotak-atik. Seharusnya masyarakatnya yang harus dilatih dan diingatkan agar terbiasa dengan sistem parkir meter ini, bukannya sistemnya yang dipaksa mengakomodasi kebiasaan masyarakat. Toh sudah terbukti parkir meter mencegah kebocoran uang yang jumlahnya sangat fantastis.

Yang tidak bisa dimengerti adalah tidak sesuainya budaya orang Indonesia dengan parkir meter seperti komentar Sandiaga. Budaya apa nih? Budaya harus tergantung pada juru parkir? Atau malah tidak sesuai dengan budaya ormas-ormas yang tidak dapat jatah lagi seperti kata Ahok?

Sepertinya kearifan lokal lebih baik diganti dengan kebocoran lokal. Yang benar itu budaya-budaya tidak jelas harus dikurangi dan diganti dengan lebih baik. Nah, tolong bantu saya jawab kearifan lokal dalam perparkiran itu seperti apa penjelasannya? Jujur saya bingung.

Bagaimana menurut Anda?

1811total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *