Sodorkan Proposal Hoaks Rp 70 Juta, Beginilah Cara Saracen Bekerja

Direktorat Siber Bareskrim Polri terus mengembangkan penyidikan terhadap sindikat Saracen yang berbisnis hoaks dan ujaran kebencian di media sosial. Polisi memastikan sindikat yang dipimpin JAS (32) itu dikelola secara profesional untuk mendatangkan uang.

Kepala Bagian Mitra Divisi Humas Polri Kombes Awi Setiyono mengungkapkan, Saracen bekerja atas dasar pesanan. Bahkan, JAS mengajukan proposal ke calon klien.

Dalam proposal itu Saracen mengajukan permintaan dana Rp 70 juta. Rincian penggunaan dananya adalah Rp 15 juta untuk pembuatan website, Rp 45 juta untuk menggerakkan 15 buzzer di medsos, serta Rp 10 juta untuk fee bagi JAS.

Bahkan, JAS juga mengajukan proposal dana di luar Rp 72 juta. “Penyidik menemukan ada satu proposal. Yang terakhir ada cost untuk wartawan,” tutur Awi di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (24/8).

Setelah proposal itu disetujui, Saracen akan menyiapkan materi bernuansa hate speech. Bahan itu akan ditampung ke dalam satu grup media sosial.

Materinya ada yang berupa meme. Selanjutnya, JAS sebagai ketua grup Saracen bertugas konten provokatif yang mengandung isu SARA.

“Setelah bahan itu matang, ketua Saracen beserta anggota akan segera memainkan perannya masing-masing. Dengan tujuan untuk membuat materi kebencian, seperti meme menjadi viral di media sosial,” ujar Awi.

Karena itu penyidik juga menemukan banyak SIM card yang diduga untuk membuat akun-akun palsu dan berkomunikasi sesama anggota Saracen. “Kami temukan SIM card yang banyak, 50 lebih,” ujar Awi.

 

164total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *