Rokok Nipah, Bisnis Rokok yang Mendunia dari Palembang

Sejak pukul 07.00 WIB terlihat hampir seluruh halaman rumah warga di Jalan Faqih Usman Lorong Prajurit Nangyu RT 4 Kelurahan 3 Ulu Palembang, Sumatera Selatan dipenuhi jemuran daun nipah.

Baik anak-anak ataupun orang tua mereka sibuk mengupas daun nipah yang dipisahkan dari lidi. Jika di perkampungan, daun nipah biasanya sering digunakan sebagai atap rumah mau pun dinding yang terbuat dari bambu.

Berbeda yang terlihat dikampung ini, sejak 300 tahun lalu secara turun temurun warga di Lorong Prajurit Nangyu terkenal sebagai pembuat rokok pucuk dari daun nipah yang memasarkannya ke pelosok Sumatera Selatan.

Bahkan kini rokok nipah buatan tangan itu telah mampu bersaing ke Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Satu kapal tongkang yang membawa puluhan ton daun nipah selalu dikirim ke lorong Prajurit Nangyu dari Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan setiap satu pekan.

Proses panjang

Di Banyuasin, daun ini tumbuh dengan liarnya di areal lahan gambut. Warga tak akan kesulitan untuk mendapatkan daun tersebut.

Seluruh daun nipah yang diturunkan dari pasar Baba Buncit kawasan 4 Ulu, langsung dibeli warga untuk dijadikan rokok pucuk. Tetapi daun itu tidak dapat langsung dijadikan rokok.

Tahapan proses panjang harus dilakukan sebelum rokok pucuk dapat dikonsumsi. Daun nipah yang basah, nantinya akan dikupas terlebih dahulu dan dipisahkan dari lidi daun.

Setelah itu, daun nipah akan dikeringkan dibawah terik matahari. Jika cuaca panas, proses penjemuran bisa berlangsung empat hari. Namun jika cuaca mendung, penjemuran daun nipah bisa memakan waktu satu pekan.

Harga daun nipah basah dalam satu ikat, dijual pengepul seharga Rp5 ribu. Ada juga warga yang membeli daun nipah basah untuk dikeringkan dan kembali dijual seharga Rp15 ribu untuk satu ikat.

Perajin rokok pucuk sering memilih untuk langsung membeli daun nipah kering dari warga sekitar. Selain mengurangi ongkos peracikan, proses pembuatan rokok pucuk bisa lebih berlangsung cepat dari pada membeli daun nipah basah.

Daun nipah tak hanya dibuat rokok pucuk, tetapi lidi daun nipah juga dianyam warga untuk dijadikan piring dan  keranjang untuk dijual kepasar.

Kesuksesan Siti 

Siti Hawa (59), salah seorang perajin rokok pucuk bercerita, sejak umur 10 tahun dia belajar cara pembuatan rokok pucuk dari Abdul Manan yang tak lain adalah ayahnya sendiri.

Siti muda kala itu, sering membantu sang ayah untuk mengemas rokok pucuk untuk dijual ke Kabupaten Prabumulih, Baturaja, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI) dan beberapa kabupaten lainnya di Sumatera Selatan.

Ketika berkeluarga dan menikah dengan Hamim Abdullah, Siti hanya menjadi ibu rumah tangga dengan mengasuh tiga anak perempuannya. Pekerjaan suami yang hanya tukang kayu, membuat Siti memutar otak untuk membantu Hamim.

Pada tahun 2010, Siti secara diam-diam bekerja dengan tetangganya dengan mengambil upah mengupas daun nipah. Kala itu ibu tiga orang ini hanya diupah Rp 40 ribu per hari. Uang hasil mengupas, dikumpulkan Siti untuk membeli 25 ikat daun nipah kering.

“Tanpa sepengetahuan suami, saya beli sendiri 25 ikat daun nipah. Lalu saya buat rokok pucuk. Habis bekerja saya langsung kerjakan sendiri di rumah. Saat suami pulang langsung saya bersihkan. Jadi suami tidak tahu kalau saya jualan rokok pucuk,” kata Siti mengawali perbincangan dengan VIVA, Jumat, 29 Desember 2017.

Rokok pucuk racikan Siti pun dipasarkannya sendiri ke Kabupaten Prabumulih. Sejak pukul 05.00 WIB, wanita yang kini berusia 59 tahun itu pun berangkat dari rumah menuju Prabumulih dengan menggunakan travel.

Jarak tempuh selama empat jam perjalanan dari Palembang, dilalui Siti hingga menuju ke pasar mingguan (kalangan) dengan membawa 20 ikat rokok pucuk.

“Di kalangan (pasar), satu ikat rokok pucuk saya jual Rp2.000. Waktu itu saya bawa sekitar 50 ikat rokok pucuk. Alhamdulilah habis terjual,” ujar Siti.

Tiga bulan lamanya Siti merahasiakan pekerjaan tersebut dari Hamim. Hingga dia memiliki pelanggan tetap di Prabumulih, akhirnya dia pun bercerita kepada suaminya.

Hamim begitu terkejut, ketika mendengar cerita dari sang istri, jika selama ini telah menjual rokok di luar Sumsel. “Sampai akhirnya suami setuju dan usaha ini tetap jalan,” jelasnya.

Siti meminta Hamim untuk berhenti bekerja dan fokus dalam bisnis rokok pucuk. Selain gaji yang tak menentu sebagai tukang kayu, penghasilan rokok pucuk lebih menjanjikan pada masa itu.

“Kami bagi tugas, bapak cari pelanggan ke di Palembang dan daerah-daerah lain saya sama anak-anak membuat rokok di rumah,” kenangnya.

Usaha Siti dan suami akhirnya berbuah manis, hampir di-17 kabupaten kota di Sumatera Selatan menjadi pelanggan tetap rokok pucuk produksi rumahan miliknya.

Siti akhirnya ,merekrut seluruh keluarganya untuk bekerja sama untuk membuat rokok pucuk dikarenakan permintaan saat itu sangatlah banyak.

Berawal dari Thailand

Misi Siti untuk anaknya agar mengenyam pendidikan tinggi akhirnya bisa tercapai dari usaha rokok tersebut. Noviasari, putri kedua Siti yang sedang kuliah jurusan ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Palembang mencoba membantu sang ibu berdagang dengan cara memasang iklan di salah satu portal media secara gratis.

Dua pekan dari iklan di pasang, seorang pengusaha asal Thailand menghubungi Hamim. Karena tak mengerti bahasa inggris, Hamim mengira jika nomor tersebut salah sambung dan diapun mematikan sambungan tersebut.

“Sampai tiga kali menelpon, akhirnya anak saya yang angkat. Bapaknya kira salah sambung karena ngomong bahasa Inggris. Setelah anak saya yang mengangkat, baru diketahui kalau itu pengusaha asal Thailand, ” ucapnya

Satu pekan dari telepon itu, pengusaha asal Thailand tersebut datang ke Palembang untuk memulai kerjasama. Permintaan Thailand sangatlah tinggi. Dimana mereka minta dikirimkan sebanyak 10 ton rokok pucuk dalam satu bulan.

Hal itu jelas tak mampu di penuhi Siti dan Hamim, sebab kondisi cuaca sangatlah penting menunggu pengeringan daun nipah untuk membuat rokok pucuk.

“Akhirnya disepakati satu bulan kami mengirim 2,5 ton rokok pucuk ke Thailand sampai sekarang masih terus berlanjut,” katanya.

Rokok pucuk ekspor Thailand dan negara lainnya dengan pengiriman lokal ternyata memiliki ukuran berbeda. Untuk ekspor ukuran rokok ditentukan hanya memiliki 9 sentimeter.

Sementara, untuk pengiriman lokal memiliki panjang 12 sampai 14 sentimeter. bukan itu saja, selain pemotongan rokok yang terbilang kecil, daun nipah yang digunakan juga harus lebih lebar.

“Biasanya untuk ekspor rokok pucuk itu kami asap dulu satu malam memakai belerang biar awet. Kalau tidak rokoknya nanti hitam seperti berjamur. Kalau diasap bisa tahan sampai empat bulan,” ungkap Hamim, saat membungkus rokok pucuk yang siap ekspor.

Thailand ternyata ketagihan dengan rokok pucuk asal Palembang ini. Mereka kembali meminta ekspor tambahan sebanyak 10 ton rokok pucuk. Siti dan Hamim kembali memutar otak untuk memenuhi permintaan tersebut.

Dia pun akhirnya mengajak seluruh warga di tempat tinggalnya untuk bersama-sama mengirimkan rokok pucuk untuk kebutuhan ke Thailand dengan cara bagi hasil.

Tetapi, baru tiga bulan berjalan ternyata kualitas rokok yang dikirimkan dari Palembang kian menurun. Thailand memutus kerjasama mereka. Siti akhirnya vakum dalam bisnis tersebut selama tiga tahun karena tak ada permintaan luar begitu pun permintaan daerah di Sumatera Selatan juga ikut menurun.

“Saya bilang ke suami, bagaimana kalau kita sendiri kerjakan kembali. Karena ada orang yang mau ambil untung besar dengan menurunkan kualitas. Akhirnya suami saya setuju dan berangkat ke Jakarta bersama anak saya untuk menemui pengusaha dari Thailand. Kebetulan dia lagi di Jakarta,” tambah Siti.

Pengusaha asal Thailand itu sepakat dan kerjasama kembali terjalin dengan konsekuensi Siti hanya sanggup mengirimkan 2,5 ton rokok pucuk. Dikarenakan tidak lagi bekerjasama dengan tetangganya.

“Alhamdulilah sampai sekarang terjalin, barulah konsumen dari Malaysia dan Singapura masuk mereka juga minta pengiriman. Akhirnya seluruh keluarga yang saya percaya ikut membantu agar menjaga kualitas. Sehingga semuanya bisa dikirim,” ungkap dia.

Bisnis Menjanjikan

Saat ini, bisnis Siti mendapatkan untung yang sangat menggiurkan. Dalam satu bulan setidaknya Siti bisa mengantongi untung bersih paling kecil Rp30 juta.

Itu belum lagi ditotal bersama hasil pengiriman lokal di Provinsi Sumsel. Rumah kayu yang dulunya menjadi tempat tinggal Siti kini dijadikan gudang produksi. Dia pun membangun rumah permanen yang berada persis ditempat pembuatan rokok pucuk.

“Anak saya bisa kuliah sampai selesai dengan bisnis ini. Kami sangat bersyukur,” katanya.

Rokok pucuk di Sumatera Selatan memang masih menjadi idola para pria yang berusia senja. Narto (40) salah satu warga Ogan Ilir mengaku, khas rasa aroma daun nipah menjadi kenikmatan sendiri ketika menikmati rokok pucuk bersama kopi.

“Selain itu, kenikmatannya kita meracik sendiri, dari daun nipah ini kita sendiri yang isi tembakau, cengkeh. Jadi sangat nikmat sejak muda saya selalu merokok pucuk ini,” ujarnya.

Narto mengaku membeli rokok pucuk seharga Rp2.000 di pasar mingguan dekat kampungnya. Untuk satu ikat rokok pucuk, dapat bertahan selama dua pekan. Karena kemasannya begitu banyak.

“Satu ikat itu isinya 50 batang rokok pucuk, tembakau bungkusan juga murah. Memang rasanya berbeda dengan rokok kretek. Tetapi orang-orang sini (Ogan Ilir) lebih banyak memakai rokok pucuk. Sebab lebih murah dari rokok biasa,” ungkapnya.

Sementara Hanin (50) salah satu pengecer yang membeli rokok pucuk dari Siti mengatakan, dia membeli satu toros rokok pucuk sebesar Rp 100 ribu. Di dalam satu toros itu, berisi Sembilan gendang.

“Satu gendangnya berisi 25 ikat. Saya jual per ikat Rp2.000 dipasar,” ucap Hanin.

Keuntungan Hanin sendiri cukup menggiurkan, dimana modalnya bisa kembali dua kali lipat jika satu toros tersebut terjual habis di pasar mingguan. “Masih banyak yang beli. Saya biasanya ambil setiap satu minggu sekali satu toros,” katanya.

Nipah untuk Semua
Daun pohon nipah ternyata memiliki banyak kegunaan yang dapat menghasilkan pundi rupiah bila dimanfaatkan dengan baik. Selain rokok pucuk, lidi daun nipah digunakan sebagai kerajinan yang dibuat menjadi bakul, piring dan alas cangkir.

Di kawasan Lorong Prajurit Nangyu, hampir jarang terlihat warga yang menganggur. Mereka sibuk menganyam lidi nipah untuk dijadikan bakul.

Hampir rata-rata anak kecil yang duduk di bangku Sekolah Dasar hingga Atas selepas belajar ikut menganyam lidi nipah untuk mendapatkan uang jajan.

Seperti halnya Susilawati, jemari gadis berusia 14 tahun ini sangat cekatan menganyam lidi nipah untuk dijadikan bakul. Sejak umur 10 tahun, dia telah belajar dari sang ibu untuk membuat bakul.

Dalam satu Hari, Susilawati mampu mengerjakan 20 bakul yang siap dipasarkan. “Satunya diupah Rp 700 rupiah. Lumayan kak buat jajan,” katanya.

Tak hanya Susilawati, teman sebayanya pun jarang terlihat bermain seusai pulang sekolah. Mereka seluruhnya mengambil upahan untuk menganyam lidi nipah.

Sebelum dianyam, lidi lebih dulu dibersihkan dari daun dan dibuat halus dan barulah dibuat keranjang atau pun piring.

Jadi, jangan terkejut jika melihat seluruh anak-anak di kawasan ini sangat mahir. Sebab, sejak kecil mereka sudah banyak belajar untuk membuat kerajinan dari lidi nipah.

186total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *