Rehabilitasi Drainase Kurangi Risiko Banjir di Kompleks Istana Kepresidenan

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah menyelesaikan rehabilitasi drainase di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta untuk meminimalisasi risiko kembali terulangnya banjir di lokasi itu.

Nantinya, air hujan yang jatuh di kompleks istana tidak akan langsung dibuang ke Sungai Ciliwung Lama yang berada di sampingnya, tetapi ditampung di dua penampungan (modular tank) dengan kapasitas 57 m3 dan 292m3.

Pada saat debit sungai kembali normal, air akan dibuang ke sungai atau dimanfaatkan lagi untuk keperluan lain misalnya menyiram kebun Istana Kepresidenan.

“Mudah-mudahan setelah pekerjaan drainase ini selesai, kawasan Istana Jakarta terbebas dari banjir,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saat melakukan peninjauan pekerjaan drainase tersebut di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

Rehabilitasi drainase dilakukan dengan perbaikan saluran utama menggunakan box culvert sepanjang 1.535 meter, pemasangan u ditch sepanjang 2.172 meter, pembuatan area pemanen hujan, dan pengadaan pompa dengan kemampuan total 750 liter/detik. Pekerjaan rehabilitasi dibagi dua yakni wilayah barat dan wilayah timur.

Untuk wilayah barat dimulai dari gedung eks binagraha, perkantoran kepala sekretarian presiden, depan istana negara sampai dengan masjid. “Semua pemasangan drainase sudah selesai dan akan dilakukan pengaspalan,” katannya.

Untuk wilayah timur, mulai dari biro umum, kantor presiden sampai istana merdeka, sebagian besar sudah terpasang. Dari rencana pemasangan 62 titik manhole, tinggal 10 titik dalam dalam pengerjaan. “Mudah-mudahan dalam dua atau tiga hari bisa selesai dan setelah itu dilakukan pengaspalan,” jelas Menteri Basuki.

Rehabilitasi ditargetkan selesai pada 31 Desember dan dilanjutkan dengan masa pemeliharaan. Basuki menambahkan, pada 11 Januari 2018, Presiden Joko Widodo akan menerima tamu negara sehingga perapian dan pembersihan pekerjaan perlu segera diselesaikan.

“Harus tuntas sebelum tanggal tersebut karena akan ada banyak tamu negara yang datang. Kami akan pastikan jalan di sekitar Istana Merdeka juga akan mulus kembali,” ujarnya

Dalam mengerjakan proyek pemasangan drainase di Istana Merdeka, Basuki mengaku tidak ada teknologi khusus yang digunakan. Hanya saja, pekerjaan harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kegiatan di istana bahkan baru bisa dilakukan setelah Jokowi pulang. Selain itu, banyaknya tamu negara yang datang ke istana membuat pekerjaan proyek tidak bisa dilakukan selama 24 jam.

“Namun, sekarang sejak Presiden Jokowi berkantor sebulan di Istana Bogor, pekerjaan dilakukan 24 jam. Kabel utilitas yang berada di dalam tanah ditata lagi,” kata Basuki.

Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Sri Hartoyo mengatakan, sampai dengan minggu ke-24 atau 18 Desember-25 Desember 2017 progres pekerjaan sudah mencapai 93 persen. “Untuk mengantisipasi lapangan yang becek, maka kami akan menyediakan mobil semprot air untuk membersihkan lumpur atau tanah yang berceceran sehingga tetap terlihat bersih. Beberapa gundukan tanah di seksi timur juga akan segera diangkut dan dibersihkan besok,” katanya.

Sebagai kontraktor adalah PT Brantas Abipraya (Persero) dengan nilai kontrak Rp 39 miliar dan PT Balqis Mandiri Konsultan, sebagai konsultan pengawas pekerjaan dengan nilai kontrak Rp 855 juta.

Saat melakukan pengecekan lapangan, selain Basuki dan Dirjen Cipta Karya Sri Hartoyo, juga ikut mendampingi Direktur PPLP Cipta Karya Dodi Krispratmadi, Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR Endra S Atmawidjaja, Senior Manajer PT Brantas Abipraya Dwi Kridayani, dan PPK PLP Jabodetabek Albert Reinaldo.

94total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *