Rayakan Ultah ke-80, Ahli Pangan Ini Ajak Kolega Jahit Bendera Merah Putih

Guru besar ilmu pangan yang juga dikenal sebagai Bapak Teknologi Pangan Indonesia, FG Winarno, merayakan ulang tahun ke-80 pada Kamis (15/2) di Kampus Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta. Perayaan ultah tersebut cukup istimewa karena dipadu dengan bedah buku serta upacara menjahit bendera Merah Putih.

“Acara ini cukup sakral dan selalu terkenang dalam hati saya tentang nasionalisme Indonesia. Untuk itu dalam perayaan ulang tahun ke-80 ini saya ingin mengajak pentingnya memaknai Sang Saka Merah Putih tersebut,” demikian pengantar Winarno sebelum acara menjahit dilakukan.

Selain berkarya sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB), Winarno juga dikenal sangat aktif memberikan kontribusi dalam dunia teknologi pangan di Indonesia dan internasional. Salah satu prestasi yang patut diapresiasi ketika menjadi Presiden Codex Alimentarius Commission (CAC) pada tahun 1991-1995. CAC merupakan badan di bawah PBB untuk melindungi kesehatan konsumen dan menjamin perdagangan pangan yang adil. Winarno menjadi orang pertama dari Asia dan Afrika yang menjadi pimpinan di lembaga tersebut.

Dalam kesempatan Ultah, Winarno mengajak hampir seluruh kerabat yang terdiri dari tokoh dan pakar dalam bidang pangan, cendekiawan, dan akademisi hingga pelaku usaha untuk bersama-sama menjahit kain merah dan putih. Bahkan, nuansa perayaan dan ruangan pun didesain dengan warna dasar merah dan putih.

Sebelum menjahit dilakukan, Winarno mengisahkan bagaimana dirinya begitu terkesan akan makna dan semangat keIndonesiaan dari bendera Merah Putih tersebut. Hal itu berawal dari guru sekolahnya, Ibu Sri, yang meminta para muridnya untuk menjahit secarik kain merah dan putih. Hasil jahitan pada 16 Agustus 1945 itulah yang disematkan pada dada kiri para siswa kelas 4 setingkat Sekolah Dasar (SD) di Klaten, Jawa Tengah.

“Anak-anak, yang ada di dada kirimu bukan sekadar kain merah putih, itulah Sang Saka Merah Putih, satu-satu-satunya bendera Republik Indonesia,” ucap Win mengutip pernyataan gurunya yang disambut tepuk tangan ratusan hadirin kemarin malam.

Bagi Winarno, meski dirinya baru berusia 10 tahun, namun semangat yang ditanamkan gurunya itu tertanam hingga saat ini. Perlahan-lahan dia pun menyadari bahwa seruan kemerdekaan tersebut kemudian bermakna membangun nasionalisme dan kemandirian bangsa. “Hal ini bisa diimplementasikan secara kontekstual dalam bidang pangan maupun bidang-bidang lainnya,” katanya.

Wida Winarno, salah satu putri FG Winarno, mengatakan makna penyematan lencana Merah Putih itu selalu ditanamkan oleh ayahnya sejak dini. Hal ini untuk menanamkan rasa nasionalisme bagi anak-anak dan keluarganya serta senantiasa terus mendorong kedaulatan Indonesia. “Kami sering diceritakan tentang peristiwa itu. Kalau mau dihitung mungkin lebih dari 1000 kali kisah yang dialami ketika Bapak (FG Winarno) mengenakan lencana tersebut,” ujarnya.

Prosesi menjahit didahului dengan penyerahan seperangkat benang dan jarum secara simbolis yang diwakili dua bekas muridnya yakni Prof Purwiyatno Hariyadi dan Prof Aman Wirakartakusumah. Purwiyatno adalah guru besar IPB yang sekarang menjadi Wakil Presiden Codex Alimentarius Commission (CAC), sedangkan Aman juga guru besar teknologi pangan yang pernah menjadi Rektor IPB.

Suasana selama penjahitan terasa penuh hikmat dengan nuansa historis yang begitu kental. Usai dijahit, Sang Saka Merah Putih dikibarkan dalam ruangan perayaan Ultah tersebut. Winarno yang juga mantan Rektor Unika Atmajaya ini dikenal sangat produktif menuangkan pemikirannya tentang pangan lokal, salah satunya melalui buku.

160total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *