Presiden: Terserah yang Menilai, Tugas Saya Bekerja Keras

Menurut hasil riset Centre for Strategic and International Studies (CSIS) masyarakat puas terhadap kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Menanggapi hal tersebut, Presiden mengatakan, pemerintah memang berusaha senantiasa bekerja keras untuk kepentingan rakyat.

“Tugas kita adalah bekerja keras. Saya beserta seluruh kabinet akan terus bekerja keras karena memang tugas kita bekerja,” katanya di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (14/9).

Sebelum CSIS, lembaga survei internasional Gallup juga merilis hasil serupa. Indonesia menempati peringkat pertama terkait tingkat kepercayaan masyarakat atas pemerintah.

Presiden menyerahkan sepenuhnya penilaian kepada masyarakat.

“Tentang penilaian baik atau tidak baik kita serahkan ke masyarakat, tapi bahwa hasil yang telah ditunjukkan dari survei itu, harus memacu kita untuk bekerja lebih keras lagi,” tegasnya.

Survei CSIS dilaksanakan pada 23-30 Agustus 2017 dengan jumlah 1.000 responden yang dipilih secara acak dari 34 provinsi di Indonesia. Responden berlatar belakang masyarakat yang mempunyai hak memilih.

Margin of error survei sebesar 3,1 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Sebanyak 68,3 persen masyarakat puas terhadap kinerja pemerintah pada 2017. Sedangkan yang merasa belum puas sekitar 31,5 persen.

Ulama Jateng Minta Tambah
Ulama-ulama dari Jawa Tengah (Jateng) diundang Presiden Jokowi ke Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/9). Mereka menyatakan dukungannya kepada Jokowi untuk maju pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng, Ahmad Daroji mengungkapkan, Presiden memang tidak meminta ulama kembali mendukungnya. “Tidak ada (permintaan dukungan secara langsung). Masyarakat sudah tahu lah bagaimana memilih presidennya. Merasa itu bagus, ya tentu saja bisa diteruskan,” kata Daroji.

Sementara itu, pimpinan pondok pesantren (ponpes) Hasyim Asy’ari Bangsri, Jepara, Jateng Nuruddin Amin mengatakan, Presiden sama sekali tidak menyinggung Pilpres 2019. Pembicaraan itu justru dilontarkan ulama. “Kiai mengatakan, kalau imami salat maghrib sudah bagus disuruh melanjutkan imami salat isya,” kata Nuruddin.

Sedangkan pemimpin ponpes Pancasila Sakti, Tegal, Jateng, Syarifudin menambahkan, Presiden sempat menjawab singkat menanggapi permintaan ulama mengenai pilpres. “Presiden mengatakan, ‘ya kalau masyarakat para tokoh ulama mengharapkan, kenapa tidak? Yang penting kan asas manfaat nya seperti itu’,” ungkapnya.

Mengawali pertemuan, Presiden berbicara mengenai tahun politik pada 2018 atau menjelang Pemilu 2019 yang kian dekat. “Kami mohon bantuan kepada seluruh pimpinan pondok pesantren, para ulama, kiai, pimpinan ormas, semuanya, agar tahun politik baik tahun depan maupun tahun depannya lagi itu kita jaga bersama,” kata Presiden.

Presiden berharap agar situasi di daerah, kerukunan antarmasyarakat, antarumat, benar-benar terjaga. Artinya, jangan sampai ada usaha memecah belah, termasuk mengadu domba rakyat. “Jangan sampai karena perhelatan politik, antartetangga nantinya tidak rukun, apalagi antarumat menjadi tidak kelihatan persaudaraannya kembali,” ucap Presiden.

154total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *