Politikus Golkar Akui Suap Ketua Pengadilan Tinggi Sulut

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Golkar, Aditya Anugrah Moha mengakui memberikan uang sebesar SGD 100.000 kepada Ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara (Sulut), Sudiwardono. Uang suap itu berasal dari kantong pribadinya.

“Ya uang saya,” kata Aditya usai diperiksa penyidik di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (12/10) malam.

Uang suap tersebut diberikan Aditya kepada Sudiwardono agar sang ibu yang juga mantan Bupati Bolaang Mongondow Marlina Moha Siahaan lolos dari kasus dugaan korupsi Tunjangan Penghasilan Aparatur Pemerintah Desa (TPAD) Kabupaten Bolaang Mongondow yang menjeratnya sebagai terdakwa.

Aditya mengklaim suap ini dilakukannya sebagai wujud bakti pada sang ibu. “Prinsip utama yang telah sampaikan bahwa ini saya lakukan semata-mata demi nama seorang ibu,” katanya.

Marlina diketahui divonis bersalah dan dihukum lima tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bengkulu. Namun, Marlina mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Bengkulu.

Aditya menyuap Sudiwardono yang juga Ketua Majelis Hakim banding Marlina agar sang ibu divonis bebas dan tak ditahan. Aditya mengaku bersalah dan menyesal telah menyuap Sudiwardono.

“Secara pribadi tentu saya harus menyatakan secara ini saya menyesal harus terjadi. Tetapi untuk memperjuangkan nama seorang ibu saya pikir mas juga jika dalam posisi saya akan sepakat untuk melakukan yang terbaik. Di mana lagi tempat untuk berbakti kalau tidak dari seorang ibu. Kita melakukan berupaya menolong seorang ibu,” katanya.

Namun, Aditya terkesan pasang badan saat disinggung keterlibatan hakim Pengadilan Tinggi Sulut lainnya dalam kasus ini. Aditya berdalih hal itu sudah masuk dalam materi penyidikan yang dilakukan KPK. “Nanti, itu sudah konten (materi kasus),” katanya.

Sejauh ini KPK baru menetapkan Aditya dan Sudiwardono sebagai tersangka suap. Sudiwardono diduga menerima suap dari Aditya sebesar SGD 100.000 agar Marliana bebas dari jeratan kasus korupsi. Sebanyak SGD 20.000 ditujukan agar Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara tak menahan Marlina dan SGD 80.000 untuk memengaruhi putusan banding kasus yang menjeratnya.

Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Sudiwardono yang menjadi tersangka penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf c atau Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b, atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sementara Aditya yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap dijerat Pasal 6 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

153total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *