Polisi Tewas Ditembak Pelaku Curanmor, Kompolnas: Dalam Penggerebekan Petugas Harus Pakai Rompi Antipeluru

Anggota Polsek Jelutung, Bripka Fajar Panjaitan, tertembak saat melakukan penggerebekan di sebuah rumah yang berlokasi di RT 04 Desa Pematang Gajah, yang diduga merupakan lokasi persembunyian pelaku curanmor.

Terkait hal itu, Komisioner Kompolnas Bekto Suprapto mengatakan, kejadian itu merupakan risiko pekerjaan polisi dalam menegakkan hukum. Makanya ada aturan untuk polisi, dalam situasi apa polisi dapat menembak tanpa memberikan peringatan maupun kapan harus memberikan peringatan.

“Idealnya polisi dalam operasi penggerebekan memakai rompi anti peluru,” ujar Bekto kepada¬†Okezone, Jumat (16/2/2018).

Selain itu, lanjut dia, yang menjadi masalah dari peristiwa tersebut adalah beredarnya senjata api secara gelap dan penggunaannya oleh pelaku curanmor.

“Polisi harus segera menangkap pelaku dan mengungkap jaringannya,” tuturnya.

Ia menjelaskan tentang senjata api ilegal yang marak dipakai oleh para curanmor, di mana senjata api ada dua, jenis, yaitu buatan pabrik dan buatan rakitan (home industry). Seharusnya polisi intelijen mengetahui masalah senjata rakitan ini.

“Senjata buatan pabrik polisi juga memiliki data yang legal, seharusnya ditingkatkan cara kontrolnya, Kalau ditanyakan bagaimana cara mengatasinya, ya dengan penegakan hukum. Sering-seringlah dilakukan operasi senjata api dan bahan peledaknya,” pungkasnya.

Untuk diketahui, kepolisian telah berhasil menangkap pelaku penembakan Bripka Fajar Junjungan Panjaitan. Pelaku yang ditangkap berinisial R di hutan tak jauh dari lokasi penggerebekan di RT 4 Desa Pematang Gajah, Kecamatan Jambi Luar Kot (Jaluko), Kabupaten Muarojambi.

121total visits,2visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *