Pengungsi Mulai Terserang Penyakit Kulit

Sejumlah pengungsi di Karangasem mulai menderita penyakit kulit.

Satu diantaranya I Wayan Warni, pengungsi Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem.

Ditemui di Posko Pengungsian Desa Sibetan, Karangasem, Bali, Warni mengaku gatal sejak tiga hari yang lalu yang  kemungkinan disebabkan erupsi gunung agung.

Setelah erupsi, sekitar Jungutan terjadi hujan debu vulkanik, hampir sebagian warga terkena abu.

“Mungkin abu vulkanik kemarin yang menyebabkan gatal, dan baru dirasakan sekarang,”jelasnya.

Warni sapaannya mengaku, penyakit kulit mulai merabah ke posko pengungsian, seperti pengungsin Desa Sibetan, Bebandem, Selat, dan Macang.

Ada pengungsi yang mengalami gatal, panu, dan bintik – bintik.

Hampir sebagian pengungsi telah memeriksakan diri ke posko.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Karangasem, I Gusti Bagus Putra Pertama pun membenarkan hal tersebut.

Jumlah pengungsi yang menderita penyakit kulit terus mengalami peningkatan tiap hari.

Hingga kemarin, hampir 5.150 orang pengungsi menderita penyakit kulit.

Perhari, pengungsi yang mengeluhkan penyakit kulit hampir 100 orang.

Paling banyak menyerang anak – anak. Disusul orang tua, dewasa. Tersebar di seluruh pengungsian di Karangasem.

“Penyakit dermatitis (kulit) meningkat drastis pasca erupsi 21 Nopember, setelah hujan abu,” ujarnya, Rabu (6/12/2017).

Banyaknya pengungsi yang mnderita penyakit kulit karena cuaca di posko pengungsian terus berubah.

Kemungkinan ada pengungsi yang alergi dengan diingin saat hujan.

Apalagi, sebagian pengungsi tidur di bawah beralas terpal. Sangat rawan terserang penyakit kulit.

Kemungkinan juga pengungsi tak cocok dengan air.

Mereka kadang mandi di Sungai, dan di WC umum secara bergiliran.

31total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *