Pengamat Ingatkan Gerindra Tak Percaya Diri Berlebihan di 2019

Optimisme Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bahwa Prabowo Subianto bakal memenangkan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (pilpres) 2019 dinilai wajar. Begitu juga setiap tim dan kandidat lain tentu mempunyai keyakinan yang sama.

“Kepercayaan diri sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Tetapi percaya diri yang berlebihan bisa berakibat fatal,” kata Direktur Strategi Indo Survei dan Strategi, Karyono Wibowo, Selasa (12/9).

Sekadar diketahui, Gerindra menilai bahwa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mempunyai banyak janji yang belum terealisasi. Hal ini, menurut Karyono, merupakan pernyataan subjektif yang datang dari calon penantang petahana.

Dia mengingatkan bahwa Gerindra semestinya memahami reaksi publik. Sebab, tidak seluruhnya opini dari Gerindra dapat diterima oleh seluruh masyarakat.

“Hasil survei menunjukkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Jokowi masih di atas 60 persen dan saat ini mengalami tren kenaikan,” ujarnya.

Peta Kekuatan
Terkait soal peta kekuatan elektabilitas calon presiden (capres) 2019, dia mengungkapkan, dua nama memang mendominasi yakni Jokowi dan Prabowo. Meskipun, hampir semua prediksi survei jika dua nama tersebut bertarung kembali, Jokowi masih tetap lebih unggul.

Namun yang harus diantisipasi, menurutnya, jika nanti hanya ada dua kandidat atau head to head antara Jokowi dan Prabowo maka pertarungan pilpres bakal berlangsung sangat panas.

Persaingannya dinilai lebih keras dibanding Pilpres 2014 karena keduanya pernah bertarung head to head pada 2014.

“Maka ibarat pertarungan tinju, Pilpres 2019 bagaikan pertarungan antara dua orang petinju yang menjadi musuh bebuyutan,” katanya.

Akan tetapi, dia menuturkan, perlu diantisipasi dampak dari kerasnya pertarungan tersebut di tengah masyarakat.

“Yang perlu dilakukan adalah mencegah kompetisi elektoral berubah menjadi konflik di masyarakat,” ujarnya.

Dia menyatakan, semua pihak yang berkompetisi dalam kontestasi harus bisa bersaing secara elegan, menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, tidak boleh keluar dari rule of the game (aturan main) yaitu Undang-Undang Nomor 7/2017 tentang Pemilu.

“Mereka harus memahami dan menyadari bahwa kontestasi elektoral dalam sistem demokrasi bukan sekadar kalah menang. Energi yang dikeluarkan seluruhnya harus diletakkan dalam kerangka menjaga persatuan dan untuk kemajuan bangsa dan negara,” tandas Peneliti Senior Indonesia Publik Institut ini.

104total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *