Pemilihan Rektor IPB Perlu Ditangguhkan

Selain mendapat sorotan, proses pemilihan rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) semakin banyak dikritisi. Dewan Pembina (Debina) Himpunan Alumni (HA) IPB pun sudah menyurati Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir agar seleksi calon rektor tersebut ditunda.

Pekan lalu, dalam suratnya kepada Menristekdikti, Debina HA IPB mendesak agar proses pemilihan rektor IPB ditinjau ulang. Hal itu perlu dilakukan untuk memastikan proses yang sedang berlangsung mengikuti tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). “Kami meminta kepada Menristekdikti agar proses pemilihan rektor IPB ditangguhkan,” demikian bunyi surat yang ditandatangani Ketua Debina HA IPB Nurcahyo Adi.

Menanggapi surat tertanggal 2 Oktober 2017 tersebut, beberapa anggota Debina juga dikabarkan sudah menemui Menristekdikti. Namun, belum diketahui hasil pembicaraan dengan Menteri Mohamad Nasir. “Menteri menaruh perhatian khusus atas proses yang sedang berlangsung di IPB. Tim kementerian sudah memantau dan mengkajinya,” ujar sumber Beritasatu dari lingkaran Menristekdikti, Minggu (8/10).

Sebelum surat dilayangkan kepada Menristekdikti, pada Jumat (29/9) lalu, Debina HA IPB juga sudah menyurati Ketua Senat Akademik (SA) IPB terkait proses pemilihan rektor tersebut. Surat ditujukan kepada SA IPB karena prihatin atas proses seleksi dari 24 menjadi 6 bakal calon rektor (BCR) IPB. Surat itu dikeluarkan Debina HA IPB terkait metodologi dan proses pemilihan BCR.

“Kami meminta proses penentuan enam BCR itu dibuka dan kriteria serta cara penilaian atau skor nilai juga dibuka sehingga semua alumni IPB dapat menilai proses tersebut kredibel, berintegritas tinggi, dan memenuhi kaidah ilmu serta tidak diintervensi politik maupun sentimen sektarianisme,” tegas Iriana Ekasari, salah satu penandatangan surat tersebut.
Selain Nurcahyo dan Iriana, surat Debina HA IPB yang sempat dimuat di sejumlah media massa itu juga ditandatangani Aunur Rofiq, Suwidi Tono, Nurul Almy Hafild, Edhy Aruman, dan Imam Soeseno.

Kemarin, beredar surat protes yang dilayangkan salah satu alumni IPB Emmy Hafild melalui sejumlah media sosial. Selain mengkritisi proses pemilihan rektor IPB, Emmy juga menegaskan bahwa Debina HA IPB bisa jadi satu-satunya dewan pembina alumni di Indonesia yang kritis terhadap pemilihan rektor almamaternya.

“Situasi IPB extra ordinary, oleh karena itu memerlukan intervensi yang extra ordinary pula. Mudah-mudahan Senat Akademi IPB terbuka hatinya untuk mendengarkan masukan dan kritikan.” tegas aktivis lingkungan hidup yang pernah dinobatkan Majalah Time sebagai Heroes for The Planet ini.

Sementara itu, Panitia Pemilihan Rektor (PPR) IPB mengatakan SA IPB akan melakukan pemilihan tiga calon dari enam BCR pada Senin (9/10) ini. Humas PPR IPB, Prof Firdaus, pekan lalu menyebutkan pemilihan rektor IPB telah memasuki babak baru setelah menjaring 24 nama BCR dari berbagai unsur pada Juli lalu. Seleksi enam BCR telah dilakukan melalui sidang pleno Senat Akademik (SA) IPB yang berlangsung Rabu (27/9) lalu. Enam BCR tersebut terdiri dari empat guru besar dan dua doktoral. Keenam nama tersebut yakni Dr Agus Purwito, Dr Arief Satria, Prof Hermanto Siregar, Prof Luki Abdullah, Prof M Yusram Massyjaya, dan Prof Yonny Koesmaryono.

“Selanjutnya enam nama ini akan diseleksi oleh SA akademik untuk menjadi tiga calon rektor yang akan diserahkan kepada Majelis Wali Amanat (MWA) IPB yang akan memilih rektor,” katanya.

68total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *