Pembangunan LRT Disarankan Fokus di Fase I ketimbang Diperpanjang hingga Tanah Abang

Pemprov DKI disarankan untuk fokus pada pembangunan Light Rail Transit (LRT) Fase I Kelapa Gading-Velodrome, sebelum melanjutkan proyek pembangunan LRT fase II Velodrome-Dukuh Atas yang diperpanjang menjadi Velodrome-Tanah Abang karena hal tersebut perlu pengkajian yang lebih matang.

Ketua Bidang Perkeretaapian Masyarakat Transportasi indonesia (MTI), Aditya Dwi Laksana mengatakan, perpanjangan LRT Koridor I dari Dukuh Atas menuju Tanah Abang memang tidak begitu jauh. Namun, kondisi lalu lintas dan kepadatan jalan amatlah tinggi, sehingga perlu sangat disiapkan manajemen selama pelaksanaan konstruksi (management during construction) yang memadai termasuk pula dengan rekayasa lalu lintasnya untuk menghindarkan adanya kemacetan dan kesmrawutan yang makin sangat parah.

Pemprov DKI, lanjut Adit, harus menyiapkan dahulu cetak biru keterpaduan moda yang ada di kawasan Tanah Abang serta didahului dengan penataan kawasan Tanah Abang. Sebab, saat ini saja dengan adanya Stasiun dan Pasar Tanah Abang, volume pengguna jalan, baik kendaraan bermotor maupun penumpang KRL Commuter Line telah sangat padat dan semrawut.

Selain itu, perlu dimatangkan lebih dulu konsep rancangan kawasan pengembangan berbasis simpul transportasi massal (Transit Oriented Development /TOD) di kawasan Tanah Abang dengan juga mempertimbangkan adanya perpanjangan jalur LRT menuju Blok G.

Untuk itu, Adit meminta lebih baik saat ini Pemprov berfokus dulu pada optimasi LRT Kelapa Gading-Velodrome dan rencana kelanjutan perpanjangan ke Duku Atas yang tentu juga perlu upaya sangat besar.

“Untuk rencana perpanjangan lebih lanjut ke Tanah Abang tidak perlu dilakukan dengan tergesa-gesa. Matangkan dulu kajiannya terutama terkait dengan penataan dan pengembangan TOD kawasan Tanah Abang,” kata Adit saat dihubungi pada Senin, 11 Desember 2017 kemarin.

Kendati demikian, Adit mengangap positif perpanjangan LRT hingga ke Tanah Abang untuk meningkatkan sarana jaringan transportasi publik salah satu kawasan ekonomi utama di Jakarta tersebut. Sehingga selain transportasi urban sub-urban KRL Commuter Line Jabodetabek, kawasan Tanah Abang juga bisa terjangkau oleh jaringan kereta api perkotaan lainnya seperti LRT.

Wakil Ketua Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Sigit Widjiatmoko mengatakan perpanjangan LRT ke Tanah Abang sesuai dengan Fesibility Study (FS) yang sedang dikembangkan. Menurutnya, hal itu memberikan alternatif pilihan warga untuk menggunakan moda transportasi. Di mana, penumpang kereta di stasiun Tanah Abang saat ini mencapai 300.000 penumpang turun di stasiun dalam sehari.

Selain itu, lanjut Sigit, pilihan perpanjangan ke Tanah Abang juga untuk mengoptimalkan aset yang ada dari Pemrov ataupun PD Pasar Jaya yang mau dikembangkan dengan menambah jaringan transportasi LRT disana.

“Kita kan sudah sepakat ini tidak akan putus hanya sampai di Velodrome. Karena kan ini bagian dari yang awal kan ada tujuh konsep tujuh ruas LRT. Nah kita lagi evaluasi bersama Korea Rail Light Network Authority (KRNA) kan dia siap untuk dana untuk bantu kan pada PT Jakpro. Studi terhadap tujuh koridor LRT juga sedang dilaksanakan oleh mereka,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno membenarkan rencana perpanjangan LRT ke Tanah Abang dengan stasiunnya di Pasar Blok G. Ini merupakan salah satu solusi dari penataan Tanah Abang dalam jangka panjang.

Berbeda dengan rencana awal yang akan menjadikan Dukuh Atas sebagai kawasan bertemunya seluruh moda transportasi, Sandi menuturkan, Tanah Abang nantinya menjadi pusat TOD. Dimana, berbagai macam moda transportasi akan terintegrasi di Tanah Abang.

“Sekarang sudah ada stasiun kereta, kami mau tambah dengan LRT, Transjakarta dan moda transportasi yang lain,” ucapnya.

136total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *