Pelaku Tindak Ekstremisme, Berpendidikan Tinggi Berlatarbelakang Eksakta

Acara bertajuk Meredam Ekstremisme-Kekerasan dengan Buku diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) dan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), di Ke:Kini, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Senin (31/7/2017).

Diskusi sekaligus peluncuran buku ini dihadiri oleh Beka Ulung Hapsara (Manager Advokasi INFID); Hairus Salim (Ketua Yayasan LKiS); Alissa Wahid (Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian); Muhammad Isnur (Advokat YLBHI) serta Susi Ivvaty (Kompas).

 Dalam acara ini kerap kali terlontar candaan jikalau alumnus jurusan eksakta kemungkinan besar adalah ekstremis.

Hal ini dilontarkan pertama kali oleh Hairus Salim kepada Beka Ulung Hapsara.

“Kamu jurusan apa? Teknik kan? Eksakta itu, berarti ekstremis ya kamu,” ujar Hairus yang kemudian diiringi gelak tawa seluruh peserta diskusi dan peluncuran buku.

Candaan terkait ekstremisme ini merujuk kepada isi dari 3 buku yang diluncurkan oleh LKiS dan INFID.

Dalam buku tersebut ditemukan kecenderungan bahwa para pelaku ekstremisme-kekerasan adalah orang berpendidikan tinggi, yang kebanyakan adalah orang dari eksakta.

Meski begitu, tak menutup kemungkinan pelaku ekstremisme bisa berasal dari orang yang memiliki latar belakang pendidikan berbeda, bukan eksakta saja.

Berdasarkan penuturan Hairus Salim, apabila mencoba merubah pola pikir pelaku ekstremisme menjadi orang normal kembali (non-ekstremisme), pelaku yang berlatar belakang eksakta akan lebih mengalami kesulitan.

“Orang eksakta itu lebih susah dirubah pola pikirnya (apabila sudah terjun ke ekstremisme). Mentalnya ya sudah gitu, sekali sudah gitu ya nggak bisa berubah,” ujar Hairus kepada Tribunnews.com.

 Diberitakan sebelumnya, acara ini adalah acara diskusi dan peluncuran 3 buku terjemahan yang dilakukan oleh kerjasama INFID dengan LKiS, sebagai sarana peredaman ekstremisme-kekerasan.

Buku pertama yang diluncurkan adalah Pengakuan Pejuang Khilafah, ditulis oleh Ed Husain dengan judul asli The Islamist (2007).

Buku ini mengisahkan pemuda yang bergabung bersama Hizbut Tahrir dan kelompok yang terafiliasi Jemaah Islamiyah. Dimana akhirnya ia melakukan refleksi bahwa kekerasan yang dianggap benar oleh organisasi dan dirinya, tidak seharusnya dilakukan.

Buku kedua berjudul Para Perancang Jihad, ditulis oleh Diego Gambetta dan Steffen Hertog dengan judul asli Engineer of Jihad (2016). Buku ini memaparkan hasil riset dan analisa panjang mengenai mengapa dan bagaimana pelaku jihad banyak yang berasal dari kalangan terdidik.

Buku terakhir berjudul Wajah Terlarang, ditulis oleh Latifa dengan judul asli The Forbidden Face (2013). Kisah pengalaman perempuan berusia 16 tahun yang berada di bawah kekuasaan rezim Taliban menjadi fokus buku ini.

159total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *