PDI-P Tetap Usung Gus Ipul-Azwar Anas di Pilgub Jatim

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), tetap akan mengusung pasangan Bakal Calon Gubernur dan Bakal Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas, dalam pemilihan kepala daerah serentak, pada 27 Juni 2018 mendatang.

Keputusan partai tetap sama dengan sebelumnya, mengusung Gus Ipul-Mas Anas dalam Pilgub Jatim. Bahkan untuk persiapan soal pendaftaran pasangan calon ini sudah dimatangkan. Tentang tanggal pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jatim di Surabaya, akan diserahkan kepada kedua kandidat. Waktu yang disediakan KPUD tanggal 8-10 Januari mendatang.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI-P Jatim, Kusnadi di Surabaya, Jumat (5/1). Pernyataan Kusnadi ini meneruskan apa yang disampaikan Sekretaris Jendral PDI-P, Hasto Kristiyanto, di Jakarta, Jumat siang.

Menjawab pertanyaamn tentang isu foto mirip Anas bersama perempuan, yang beredar melalui pesan WhatsApp, Kusnadi mengatakan, dirinya dan partai tidak mempunya pengalaman mengenai hal itu. Bisa saja foto yang beredar itu hasil olahan, karena kita berada pada era kecanggihan teknologi.

Sebelumnya diberitakan, Gus Ipul, yang saat ini masih menjabat Wakil Gubernur Jatim, mengatakan, bahwa dirinya terkejut dengan niat Anas, yang juga Bupati Banyuwangi itu, mundur dari Pilgub Jatim 2018. Kabar itu diterima dari Anas dari pesan WhatsApp. Anas saat itu mengatakan, akan menemui Gus Ipul untuk menjelaskan beberapa isu dan alasan pengunduran dirinya.

Dalam Pilgub Jatim ini, pasangan tersebut diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang memiliki 20 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jatim dan PDI-P dengan 19 kursi. Berdasarkan perundangan yang berlaku, sebuah partai politik dapat mengusung calon sendiri, sekurang-kurangnya memiliki 20 kursi di dewan. Atau koalisi dari beberapa partai.

Teror

Sementara Anas dalam pesan tertulisnya yang diterima SP, menganggap, ada proses pembunuhan karakter terkait polemik pencalonan pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jatim. Ada sejumlah upaya pembunuhan karakter, termasuk teror yang kerap diterima Anas dan keluarganya.

Terkait apa yang jadi desus-desus itu, ia menyatakan sudah biasa. Perlakuan yang sama persis seperti ini sudah diterima sejak tahun kedua menjabat sebagai Bupati Banyuwangi, ketika dirinya menerapkan sejumlah kebijakan, seperti pelarangan pasar modern, memperjuangkan saham bagi rakyat di sektor pertambangan, dan sebagainya. Bahkan, dilaporkan melakukan kriminalisasi kebijakan karena kebijakan-kebijakan tersebut.

Dalam pesan tertulis itu dikatakan, ”Saya juga dikirimi macam-macam gambar di masa lalu untuk mencegah saya mengambil kebijakan-kebijakan tertentu. Tapi kan saya tetap lanjutkan apa yang baik bagi orang banyak,” ungkapnya.
Anas menyebut, membangun daerah memang bukan suatu hal yang mudah. Ada banyak tantangan. “Tapi karena dukungan

penuh masyarakat, kemudian terbukti banyak perubahan di Banyuwangi. Ya ini saya anggap sebagai risiko lah, apapun yang datang menghadang untuk kebaikan banyak orang seperti program Rantang Kasih yang memberi makanan bergizi tiap hari ke lansia, program uang saku tiap hari bagi pelajar miskin dan sebagainya, ya itu sudah biasa kita hadapi jika ada yang menyerang terkait momen politik,” papar Anas.

Program-program ekonomi kerakyatan berhasil meningkatkan pendapatan per kapita warga Banyuwangi dari Rp 20,8 juta per orang per tahun menjadi Rp 41,46 juta per orang per tahun pada 2016 atau ada kenaikan 99 persen. Angka kemiskinan pun menurun cukup pesat menjadi 8,79 persen pada 2016, jauh lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Jatim yang tembus dua digit.

Produk Domestik Regional Bruto naik 104 persen dari Rp32,46 triliun menjadi Rp 66,34 triliun. Banyuwangi juga terus menjadi daerah dengan inflasi terendah se-Jatim.

”Kita kan juga sudah punya Mall Pelayanan Publik yang mengintegrasikan ratusan izin dan dokumen di satu tempat yang transparan, tanpa pungli,” tuturnya.

Sementara itu ratusan massa yang tergabung dalam Forum Relawan Saya Surabaya dan Pemuda Putera Surabaya (Pusura), yang melakukan aksi unjuk rasa di depan Balai Kota Surabaya, Jumat kemarin, menolak jika Wali Kota Surabaya, dicalonkan sebagai bakal calon gubernur.

“Kalau sebagai Cawagub mending tidak usah. Tapi kalau sebagai Cagub, kami siap mendukung,” kata Sabar Swastono, dari Pusura, saat mennyampaikan orasinya.

109total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *