Pancasila Akomodasi Nilai Positif dari Ideologi Modern

Pancasila mampu mengakomodasi nilai-nilai fundamental yang positif dari ideologi modern. Pancasila juga dianggap sebagai konsensus bangsa yang mampu memperjuangkan lima agenda pokok visi kebangsaan. Hal tersebut diungkapkan Deputi IV Kantor Staf Kepresidenan bidang Komunikasi Politik dan Informasi, Eko Sulistyo saat menjadi pembicara Seminar Nasional Kebangsaan di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (7/10).

Eko menyebutkan nilai-nilai fundamental yang positif dari ideologi modern seperti seperti keadilan sosial, HAM, kesetaraan, persatuan bangsa, demokrasi serta paham religiusitas. Dalam konteks ini, menurut Eko, Pancasila dapat dikatakan kristalisasi semua ideologi bagi panduan bangsa Indonesia melintasi tantangan zaman.

Sementara upaya menuju nilai ideal kelima sila Pancasila adalah sebuah proses sejarah panjang bangsa Indonesia yang terus berlangsung sampai hari ini. Karena itu, Pancasila terus berproses secara dialektis antara manusia Indonesia dan ide Pancasila di setiap kurun zaman.

“Tulisan Yudi Latief, ‘Soekarno Sebagai Penggali Pancasila’ dapat membantu kita memahami visi Pancasila sebagai pokok-pokok moralitas dan haluan kebangsaan di setiap sila yang ada (Yudi Latif, 2013),” kata Eko.

Seminar Nasional Kebangsaan yang diadakan oleh Pemuda KatolikKomisariat Daerah Sumatera Selatan, mengangkat tema “Pancasila Kemarin, Hari Ini dan Selamanya”.

Tampil sebagai narasumber dalam seminar ini adalah Eko Sulistyo bersama Pangdam Sriwijaya Mayjen AM Putranto,Ketua DPRD Provinsi Sumsel, H.M. Giri Ramanda N. Kiemas; dan Dewan Penasehat Unit Kerja Pemantapan Ideologi Pancasila, Benny Susetyo.

Seminar tersebut merupakan salah satu kegiatan dalam penerimaan masa anggota dan pelantikan pengurus cabang Pemuda Katolik Komisariat Daerah Sumatera Selatan. Antusias peserta dan tamu undangan yang hadir sangat terlihat, banyak dari mereka sangat aktif bertanya pada termin tanya jawab yang diberikan oleh moderator.

Dewan Penasehat Unit Kerja Pemantapan Ideologi Pancasila, Romo Benny Susetyo, mengatakan bahwa lima isu strategis dalam membumikan Pancasila yakni Ekslusifisme Sosial, Pemahaman, Kesenjangan, Pelembagaan, Keteladanan.

“Pancasila adalah konsensus nasional yang menyatukan Indonesia yang majemuk menjadi satu ikatan bangsabernama Indonesia. Para pendiri bangsa yang merumuskan Pancasila menyadari bahwa Indonesia memiliki ribuan pulau, ratusan bahasa, suku, dengan tradisi budayanya yang beragam. Untuk itu, diperlukan landasan bernegara yang bisa diterima semua pihak,” ungkapnya.

Dalam seminar ini peserta dan tamu undangan terlihat antusias mengikuti seminar. Mereka aktif dalam seksi tanya jawab yang diberikan oleh moderator.

Ferdian Andreas Lacony, Wakil Bupati Pali, yang sempat hadir sebagai tamu undangan, mengatakan bahwa Pancasila secara ideologi dan falsafah sudah tidak perlu diperdebatkan lagi, karena sudah final.

“Pemerintah telah menetapkan 1 Juni sebagai hari lahirnya. Saat ini penting untuk terus disosialisasikan kepada generasi muda tentang pancasila sehingga memiliki pemahaman yg utuh tentang nilai yg terkandung dalam Pancasila. Lalu dapat mengimplementasikan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, sehingga semakin mempererat persaudaraan antar anak-anak bangsa yang tujuannya adalah menjaga NKRI demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh masyarakat indonesia,” ungkapnya.

55total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *