Mustafa Penghina Presiden dan Ibu Negara Dijerat Pasal Berlapis

Mustafa Kamal (54), kembali ditangkap Satreskrim Polres Tanjungpinang dalam kasus ujaran kebencian (hate speech) di media sosial (medsos) google plus, Kamis 22 Februari 2018.

Tersangka ditangkap setelah melakukan postingan diduga memuat penghinaan terhadap Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Jokowi Widodo, serta etnis Tionghoa dan pejabat negara lainnya. Akibat postingan itu, Mustafa dijerat pasal berlapis untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kapolres Tanjungpinang AKBP Ardiyanto Tedjo Baskoro mengatakan, dasar penangkapan tersangka Mustafa berdasarkan dua laporan polisi, yakni LP-B/144/VII/2017/KEPRI/SPK-RES TPI tanggal 22 Agustus 2017 dan LP-B/18/2018/KEPRI/SPK-RES TPI tanggal 21 Februari 2018. Sebelumnya, tersangka pernah ditangkap polisi pada September 2017 karena menghina pejabat Wali Kota Tanjungpinang dan anggota DPRD Kepri.

“Tersangka pernah ditangkap tahun lalu dalam kasus yang sama,” kata Ardiyanto di Polres Tanjungpinang.

Kata dia, tersangka dikenakan pasal berlapis dengan pasal yang disangkakan ada dua yang pertama Pasal 45A Ayat 2 Jo Pasal 28 Ayat 2 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 dengan ancaman pidana penjara selama 6 tahun atau denda Rp1 miliar. Kemudian, pasal berikutnya Pasal 45 ayat 3 Jo Pasal 27 ayat 3 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 dengan ancaman pidana penjara 4 tahun atau denda sebesar Rp750 juta.

“Tersangka terancam hukuman maksimal 6 tahun atau denda Rp1 miliar,” ujar dia.

Dia menuturkan, modus operandi tersangka melakukan postingan tulisan penghinaan terhadap pejabat negara dan etnis tertentu di kos-kosan Korindo, Kelurahan Seilekop, Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan. Ardiyanto menuturkan, selama ini tersangka sudah sering memposting hal-hal berbau SARA dan ujaran kebencian terhadap pejabat negara dan etnis tertentu. Petugas juga akan melakukan pemeriksaan terhadap kejiwaan tersangka.

“Kemungkinan besar tersangka banyak berandai-andai terhadap suku, etnis tertentu, atau kepemimpinan pemerintahan yang berjalan. Kemungkinan kecewa terhadap pejabat sehingga mengungkapkan kekecewaannya melalui medsos,” ujar dia.

Selain mengamankan tersangka, petugas juga berhasil mengamankan barang bukti berupa satu unit tablet merek Asus dilengkapi kartu diduga kuat untuk melakukan postingan ujaran kebencian, salinan postingan dan hardisk eksternal yang berisi eskpor unduhan Facebook.

“Kita sudah melakukan pemeriksaan terhadap tersangka dan beberapa saksi yang merasa keberetan. Kita juga sudah mengirimkan Surat Perintah Dimulainya Penyelidikan (SPDP) ke kejaksaan,” kata dia.

Di tempat sama, Mustafa mengakui perbuatannya. Dia melakukan hal tersebut lantaran ingin mempertanyakan terhadap keberadaan pejabat etnis Tionghoa di dalam pemerintahan.

“Saya memang membuatnya. Mau mempertanyakan saja lewat medsos, habis mau kemana lagi disampaikan,” kata dia singkat.

Mustafa seolah tidak ada kapoknya berurusan dengan polisi. Sebab, pada September 2017 lalu, Mustafa ditangkap Polres Tanjungpinang karena menulis kata-kata yang tidak wajar di dalam status akun Facebooknya. Tidak tanggung-tanggung Mustafa menghina Presiden Republik Indonesia, Wali Kota Tanjungpinang, dan anggota DPRD Kepri.

Tidak hanya itu, dia juga diduga menghina mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono, Megawati Soekarno Putri, Menkopolhukan Wiranto dan Surya Paloh di salah satu medsos Facebook milik Mustafa dengan menuliskan kalimat penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap pejabat negara dan tokoh masyarakat.

79total visits,2visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *