Motif Para Hacker Asal Surabaya Diduga sebagai Aktualisasi Diri

Beragam motif melatarbelakangi para peretas (hacker) ketika berani membobol berbagai situs di internet. Salah satu faktornya diduga kuat sebagai aktualisasi diri mempunyai kemampuan tersebut.

Pembahasan ini juga terkait munculnya kasus tiga mahasiswa Stikom Surabaya yang diamankan polisi karena nekat meretas sekira 600 situs di 44 negara sehingga turut menjadi incaran FBI.

“Aktualisasi diri bahwa dia punya kemampuan. Ini biasanya yang menjadi latar belakang mereka (meretas situs) dari sisi kemampuan. Tapi kalau dari sisi finansial, saya tidak tahu, itu kan efek lain. Namun secara umum, punya kemampuan aktualisasi,” terang dosen Program Studi S-1 Sistem Informasi Fakultas Teknologi dan Informatika Stikom Surabaya Anjik Sukmaji kepada Okezone saat dikonfirmasi, Kamis (15/3/2018).

Ia menjelaskan, dalam proses meretas sebenarnya bisa dilakukan dengan singkat. Bahkan sekali tekan enter sudah selesai, jika semua perangkat lunak (software) sudah disiapkan. Tetapi yang panjang adalah tahapannya, karena harus mengumpulkan sejumlah informasi tentang situs yang akan diretas.

“Dia akan mencoba men-scanning. Misalnya, rumah yang lemah pintu mana, jendela mana. Diidentifikasi, baru nanti dia tahu. Kalau pintu dari kayu, nanti saya buka dengan gergaji. Kalau pintu dari besi, pakai las,” ungkapnya.

Setelah diketahui, sambung dia, informasi terkait akses masuk dan sebagainya di sistem keamanan, lalu pelaku menggunakan teknik-teknik yang dimiliki, apakah memakai SQL Injection atau yang lain.

Biasanya, tutur Anjik, situs target para hacker untuk diretas adalah perusahaan yang mempunyai pelayanan online, hompage, dan aplikasi customer online. Sebenarnya saat membuat aplikasi sudah ada standar keamanan.

“Tetapi, mungkin ada celah-celah. Itu yang dimasukkan peretas. Misal dari aplikasi ada kelemahan. Contoh jika dimasukkan satu A tidak lolos, tapi ketika dimasukkan A tiga kali baru bisa lolos. Jadi istilahnya antisipasi dari aplikasi itu, kode program yang kurang maksimal,” jelasnya.

Sebagaimana diberitakan, tiga peretas asal Surabaya ditangkap Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya pada Minggu 11 Maret 2018 usai mendapat informasi dari FBI. Ketiga pelaku masing-masing berinisial KSP (21), NA (21), dan ATP (21).

Belakangan diketahui mereka tercatat sebagai mahasiswa semester VI Stikom Surabaya dan tergabung dalam komunitas hacker Surabaya Black Hat (SBH). Ketiganya meretas diketahui ratusan situs yang tersebar di 44 negara. Bahkan, para pelaku berani membobol situs milik FBI.

75total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *