Menteri Lukman: Tidak Ada Agama yang Ajarkan Kekerasan

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan pandangan bahwa agama adalah sumber konflik dan perpecahan tidak dapat dibenarkan. Menurutnya, bukan agama yang salah tetapi pemahaman seseorang terhadap agama yang perlu diperbaiki dan diluruskan.

Dalam hal ini, umat beragama harus memiliki pemahaman bahwa agama itu mendamaikan.

“Kenapa ada konflik yang mengatasnamakan agama, ini harus ada upaya dari setiap pemuka agama untuk mampu mengembalikan esensi dan substansi agama yang sebenarnya karena tidak satupun agama yang menolerir kekerasan atau konflik,” kata Lukman di kantornya, Jakarta, Rabu(1/11).

Pernyataan itu dia sampaikan dalam acara bedah buku berjudul “Ketika Agama Bawa Damai, Bukan Perang, Belajar dari Imam dan Pastor”, yang diterbitkan Paramadina.

Dijelaskan Lukman, saat ini perlu upaya untuk melakukan “moderasi agama” guna mencegah radikalisme dan ekstremisme. Menurutnya, ada kecenderungan bahwa kelompok yang fanatik atas agama tertentu justru tidak memiliki wawasan yang cukup terhadap agama.

Menurut Lukman, keberadaan kelompok tersebut menimbulkan ekstremisme karena merasa dirinya paling benar dan pihak lain yang berbeda dipaksa untuk sama dengan apa yang dijalankannya. Hal tersebut bertentangan dengan prinsip menganut agama yang sukarela tanpa ada paksaan.

Untuk itu, ia mengatakan sangat penting peran para pemuka agama untuk menebarkan kebajikan dan mengembangkan moderasi agama. Selain itu, perlu adanya kesadaran bersama bahwa agama itu mendamaikan.

“Jadi kekerasan atau setajam apapun perbedaan kita itu tidak bisa dijadikan alasan untuk kita saling saling merendahkan atau meniadakan satu dengan yang lain. Ini esensi yang dimaksud dengan ajaran agama,” kata Lukman.

Lukman menambahkan pemahaman agama akan ditanamkan melalui berbagai pendekatan. Pendidikan merupakan faktor penting agar dapat memahami esensi dan substansi agama yang sesungguhnya. Salah satunya melalui perbaikan kurikulum dan kesiapan tenaga pendidik.

Lukman menyebutkan, pemerintah akan memperbanyak frekuensi pertemuan para guru lintas agama sehingga persoalan-persoalan terkait agama yang diajukan murid bisa mendapat jawaban sesuai konteksnya.

Guna mencegah adanya radikalisme di bidang pendidikan, Lukman mengatakan Kementerian Agama (Kemag) sudah membentuk tim gugus tugas untuk mencermati peredaran buku wajib maupun buku yang sifatnya pengayaan atau hanya sebagai suplemen agar muatan materi sesuai dengan ajaran agama yang sesungguhnya. Jika ada materi yang ekstrim, akan diubah kontennya.

36total visits,3visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *