Menjawab Survei Median Terkait Elektabilitas Ahok-Djarot 43,5% dan Anies-Sandi 49,8%

0

BANGNAPI.COM, Jakarta – Masih soal Pilkada DKI Jakarta. Hasil survei terbaru berkaitan dengan kandidat Cagub-Cawagub DKI Jakarta kembali menghiasi media massa. Survei elektabilitas yang dilakukan oleh lembaga Media Survei Nasional (Median) ini menasbihkan pasangan Anies-Sandi unggul 49,8%, sedangkan Ahok-Djarot 43,5%.

Survei ini dilakukan pada tanggal 1-6 April 2017 dengan jumlah responden 1.200 orang. Sampel dipilih secara random dengan teknik multistage random sampling. Margin of error 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%. Sementara itu, jumlah yang belum menentukan pilihan sekitar 6,7%. (http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/10/12345441/median.elektabilitas.anies-sandi.49.8.persen.dan.ahok-djarot.43.5.persen)

Padahal menurut Rico Marbun, Direktur Eksekutif Median, “Berdasarkan survei, ada 44,9 persen responden menilai bahwa Ahok-Djarot dianggap paling mampu membenahi Jakarta. Sementara yang menilai pasangan Anies-Sandi paling mampu hanya 40,9 persen, dan sekitar 14,6 persen menjawab tidak tahu”.

Selain itu, sebanyak 46,1 persen pemilih menilai program kerja Ahok-Djarot paling bagus. Sedangkan pemilih yang menilai program kerja Anies-Sandi paling bagus hanya 39,3 persen. Sisanya 14,6 persen menjawab tidak tahu.

“Bahkan ketika ditanyakan terkait siapakah kandidat yang paling berpengalaman di antara keduanya, sebanyak 65,9 persen pemilih menilai bahwa Ahok-Djarot paling berpengalaman. Sementara yang menilai Anies-Sandi hanya 23,2 persen, dan sisanya 10,8 persen menjawab tidak tahu,” kata Rico. Selain itu, kata dia, kepuasan warga terhadap kinerja Ahok-Djarot menurut survei masih cukup tinggi, yaitu mencapai 65,6 persen.

Tingkat kepuasan warga tidak berbanding lurus dengan elektabilitas. Fenomena ini tampak seperti sebuah anomali. Sebab normalnya, kepuasan warga akan berpengaruh positif pada elektabilitas. Hasil ini membuktikan tidak ada kesesuaian antara otak dengan hati, antara rasionalitas dengan emosionalitas.

Dengan demikian, anggapan bahwa pemilih Jakarta adalah pemilih yang rasional menjadi tidak tepat. Jika berpegang pada survei. Akan tetapi realitas di lapangan telah membuktikan hal lain.

Hasil Pilkada putaran pertama menjawab semua anomali itu. Hasil pada putaran pertama membuktikan bahwa tingkat kepuasan warga memang berbanding lurus dengan keterpilihan, dan rasionalitas pemilih Jakarta memang benar adanya. Fenomena ini penulis sebut sebagai realitas ganda dari survei.

Secara normatif, tiap hasil survei akan sangat berguna (secara positif) bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Apabila survei dilakukan secara jujur, transparan, dan akuntabel. Hasil ini menjadi berbeda manakal adanya afiliasi lembaga survei dengan kelompok dan figur tertentu. Pada akhirnya survei hanya sekedar menjadi corong kampanye, penggiringan opini, dan agitasi.

Kecenderungan menggiring persepsi publik tentang sosok yang dikampanyekan, dalam jangka panjang berdampak negatif bagi lembaga survei. Apalagi sudah jadi rahasia umum bahwa hasil survei bergantung pada Si Pemesan. Ini bukan hal aneh jika dilihat dari sisi ekonomi dan bisnis.

Akan tetapi, sepak terjang lembaga survei yang tidak objektif ini seperti menyimpan bom waktu. Hanya menunggu waktu untuk meletus. Pun hasil-hasil survei seringkali melahirkan realitas ganda. Atau dikategorikan sebagai sebuah realitas maya.

Tentu masih segar dalam benak pembaca, bagaimana survei-survei menjelang Pilkada DKI 2012. Survei-survei yang menjagokan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, justru dijungkirbalikkan oleh kemenangan Jokowi-Ahok pada putaran pertama. (http://megapolitan.kompas.com/read/2012/07/19/1721403/JokowiAhok.Pemenang.Pilkada.Putaran.Pertama) Pun Agus-Sylvi dan Anies-Sandi yang kerap memuncaki survei, tidak sanggup meraih hasil nyata seperti halnya dalam survei.

Ahok-Djarot yang saat itu dalam beberapa survei menempati posisi terbuncit, bahkan hanya sekitar 10%, justru menuai suara terbanyak. Ini menegaskan pendapat penulis soal realitas ganda tadi.

Hemat penulis, kontradiksi yang terjadi antara kepuasan warga dengan elektabilitas calon setidaknya dipengaruhi tiga hal berikut; Pertama, responden yang cenderung merahasiakan pilihannya. Kedua, ketidakpercayaan pada lembaga survei. Ketiga, menghindari konfrontasi dengan pemilih yang berbeda pilihan.

Sikap responden yang merahasiakan pilihan menggambarkan sikap umum dari silent majority. Sikap ini diambil setelah melihat agitasi, provokasi, dan intimidasi yang masif terjadi di tingkat akar rumput. Ketidakpercayaan pada lembaga survei sering karena objektifitas dan netralitas yang dinilai kurang dari lembaga terkait. Juga, potensi konfrontasi dengan pihak lain sebisa mungkin dihindari. Mengingat Pilkada DKI kali ini benar-benar menguras emosi. Mulai dari penolakan menshalatkan jenazah, tamasya Al Maidah, Jakarta Bersyariah, dan lain sebagainya.

Terakhir, kredibilitas lembaga survei akan terbukti ketika berhadapan dengan realitas. Apakah ia bersesuaian atau saling menegasikan. Pun, apakah kepuasan warga bersesuaian dengan elektabilitas calon atau tidak. Kendati statistik tidak membohongi, tetapi niat Si Pengumpul angka, siapa yang tahu. Ada banyak kepenitngan yang berkelindan satu sama lain berkenaan dengan niat Si Pengumpul Angka ini.

“Bukan angka-angka yang berbohong, tetapi (orang) yang mengumpulkan angka yang berbohong” (Prof. J.E Sahetapy).

772total visits,1visits today

Share.

About Author

Leave A Reply