Menhub: 30 Persen Kontainer di Tanjung Priok Overstay

Kementerian Perhubungan (Kemhub) menyatakan, 30 persen kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, disimpan melebihi batas waktu (overstay) tiga hari. Regulator mendorong agar pemilik barang lebih cepat memindahkan petikemasnya yang sudah melalui proses pemeriksaan guna menekan biaya akibat overstay.

“Sebanyak 30 persen barang di Priok itu overstay. Pemilik barang membiarkan hal itu, padahal tarifnya progresif, tapi dibiarkan,” kata Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi di Jakarta, Selasa (3/4).

Budi Karya menjelaskan, pihaknya belum menemukan alasan pasti mengapa para pemilik barang itu menyimpan barangnya melebih batas waktu. Kemhub baru menaksir tiga alasan yang menjadi penyebabnya.

Pertama, ada kemungkinan pemilik barang yang menyimpan barang melebihi batas waktu tersebut tidak memiliki gudang penyimpanan sendiri. Kedua, pemindahan barang ke tempat lain juga ditaksir menambah biaya. Ketiga, ada yang menduga operator pelabuhan sengaja memaksa pemilik barang menyimpang kontainer lebih lama di pelabuhan.

“Kalau menurut hemat saya, yang terakhir itu tidak mungkin karena saya sudah terbuka kalau ada pihak-pihak yang melakukan penindasan itu kita akan ambil tindakan. Tapi apapun welcome, karena overstay itu salah satu yang harus kita klarifikasi,” terang Budi.

Menhub berencana mencari penyebabnya secara langsung ke Pelabuhan Tanjung Priok pada 5 April 2018. Menurutnya, overstay perlu dihindari karena berpotensi bisa menambah biaya logistik, khususnya di Pelabuhan Tanjung Priok di mana kegiatan ekspor-impor melalui pelabuhan ini mencapai 50 persen dari total kegiatan ekspor-impor secara nasional.

Selain itu, Budi menekankan, overstay juga perlu dihindari guna mengejar waktu tunggu atau dwelling time di pelabuhan tetap tiga hari. Meski belum dapat memastikan korelasi antara dwelling timeyang singkat dan dampaknya terhadap penurunan biaya logistik, Menhub berpendapat, dwelling time tiga hari perlu dipertahankan. Hal ini agar ada standar acuan yang jelas bagi para pemangku kepentingan dalam menyelenggarakan kegiatan di pelabuhan.

“Apakah dwelling time berbanding lurus dengan murahnya atau efisiennya suatu pelabuhan? Ada contoh di negara lain bahwa dwelling time tidak berbanding lurus dengan murahnya suatu pelabuhan. Tapi itu suatu referensi saja. Saya lebih suka untuk membahas dwelling time tetap dipertahankan tiga hari,” jelas Budi.

96total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *