Menengok ‘Jalan Tol’ di Tengah Hutan Belantara Luwu Utara

Jalan poros yang menghubungkan Kecamatan Seko dan Masamba, ibu kota Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, sebagian sudah jadi tol. Namun, jalan tol yang dibikin warga Seko ini bukanlah tol yang umumnya ada di kota-kota besar. Tol buatan warga ini tidak berbahan semen atau aspal, melainkan terbuat dari potongan kayu berdiameter 25 hingga 35 sentimeter.

Tol ini hanya dapat dilintasi satu sepeda motor. Panjangnya variatif, dari terpendek tujuh meter, hingga terpanjang mencapai 15 meter. Sekali melintas, pengendara sepeda motor dikenakan tarif Rp10 ribu.

Iqbal, tukang ojek Seko, Sabbang, menuturkan tol tersebut baru dibuat sekitar setahun lalu. Warga menyebutnya tol karena dibuat untuk mempermudah sepeda motor melintasi kubangan lumpur di jalan. Maklum, jalan penghubung antar-kecamatan ini kondisinya sangat memprihatinkan.

Apalagi disaat musim hujan seperti sekarang ini, sepeda motor bisa tenggelam seluruhnya dalam kubangan lumpur.

“Alhamdulillah sangat membantu kami, minimal tidak terjebak lagi saat melintasi kubangan lumpur yang dalam,” kata Iqbal, Jumat, 26 Januari 2018.

Dari Masamba, ibu kota Kabupaten Luwu Utara, menuju Kecamatan Seko, hanya berjarak 70 kilometer. Namun untuk sampai ke Seko, harus ditempuh selama dua hari dua malam. Sedangkan jika sedang musim hujan, bisa lebih lama lagi. Daerah ini berada di pegunungan Luwu Utara.

Tarif ojek di daerah ini juga cukup fantastis, sekali jalan, penumpang harus merogoh kocek Rp700 ribu hingga Rp850 ribu.

“Kalai mau cepat, bisa naik pesawat. Kalau naik ojek, paling cepat dua hari baru tiba di Seko, dan harus tidur di hutan belantara,” ujarnya.

Mahalnya tarif ojek menuju Seko, diakui Iqbal, bukan tanpa alasan. Sebab, beratnya medan yang harus dilalui, butuh perjuangan dan ketangkasan.

285total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *