Masyarakat Takut Gunung Agung Meletus Seperti Tahun 1963

Pengungsi Gunung Agung di Bali sejak status gunung tersebut ditetapkan menjadi awas, Jumat (22/9), terus meningkat. Jumlah pengungsi kini sudah mencapai 144.489 jiwa, membengkak dua kali lipat dari perkiraan awal kalau warga yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) berjumlah sekitar 70.000 jiwa.

Mereka yang berada di luar KRB juga ikut-ikutan mengungsi karena selain pemahaman yang kurang terkait dengan gunung berapi, juga vulgarnya berita hoax di media sosial. Apalagi, berita di medsos beredar foto-foto yang menampilkan gunung meletus yang sebenarnya foto tersebut bukanlah foto Gunung Agung tetapi gunung lain.

Langkah masyarakat memilih mengungsi lebih awal adalah sebagai bentuk antisipasi mengingat besarnya letusan Gunung Agung pada tahun 1963. Apalagi, peristiwa meletusnya gunung tersebut saat itu memakan korban hingga ratusan jiwa. Sebagian pengungsi justru masih ada yang menjadi saksi hidup saat Gunung Agung meletus tahun 1963 membuat mereka trauma.

Dari data Pos Pengamatan GunungAgung mencatat, pada 19 Februari 1963 letusan Gunung Agung pertama kali terjadi malam hari sekitar pukul 01.00 Wita sehingga membuat masyarakat waktu itu panik. Akibat letusan disertai hujan abu dan pasir membuat asap bergumpal. Banyak masyarakat menjadi korban waktu itu karena terkena lava (lahar).

Di hari yang sama terlihat awan panas yang meluncur ke arah lereng sebelah timur melewati sungai besar yang bernama Tukad Barak dan Tukad Daya. Bahkan, data juga menyebutkan pada tangal 17 Maret 1963, terjadi letusan paroksima dan awan letusannya mencapai ketinggian lebih kurang 5 kilometer dan gumpalan asap tebal dan awan panas mengendap di lereng selatan dan utara.

Endapan abu letusan waktu itu mencapai Pulau Madura. Letusan paroksima kembali terjadi pada 16 Mei 1963 dan endapan abu letusan mencapai Pulau Kangean. Kegiatan erupsi Gunung Agung ini berlangsung hampir setahun sejak 19 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964. Korban yang meninggal akibat awan panas sebanyak 280 jiwa dan yang terluka sebanyak 59 orang.

Sedangkan yang meninggal karena piroklastika sebanyak 163 jiwa dan yang terluka sebanyak 201 orang. Selain itu, ada 165 orang yang meninggal akibat lahar panas dan 36 yang terluka.

Letusan Gunung Agung pada tahun 1963 terjadi setelah Gunung Agung “tertidur” selama hampir 120 tahun. Sejarah mencatat, Gunung Agung pernah meletus sebanyak empat kali, yaitu pada 1808, 1821, 1843, dan 1963.

Seorang saksi hidup Nyoman Cenik mengatakan, gejala-gejala Gunung Agung meletus tahun 1963 hampir mirip dengan kondisi sekarang yang berada dalam status awas. Kemiripan itu yakni sering terjadinya gempa bumi yang dirasakan masyarakat dan banyaknya binatang yang ada di sekitar guung yang turun. ”Mungkin binatang tersebut merasakan panas sehingga mereka sudah lebih dulu tahu kalau akan ada letusan,” katanya.

Dikatakan, pada tahun 1963 pemahaman masyarakat akan gunung berapi betul-betul minim. Waktu itu, masyarakat hanya bisa melakukan sembahyang memohon supaya selamat. Bahkan, saat sudah ada gempa dan letusan pun, masyarakat tidak tahu itu berbahaya, yang akhirnya mereka justru mendekat dan selanjutnya menjadi korban karena tidak sempat menyelamatkan diri.

“Inilah sebenarnya yang ditakutkan warga, sehingga jangan disalahkan warga yang justru memilih mengungsi ke lokasi yang aman,” katanya.

Jangankan warga Karangasem yang dekat dengan gunung, letusan Gunung Agung tersebut menyebabkan terjadi hujan abu atau pasir di seluruh Bali, terutama warga di Buleleng. “Dugase Gunung Agung meletus, gumine peteng, Dadong takut gati dugase ento ( artinya, waktu Gunung Agung meletus, suasana gelap gulita. Nenek waktu itu takut sekali),” ujar Nenek bernama Wayan Selamat yang menuturkan paristiwa meletusnya Gunung Agung.

Begitu dahsyatnya letusan Gunung Agung tahun 1963 ini membuat masyarakat di Karangasem sudah ketakutan begitu status gunung tertinggi di Bali itu ditingkatkan. Bahkan, Bupati Karangasem dan jajarannya saja sempat panik dan memindahkankan kantornya di Tanah Ampo, tempat lokasi penampungan bantuan pengungsi. Hal ini membuat masyarakat Karangasem lainnya, kendati tidak berada di kawasan KRB, ikut-ikutan mengungsi. Kota Karangasem pun sempat sepi karena kegiatan pasar yang tutup, padahal status gunung masih awas dan belum meletus.

Kehidupan Kota Karangasem mulai bergeliat lagi setelah Gubernur Bali meminta kepada warga yang ada di desa zona aman atau tidak masuk KRB untuk tidak ikut-ikutan mengungsi, malah harus membantu warga yang rawan kena bencana. Mereka yang terlanjur mengusi diminta supaya kembali ke rumah mereka masing-masing.

Sayangnya, imbauan itu belum sepenuhnya diikuti warga yang sudah terlanjur mengungsi karena di pikiran mereka apakah betul mereka aman. Jangan-jangan setelah kembali justru terkena dampak kalau gunung jadi meletus.

200total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *