Masyarakat Bali Doa Bersama Mohon Gunung Agung Tidak Meletus

Hari ini, Kamis (5/10), mulai pukul 12.00 Wita masyarakat Bali secara serentak melakukan upacara persembahyangan bersama untuk mendoakan supaya diberi keselamatan terkait Gunung Agung. Doa bersama secara serentak itu dilakukan di Pura Sad Kahyangan, Pura Dang Kahyangan, Pura Kahyangan Tiga, Pura Dadia, Pura Swagina, sanggah, tempat kerja. Lewat doa bersama, warga Bali berharap supaya Gunung Agung tidak meletus dan statusnya turun.

Sembahyang dan doa bersama ini juga bersamaan dengan upacara suci “Purnama Kapat” umat Hindu di Bali. Purnama Kapat atau purnama keempat adalah penghitungan waktu berdasarkan kalender Bali, yang tahun ini jatuh pada Kamis (5/10). Kegiatan persembahyangan yang ditambahkan dengan dengan mendoakan Gunung Agung itu juga sesuai seruan dan harapan Parisada Umat Hindu Indonesia (PHDI) Bali.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sejak Jumat (22/9) meningkatkan status Gunung Agung dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV). Status Awas tersebut hingga saat ini telah memasuki hari ke-13.

Dengan ada status seperti sekarang, kawasan suci Pura Besakih yang merupakan Pura Khayangan Jagat (pusat bagi umat Hindu) masuk dalam radius wilayah berbahaya yang harus dikosongkan. Namun demikian, para pemangku selama ini secara bergantian dengan didampingi petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tetap melaksanakan persembahyangan di tempat suci terbesar di Pulau Dewata itu, termasuk hari ini Kamis (5/10).

Persiapan upacara piodalan di Besakih yang digelar 420 hari sekalihanya melibatkan prajuru dan mengurus desa adat setempat, sedangkan ritual penyucian bintang kurban atau “Mepepada” untuk kelengkapan ritual dilakukan sangat sederhana, tanpa mengurangi makna yang terkandung di dalamnya. Ritual “Mepepada” yang dilaksanakan sehari sebelumnya Rabu (4/10) sekaligus ritual khusus “Nedunang” atau menurunkan “Ida Bhatara“, yakni manifestasi Tuhan Yang Maha Esa sebagai Para Dewata pelindung umat.

Rangkaian ritual tersebut, menurut seorang pemangku (pemimpin ritual) Pura Penataran Agung Besakih, I Gusti Mangku Jana, dilaksanakan setiap tahun sekaligus merupakan bagian dari ritual “Loka Phala“, yakni upacara ritual untuk menstabilkan alam semesta, baik secara mikro (manusia) dan makro (dunia). Upacara tersebut sangat tepat dalam rangkaian untuk memohon keselamatan warga atau umat dari bahaya Gunung Agung yang dalam status awas.

“Mari bersama-sama berdoa agar jagad (bumi) Bali dan Indonesia umumnya tetap tenteram dan damai. Umat yang ingin bersembahyang tidak harus datang ke Besakih, tetapi bisa ‘ngastiti‘ dari ‘Rong Tiga‘ tempat suci keluarga masing-masing,” tutur Mangku Jana.

Sementara itu Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana mengatakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat telah menggagas untuk menggelar doa lintas agama pada Kamis (5/10) pukul 12.00 waktu setempat. Umat beragama selain Hindu, dapat berdoa sesuai dengan tata cara agama masing-masing untuk memohon kedamaian alam semesta beserta seluruh isisnya.

Majelis Utama Desa Pakraman Provinsi Bali menindaklanjuti hal itu dengan mengeluarkan surat seruan tertanggal 3 Oktober 2017 yang khusus ditujukan kepada umat Hindu. Doa lintas agama yang dilaksanakan oleh seluruh umat yang tinggal di Pulau Dewata untuk memohonkan kepada Tuhan supaya Gunung Agung di Kabupaten Karangasem tidak jadi erupsi.

Sekalipun erupsi, mereka diajak memohon lewat doa bersama untuk kedamaian semesta ini supaya dapat membawa kerahayuan atau keselamatan seluruh umat.”Jika dilihat dari ajaran Hindu, kalau berdoa bersama-sama pada jam yang sama, hari yang sama dengan hati yang tulus untuk kerahayuan jagat, maka vibrasi itu melebihi dari berbagai doa kelompok yang dikatakan cukup hebat,” ujar Sudiana yang juga guru besar Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.

Hal senada juga Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet menilai doa bersama sekaligus merupakan suatu penyatuan pikiran, perasaan, hati, dan keyakinan. Dia bersama itu mendoakan seluruh jagat raya supaya damai. Mereka mengharapkan dengan doa yang tulus oleh orang yang tulus dari seluruh umat beragama, membuat apa yang dimohonkan bisa terkabul.

Sekalipun terjadi erupsi Gunung Agung, hendaklah peristiwa itu bukan dianggap sebagai bencana. Namun, peristiwa alam itu menjadi pembelajaran semua orang, misalnya dari sisi tata ruang, jalur-jalur lahar supaya tidak kembali menjadi pemukiman warga. “Lewat doa ini, kita semua berharap agar Bali tetap aman, damai, rahayu, dan semakin makmur, sekalipun jadi meletus ataupun tidak,” ujar Putra Sukahet.

158total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *