Mantan Manajer dan Staf Gudang PT Dok dan Perkapalan Surabaya Dieksekusi

Abdul Rahman, mantan manajer dan Ramli SE, staf gudang PT Dok dan Perkapalan Surabaya tahun 2008, dua orang teridana kasus korupsi dana perusahaan sebesar Rp 2,8 miliar dijebloskan ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas 1 Surabaya di Medaeng, Sidoarjo, Jumat (21/7). Keduanya diekseskusi Jaksa Bidang Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Tanjung Perak Surabaya setelah putusan (vonis) kasasinya ditolak majelis hakim Mahkamah Agung (MA).

“Terpidana Abdul Rahman yang divonis lima tahun enam bulan penjara, kita eksekusi dari tempat kerjanya di sebuah prusahaan transportasi di Surabaya. Sedang Ramli dieksekusi dari tempat kerjanya di PT Dok dan Perkapalan di Surabaya karena vonis kasasinya diganjar hukuman empat tahun enam bulan penjara,” ujar Kasi Pidsus Kejari Tanjung Perak Surabaya, Andi Ardhani SH, Jumat.

Sementara satu terpidana lainnya dalam kasus ini, yakni Direktur CV Puspita Intan Mandiri (PIM), Yani Uti Puspita, belum dapat dieksekusi, karena di samping tempat kerja barunya terus berpindah-pindah, juga jarang ada di tempat. “Tim kami masih melakukan pencarian,” ujar Andi Ardhani. Ia membenarkan, untuk kedua terpidana yang sudah dijemput di tempat kerjanya, mereka dikawal Jaksa eksekutor, Saiful dan Ginanjar serta dikawal petugas Sabhara dari Polres Tanjung Perak.

Menurut catatan SP, terpidana Abdul Rahman dan Ramli serta Yani Uti Puspita, secara bersama-sama pada periode tahun 2008 hingga 2009, melakukan tindak pidana korupsi uang perusahaan PT Dok dan Perkapalan Surabaya sebesar Rp 2,8 miliar. Semula, mereka bertiga dinyatakan terbukti bersalah dan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, menghukum Abdul Rahman dengan vonis tiga tahun penjara, sedangkan, Ramli dan Yani Uti Puspita masing-masing dihukum satu tahun penjara.

Mereka bertiga menyatakan menolak vonis tersebut dan mengajukan banding. Namun, majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Jatim di Surabaya menjatuhkan vonis yang sama, sehingga mereka kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Justru di tingkat kasasi tersebut, hukuman Abdul Rahman diperberat menjadi lima tahun enam bulan penjara, sedangkan vonis terpidana Ramli juga diperberat menjadi empat tahun enam bulan penjara.

“Untuk terpidana Yani Uti Puspita sama dengan Ramli, namun belum bisa kita eksekusi karena belum kita temukan keberadaannya,” ujar Andi Ardhani. Ia membenarkan, kasus korupsi itu semula terendus setelah ada infomasi dari orang dalam terkait proyek pengerjaan perbaikan kapal pada bulan Juni 2008 hingga Juli 2009. Tanpa ada informasi dari dalam perusahaan, kasus tersebut sulit diketahui, tambahnya.

159total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *