Lewat Cuitan Seperti ini, Ahmad Dhani Sindir Kaesang Putra Bungsu Jokowi?

0

Kicauan di akun jejaring sosial Twitter milik musisi Ahmad Dhani, Kamis (6/7/2017), menjadi sorotan netizen.

Dalam cuitannya tersebut, Ahmad Dhani diduga menyindir ucapan putra bungsu Joko Widodo, Kaesang Pangarep, yang kini ‘dipermasalahkan’.

“Telah lahir PEPATAH baru… NDESO TERIAK NDESO. ADP,” kicau akun @AHMADDHANIPRAST.

 Sejumlah netizen menduga kicauan Ahmad Dhani itu menyindir ucapan ‘ndeso’ dalam rekaman video blog milik Kaesang Pangarep.

Hingga berita ini disusun belum ada konfirmasi dari Dhani terkait kicauan tersebut.

Ucapan Ndeso Kaesang

“Untuk membangun Indonesia yang lebih baik, kita tuh harus kerja sama. Iya kerja sama. Bukan malah saling menjelek-jelekan, mengadu domba, mengkafir-kafirkan orang lain. Apalagi ada kemarin itu, apa namanya, yang enggak mau menshalatkan padahal sesama Muslim, karena perbedaan dalam memilih pemimpin. Apaan coba? Dasar Ndeso. Kita itu Indonesia, kita itu hidup dalam perbedaan. Salam Kecebong”, ujar pria mirip anak Presiden Joko Widodo, Kaesang Pengarep, di akun Youtube “Majelis Perlawanan”.

Pada video berjudul “Kaesang di Anak Presiden! Pidana Ujaran Kebencian dan Penodaan agama” tersebut dibeberkan poin-poin penghinaan yang dilakukan akun #Kaesang.

Akun yang diduga milik anak Jokowi tersebut dilaporkan oleh Muhammad Hidayat Situmorang ke Polresta Bekasi dengan Nomor laporan LP/1049/K/VI.2017/SPKT/Restro Bekasi Kota.

Hidayat merupakan warga Perumnas 1, Kranji, Kota Bekasi.

Menurut laporan Hidayat, isi video berjudul Bapak Minta Proyek yang diunggah ke Youtube oleh akun Kaesang diduga bermuatan ujaran kebencian dan SARA.

“Saya melakukan pelaporan tersebut adalah sebagai bentuk kepedulian sebagai warga negara yang ingin berkontribusi kebaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya terkait proses penegakan hukum yang berkeadilan,” ujar Hidayat kepada Tribunnews.com di rumahnya, Rabu (5/7/2017).

Dia menilai, pernyataan Kaesang tentang sebutan ndeso bagi sekelompok orang yang mudah mengkafirkan orang lain sebagai bentuk ujaran kebencian bagi masyarakat desa.

 Bahkan, ndeso dalam video dianggap telah merendahkan masyarakat desa.

Muhammad mencontohkan konotasi kalimat yang menjelaskan bila kata ndeso merupakan sebuah penghinaan.

“Dasar ndeso lu dasar kampungan lu maka masyarakat desa menjadi sebuah image stigma bahwa masyarakat desa itu rendah,” jelasnya.

Hidayat mengaku tidak sengaja menemukan akun Youtube, Kaesang, yang dilaporkannya ke pihak kepolisian Polresta Bekasi.

“Saya juga tidak sengaja menemukan videonya. Ini saya temuin pas lagi buka-buka Youtube,” ujar Hidayat.

Hidayat mengatakan bahwa selama ini dirinya aktif di media sosial termasuk memiliki akun Youtube pribadi.
Video Kaesang yang dilaporkan atas dugaan ujaran kebencian tersebut muncul secara tiba-tiba di akun Youtube miliknya.

“Saya aktif di medsos, videonya saya temukan pas lagi buka video. Nah video ini nongol di video yang direkomendasikan buat saya. Ya saya buka,” tambah Hidayat.

Dirinya juga tidak mengetahui bahwa Kaesang Pangarep adalah anak Presiden Joko Widodo.

Hidayat mengaku hanya melaporkan akun bernama #Kaesang.

Pria yang tergabung dalam lembaga swadaya masyarakat (LSM) Sahabat Muslim ini mengaku sering mengadukan kasus serupa ke polisi.

 “Saya membantah kalau ada orang yang beranggapan itu Pak Muhammad yang dibidik anak presiden, maka saya juga menjawabnya simple, boleh dicek di Polres Bekasi Kota. Macam-macam, kalau ditanya Polres Bekasi, susah ngitungnya berapa laporan yg saya buat di sana,”

Kasus dihentikan

Polisi tidak akan melanjutkan penyelidikan dugaan penyebaran kebencian yang melibatkan Kaesang Pangarep, putra Presiden Joko Widodo.

Menurut Wakapolri Komjen Pol Syafruddin, video yang disebar Kaesang Pangarep sama sekali tidak mengandung unsur kebencian.

“Laporannya mengada-ada, kita tidak akan tindak lanjuti laporan itu,” ujar Syafruddin di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (6/7/2017).

Syafruddin mengatakan, kata ‘ndeso’ itu guyonan saja.

Menurutnya, sejak kecil ia juga sudah sering mendengar omongan ‘ndeso’ itu.

Polri, penyidik, kata Syafruddin, juga harus rasional, jadi tidak semua laporan masyarakat harus ditindaklanjuti.

“Kalau (laporan) itu rasional, ada unsurnya, ditindaklanjuti. Kalau tidak, saya tegaskan, tidak perlu (ditindaklanjuti),” tegas jenderal bintang tiga tersebut.

132total visits,1visits today

Share.

About Author

Leave A Reply