Kuasa Hukum Tegaskan SMS Hary Tanoe Bukan Ancaman

Kuasa Hukum Bos MNC Group Hary Tanoesoedibjo, Hotman Paris Hutapea menegaskan bahwa pesan pendek yang dikirim Hary Tanoe kepada Kepala Sub Direktorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung Yulianto, tidak ada unsur mengancam.

Menurut Hotman, jika merujuk pada Pasal 29 UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), maka ancaman dalam pasal tersebut jelas memuat syarat mutlak, yaitu “informasi elektronik” yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara khusus kepada pribadi tertentu. “Jadi Pasal 29 UU ITE syaratnya harus ada ancaman, yang ditujukan secara tegas kepada seseorang,” ujar Hotman dalam keterangan tertulis, Jumat (23/6).

Menurut Hotman, isi pesan singkat Hary Tanoe tidak bermaksud mengancam seseorang, namun SMS tersebut bersifat umum dan idealis. Karena itu, Hotman mempertanyakan penetapan tersangka Hary Tanoe terkait dugaan SMS ancaman itu. “Kami dan publik menunggu, apakah benar terjadi ‘dugaan penganiayaan hukum’ bermotifkan politik oleh lawan-lawan politisi dan oknum pimpinan partai yang kebetulan dekat dengan kekuasaan sekarang ini,” kata dia.

Hotman memberi contoh kalimat yang dimaksud mengancam, sesuai dengan Pasal 29 dibanding pesan Hary Tanoe tersebut. “Si Poltak mengirimkan sms ke si Rudi yang berisi ‘Apabila Rudi tidak membayar utang, maka rumah Rudi akan dibakar’,” kata Hotman mencontohkan kalimat bernada ancaman.

Kemudian dia mengutip penggalan pesan singkat Hary Tanoe ke Jaksa Yulianto, yang berbunyi “kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar”. Menurutnya, pesan tersebut tidak merujuk pada siapapun sebagai “yang salah”, termasuk Yulianto.

Demikian juga, kata Hotman, makna pesan lainnya, yaitu “apabila saya jadi pimpinan negeri ini, disitulah saatnya Indonesia akan dibersihkan”. Dia menilai bahasa tersebut merupakan bahasa politikus pada umumnya. “Ini adalah bahasa idealisme dari semua politikus, termasuk semua Presiden Indonesia pada saat kampanye mengucapkan kalimat seperti itu,” pungkas Hotman.

Sebelumnya, Yulianto bertugas menjadi penyidik kasus dugaan restitusi pajak PT Mobile-8 Telecom Tbk. Hary Tanoe pernah menjabat sebagai komisaris di kasus tersebut dan beberapa kali diperiksa. Yulianto mengaku menerima pesan singkat dari Hary Tanoe sebanyak tiga kali, yaitu pada 5, 7, dan 9 Januari 2016.

Pesan itu berbunyi, “Mas Yulianto, kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman. Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional yang suka abuse of power. Catat kata-kata saya di sini, saya pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia dibersihkan”.

201total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *