Korupsi Alquran, KPK Selidiki Keterlibatan Priyo Budi

0

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak ingin gegabah menetapkan mantan Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso sebagai tersangka. Meskipun, nama Priyo telah berulang kali disebut terlibat dan turut menikmati aliran dana proyek pengadaan Alquran dan laboratorium komputer di Kementerian Agama. Termasuk dalam persidangan dengan terdakwa Ketua Umum Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq.

Jubir KPK, Febri Diansyah mengatakan, pihaknya masih terus mencermati fakta-fakta yang mencuat dalam persidangan perkara ini. KPK juga masih menunggu analisis dan pendapat Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menangani perkara ini mengenai keterlibatan Priyo.

“Kami menunggu analisis dan pendapat penuntut umum. Saat ini, penuntut umum sedang mencermati fakta-fakta tersebut di persidangan,” kata Febri di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (27/7) malam.

Dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (27/7), Fahd A Rafiq meyakini Priyo yang merupakan politisi Partai Golkar turut terlibat dalam kasus korupsi pengadaan kitab suci Alquran di Ditjen Binmas Islam Kementerian Agama tahun 2011-2012. Fahd mendorong KPK untuk menetapkan Priyo sebagai tersangka.

“Semua yang menerima itu, semuanya harus segera ditetapkan sebagai tersangka. Biar rasa keadilan itu merata,” kata Fahd di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (27/7).

Fahd meyakini, jatah uang untuk Priyo sudah disalurkan. Fahd juga membenarkan keterangan pegawainya yakni Syamsurachman saat bersaksi di dalam persidangan. Menurut Syam, Fahd selaku Ketua Generasi Muda Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (Gema MKGR) serta Dendy Prasetia Zulkarnaen selaku Sekjen Gema MKGR memberikan setoran kepada Priyo selaku Ketua Umum MKGR. Penyerahan itu dilakukan di kediaman Priyo, melalui adiknya Agus Suprianto. Pada persidangan sebelumnya, saksi yang dihadirkan jaksa KPK juga menyebut bahwa jatah yang diberikan kepada Priyo sebesar Rp 3 miliar.

Febri memastikan pihaknya akan menindaklanjuti setiap fakta yang muncul dalam persidangan perkara ini. Tindaklanjut tersebut akan dilakukan setelah penuntut umum melakukan analisa mengenai fakta-fakta tersebut.

“Jadi kami lihat dulu fakta persidangan, nantinya hasil analisisa Penuntut Umum didiskusikan bersama,” kata‎ Febri.

Diketahui, Fahd didakwa bersama-sama dengan anggota Badan Anggaran DPR, Zulkarnaen Djabar dan anaknya, Dendy Prasetia Zulkarnaen Putra menerima suap sejumlah Rp 14,3 miliar lantaran telah menjadikan PT Batu Karya Mas selaku pemenang dalam pekerjaan pengadaan laboratorium komputer. Fahd juga didakwa menerima suap untuk memenangkan PT Adhi Aksara Abadi Indonesia sebagai pelaksana proyek pengadaan kitab suci Al Quran tahun 2011 dan PT Sinergi Pustaka Indonesia sebaga pemenang untuk pengadaan Al Quran tahun 2012.

Dalam surat dakwaan yang sama jaksa menyebut berdasarkan catatan miliknya, Fahd menuliskan jatah 1 persen yang diterima Priyo dengan inisial PBS untuk proyek pengadaan laboratorium komputer dengan nilai proyek Rp 31,2 miliar. Selain itu, Priyo juga disebut mendapatkan jatah sebesar 3,5 persen dari nilai proyek senilai Rp 22 miliar dalam proyek pengadaan Al Quran tahun 2011. Meski demikian, Priyo telah berulang kali membantah terlibat kasus tersebut.

76total visits,2visits today

Share.

About Author

Leave A Reply