Kisah Sedekah Dua Bulan Jelang Gus Dur Dilengserkan

Selalu ada cerita dari sosok almarhum Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Terutama cerita saat momen-momen penting nasional yang melibatkan sosok identik dengan slogan ‘gitu aja kok repot’ itu. Di antaranya menjelang Gus Dur dilengserkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat pada 2001 silam.

Selain keluarga, sedikit orang yang mendampingi Gus Dur menjelang lengser dari jabatannya sebagai presiden. Satu di antaranya ialah Khofifah Indar Parawansa, kala itu Menteri Pemberdayaan Perempuan. Khofifah dekat dengan Gus Dur semenjak di Nahdlatul Ulama hingga aktif di Partai Kebangkitan Bangsa awal berdiri.

Kala itu, Gus Dur mulai digoyang oleh lawan politiknya karena tak sejalan dengan kebijakan-kebijakannya di pemerintahan yang ia pimpin. Dua nota dikeluarkan DPR mendesak dilakukannya Sidang Istimewa MPR untuk memakzulkan Gus Dur keluar. Tetapi Gus Dur dan partainya, PKB, tetap bersikeras dengan sikapnya.

Lingkaran istana mulai gusar, sampai-sampai timbul pertanyaan kenapa Gus Dur diserang terus secara politik. Sampai-sampai muncul pikiran di lingkaran orang dekat mungkin saja Gus Dur kurang sedekah karena tidak sempat waktu disibukkan tugas kenegaraan.

“Saya berpikir kenapa Gus Dur itu cobaannya banyak. Saya lalu mengambil inisiatif karena sedekah itu lidaf’il bala’ (penangkal kesulitan). Sedekahnya, saya berbagi kepada teman-teman, ayo cari (penerima sedekah) di traffic sana, ayo cari di permukiman-permukiman,”  cerita Khofifah dalam Haul Gus Dur ke-8 di Pesantren Tebu Ireng Jombang, Jawa Timur, pada Kamis malam, 28 Desember 2017.

Khofifah menjelaskan, ada juga uang Rp60 juta pecahan Rp20 ribu dari karib Gus Dur disebar dengan niat sebagai sedekah Gus Dur kepada orang-orang tidak mampu. “Semua saya bagi dalam waktu hampir tiga bulan. Tiap hari saya keliling dari kampung ke kampung bersama teman-teman,” ujarnya.

Cerita sedekah jelang Gus Dur lengser itu dibenarkan oleh Mahfud MD, Menteri Pertahanan kala itu. Mahfud mengatakan, yang tidak banyak orang tahu sebetulnya Gus Dur santai-santai saja saat jabatannya sebagai presiden mulai digoyang parlemen. Pertahanan politik dilakukan karena menyangkut persoalan prinsipil kebangsaan.

“Gus Dur itu lebih banyak guyonnya, tapi kalau marah, marah beneran. Biasanya marah kalau prinsip,” ucap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.

Gus Dur wafat di Jakarta pada 30 Desember 2009 silam. 69 tahun sebelum itu, dia lahir dari pasangan suami-istri Abdul Wahid Hasyim-Siti Sholehah di Jombang pada 7 September 1940. Kakeknya dari pihak ayah, Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama. Gus Dur sendiri memimpin organisasi NU selama tiga periode.

119total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *