Ketimpangan Ekonomi Buat Ekstremisme dan Radikalisme Tumbuh Subur

Nahdlatul Ulama (NU) menyoroti persoalan ketimpangan ekonomi dan penguatan ekonomi warga dalam kegiatan pra Musyawarah Besar di Palangkara, Kalimantan Tengah hari ini. Menurut mereka, ketimpangan ekonomi membuat ekstremisme dan radikalisme tumbuh subur.

Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siroj mengatakan pihaknya melihat persoalan ketimpangan telah menjadi ancaman nyata bagi persatuan dan kesatuan nasional. Kekayaan bahkan dimonopoli segelintir orang yang menguasai lahan, jumlah simpanan uang di bank, saham perusahaan hingga oblikasi pemerintah.

“Meningkatnya ketimpangan akan mengancam sendi-sendi kebangsaan karena di luar faktor paham keagaman, ketimpangan ekonomi adalah lahan subur berseminya ekstremisme dan radikalisme,” kata Said Aqil dalam rilis yang diterima Okezone di Jakarta, Minggu (8/10/2017).

NU menyebut untuk mengurangi ketimpangan, mereka meminta pemerintah lebih aktif merealisasikan inisiatif Presiden Jokowi melalui program Reforma Agraria yang pada intinya  redistribusi tanah untuk rakyat dan petani. Tidak hanya itu, pemerintah juga didorong melakukan redistribusi akses berupa permodalan dan fasilitas usaha.

“Perbankan perlu lebih agresif mengucurkan kredit ke petani dan pelaku usaha kecil menengah. Program afirmasi perlu dilakukan agar jumlah pengusaha meningkat dan berkembang,” ujarnya.

NU menyebut butir-btir pikiran tentang ketimpangan ekonomi ini akan menjadi materi rekomendasi NU, yang akan dirumuskan dalam Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar 2017 di Nusa Tenggara Barat.

20total visits,2visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *