Ketika Bedug dan Neng-neng Berpadu di Vihara Avalokitesvara

Bedug itu ditabuh sebanyak 108 kali. Neng-neng, benda serupa kentongan yang terbuat dari kuningan, dipukul tiga kali.

Bunyi bedug dan Neng-neng itu menyambut tahun baru Imlek 2569, di Vihara Avalokitesvara, Kota Serang, Banten.

Nyambut aja, itu udah tradisi, kalau bedug 108, Neng-neng tiga kali. Neng-neng udahtua, kayaknya ada 100 tahun, dari saya di sini udah ada,” kata Tek An, pemukul bedug dan Neng-neng, saat ditemui di Bukhara Avalokitesvara, Kota Serang, Jumat, 16 Februari 2018.

Vihara Avalokitesvara di Kampung Pamarican, Desa Pabean, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten menjadi simbol kebhinekaan dan toleransi di bumi Banten. Letak vihara tertua di Banten itu berada sekitar satu kilometer dari Masjid Agung Kesultanan Banten.

“Ini menjadi gambaran kebhinekaan yang ada di Banten bahwa kehidupan umat beragama di Banten sangat damai,” kata Kapolres Serang Kota Ajun Komisaris Besar Polisi Komarudin, Kamis, 15 Februari 2018.

Untuk mengamankan Imlek, menurut Komarudin, pihak kepolisian menerjunkan 24 personelnya di setiap vihara. Pengamanan ini dilakukan karena negara menjamin setiap warga negara berhak menjalankan ibadah dan budayanya masing-masing, yang mencerminkan kebhinekaan Indonesia.

Sementara itu, bagi umat Buddha yang akan menuju ke vihara, petugas kepolisian siap menjadi pemandu untuk sampai ke lokasi peribadatan. “Kami berikan petunjuk khusus di Poslantas Serang Timur, termasuk petugas yang akan memberikan informasi bagi yang mau ke vihara (Avalokitesvara) Banten lama,” ujarnya.

Pada 1759, Vihara Avalokitesvara berlokasi di Loji Belanda. Lalu pada 1725, pindah ke selatan menara Masjid Pecinan Tinggi. Hingga akhirnya pada 1774, menempati Kampung Pamarican itu.

Kisah vihara itu bermula ketika Banten yang saat itu sebuah kesultanan besar, dengan pelabuhan Karangantu yang terkenal ke seantero dunia, menarik perhatian seorang putri bernama Ong Tin Nio bersama anak buah kapalnya.

Dalam perjalanan dari China menuju Surabaya, putri itu memutuskan bermalam di Pamarican yang merupakan daerah penghasil merica. Putri Ong pun merasa betah tinggal di Banten dan mendirikan vihara yang awalnya berada di bekas kantor bea (douane).

Namun kehadirannya oleh masyarakat sekitar dinilai dapat merusak akidah dan kebudayaan mereka.

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah pun menegur keras masyarakat Banten dan memediasi antara kedua pihak. Sunan Gunung Jati pun menjelaskan bahwa dalam Islam tidak ada paksaan untuk memeluk agama.

Setelah masalah dapat diselesaikan, Sunan Gunung Jati pun menawarkan kepada sang putri dan pengikutnya untuk memeluk Islam tanpa adanya paksaan. Hingga akhirnya, sang Putri yang cantik jelita beserta pengikutnya pun menjadi mualaf.

Kedatangan masyarakat Tiongkok ke Banten memiliki banyak versi. Ada yang menyebutkan bahwa masyarakat China datang ke Kesultanan Banten sekitar abad 17 Masehi, dengan bukti pada abad tersebut, banyak ditemukan perahu China yang berlabuh di Banten untuk berdagang.

Berdasarkan catatan sejarah dari J. P. Coen, banyak perahu China yang membawa dagangan senilai 300 ribu real. Dalam perkembangannya, masyarakat China tak hanya berdagang, tapi bermukim di Banten dengan lebih dari 1.300 kepala keluarga (KK).

67total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *