Kebijakan Jokowi Dinilai Tak Berafiliasi Komunisme

Kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai tidak berafiliasi paham komunisme. Dengan begitu, apabila ada anggapan kebijakan Jokowi mengusung komunime, sangat tidak tepat.

“Kalau saya nilai, kebijakan Pak Jokowi sejauh ini bukan komunis, marxis, tapi kapitalis negara lewat BUMN (Badan Usaha Milik Negara), bukan kapitalisme yang swasta. Jadi kalau dikatakan kebijakan Pak Jokowi komunis, sama sekali salah,” kata sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Thamrin Amal Tomagola saat menghadiri rilis hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk ‘Isu Kebangkitan PKI, Sebuah Penilaian Publik Nasional’ di Kantor SMRC, Jakarta, Jumat (29/9).

Thamrin sepakat dengan jawaban responden terkait anggapan Jokowi merupakan orang atau terkait PKI. Berdasarkan survei, warga yang setuju bahwa Jokowi orang atau terkait dengan PKI hanya 5,1 persen, sedangkan tak setuju 75,1 persen dan tidak tahu 19,9 persen. “Pak Jokowi komunis atau tidak, saya sepakat dengan yang dijawab responden,” ujarnya.

Kebangkitan
Thamrin menjelaskan tiga jenis kebangkitan. Pertama, kebangkitan Yesus dari liang kubur hingga diangkat. Kedua, kebangkitan bangsa Indonesia dari terjajah kemudian bertekad ingin merdeka, berupaya dan akhirnya merdeka. Ketiga, kebangkitan Partai Kebangkitan Bangsa.

Selanjutnya, dia menuturkan, kebangkitan perlu tubuh yang terdiri atas kaki, tangan, nurani dan kepala. Secara nurani, masyarakat Indonesia sangat mengutamakan kerukunan. Semua warga mengakui dan menghormati Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ditambahkan, masyarakat juga sangat mementingkan asas kekeluargaan. “Tidak ada lahan subur untuk pikiran-pikiran radikal. Pikiran radikal tidak hanya komunis, tapi juga khilafah,” tegasnya.

Terkait kaki dan tangan yang dimaksudkan Thamrin yaitu partai politik (parpol). Dia tak percaya PKI sebagai parpol akan bangkit. Sebab, sistem PKI sudah hancur lebur. “Berdiri aja enggak bisa. Telah hancur oleh Orde Baru pada saat itu,” tukasnya.

Menurutnya, ideologi marxis dan komunisme itu ada di Indonesia. Banyak kalangan anak-anak muda kelas menengah yang mempunyai pikiran itu. “Muda progresif dan kekirian-kiran. Tapi ada juga yang kekanan-kanan. Yang dilarang itu marxisme yang disiarkan ke publik,” tuturnya.

56total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *