Jokowi Sebut Kemajuan Teknologi Perlu Cepat Direspon

Menanggapi rekomendasi dari hasil Rembuk Nasional 2017 di bidang pengelolaan data dan diseminasi nasional, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membenarkan bahwa negara yang akan menang adalah yang mampu memanfaatkan kesempatan dalam menggunakan kemajuan teknologi. Selain itu mampu membuat aturan yang tepat untuk mengantisipasi perkembangan kecepatan teknologi.

“Saya betul-betul khawatir kalau ini tidak kita siapkan, cyber strategycyber lawcyber security. Memang harus ke sana karena semua akan ke sana. Siapa yang bisa siapkan opportunity ini, negara itu yang akan menang,” kata Jokowi di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (23/10) malam.

Menurutnya, dunia sudah sangat berkembang. Bahkan, ia mengaku kaget dengan kemajuan teknologi di hampir semua sektor kehidupan, di mana berbelanja hanya perlu menekan layar gawai atau bermain tenis hanya dengan perangkat virtual.

“Di Tiongkok, saya mendapat laporan 30-35 persen toko mau tutup karena ada pergeseran dari (sistem penjualan) offline ke online,” ujarnya.

Kemajuan dalam teknologi tersebut, lanjutnya pasti akan merubah kebijakan atau peta politik dan ekonomi dunia. Oleh karena itu, harus segera diantisipasi dengan tepat pemerintah.

Namun, kemajuan teknologi tersebut, menurutnya belum direspon dengan baik dengan kebutuhan penunjangnya di Tanah Air. Salah satunya, dari dunia pendidikan yang dikritiknya belum menyediakan jurusan yang sesuai dengan perubahan dan kemajuan di dunia.

Ia mencontohkan selama 30 tahun tidak ada fakultas ataupun program studi di hampir seluruh universitas di Tanah Air. Sebut saja, fakultas ekonomi yang masih saja menawarkan program studi akuntansi, manajemen dan ekonomi pembangunan. Tetapi, tidak berani membuka program studi ekonomi digital yang mengajarkan perihal toko online.

Oleh karena itu, dalam forum Rembuk Nasional 2017, ia mengingatkan menteri terkait guna mensingkronkan dunia pendidikan dengan perubahan jaman.

“Saya hanya ingin ingatkan ke depan digital semuanya. Sangat bahaya sekali kalau tidak kita mulai. Dalam 10-15 tahun yang akan datang akan terjadi apa?,” katanya.

Meskipun demikian, ia mengakui bahwa bukan hal yang mudah untuk mengubah atau membuat kebijakan dalam dunia pendidikan. Mengingat, banyaknya regulasi yang harus dibenahi terlebih dahulu.

“Saya sudah perintahkan bolak-balik. Ada tidak pak Menteri Dikti? Ruwet memang padahal sudah dipotong (aturan). Negara ini memang kebanyakan aturan,” ungkapnya.

Dalam Rembuk Nasional ketiga, di bidang cyber resilence memang direkomendasikan agar pemerintah mengantisipasi berkembangnya dunia cyber atau internet dengan membangun sistem keamanan data, membuat regulasi terkait pelanggaran dalam penggunaan internet dan membentuk satuan keamanan dunia cyber yang terdiri dari Kepolisian dan lembaga terkait.

39total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *