Jokowi Nominator Utama Capres, Ini‎ Alasan Perindo

Sekjen Partai Perindo Ahmad Rofiq, menjelaskan bahwa nama Jokowi muncul sebagai nominator utama bakal capres partai yang diketuai pengusaha Hary Tanoesudibyo (HT). Isu itu menjadi agenda paling krusial dari rapimnas partai yang rencananya dilakukan pada akhir tahun ini.

“Barang tentu kita bahas capres lain. Tapi konsentrasi kita adalah Jokowi. Dia menjadi salah satu calon, tapi nominator utama. Itu pembedanya,” kata Rofiq, Jumat (4/8).

“Tentu kalau ada capres lain, ya Ketum Perindo. Tentu sangat potensial. Tapi beliau (HT) justru memberikan pandangan lain, calon yang perlu diberi konsentrasi adalah Pak Jokowi.”

“Kita berhitung. Kita harus hitung capres harus satu visi dan jangan kalah,” tambahnya.

‎Kata dia, Ketum HT menyampaikan nama Jokowi sejak dini agar para kader mulai mengkaji mendalam. Sehingga di rapimnas nanti, bisa diputuskan secara cepat.

Menurut dia, para kader Perindo sebenarnya menginginkan HT menjadi presiden. Tapi dalam konteks lebih besar, yakni kepentingan bangsa dan bernegera, harus ada kebijakan lebih besar yang harus diambil. “Dalam konteks itu, dalam analisis sementara, Pak Jokowi sangat layak didorong sebagai presiden,” imbuhnya.

Di sisi lain, Perindo memiliki visi ingin menyejahterakan Indonesia. Kata Rofiq, pihaknya mencermati selama sekian tahun ini, memang Jokowi dianggap figur atau presiden yang bisa mencapai perubahan itu. “Maka ada kesesuaian,” kata dia.

Jokowi menjadi nominator utama juga karena Perindo melihat seorang presiden harus didukung kekuatan lebih besar. Rofiq mengatakan Perindo ingin berada di arus besar pendukung Jokowi, sehingga menambah energi di koalisi.

“Di awal pemerintahan, Jokowi terlihat terombang-ambing karena dukungannya minoritas. Sehingga terseok. Baru bisa stabil setelah beberapa tahun. Kita ingin firm di awal sehingga rakyat tak dirugikan,” bebernya.

Dia menegaskan ‎bahwa tak sepenuhnya benar bila dianggap Perindo berubah dari yang sebelumnya seakan berada di blok anti-Jokowi. Sebab Perindo tak pernah ikut “blok sana atau blok sini”. Bagi Rofiq, pendapat demikian hanyalah sekadar persepsi semata.

‎”Soal pencapresan prabowo, secara formal Perindo tak pernah mendukung. Pak Hary memang pernah secara personal mendukung Prabowo. Karena saat itu baru keluar dari Hanura, belum ada Perindo,” jelas.

“Tapi soal hubungan dengan semua parpol, harus dijaga. Kita tak cari musuh, tapi cari teman sebanyak-banyaknya.”

Ditegaskan dia juga, wacana baru Perindo itu tak ada kaitan dengan kasus hukum yang menyangkut HT. Kata Rofiq, HT adalah figur yang taat hukum. Maka konteks kasus hukum diselesaikan secara hukum. Sementara soal politik dikerangkai dalam hal politik.

“Hukum adalah hukum, politik adalah politik. Meski ada kena kasus hukum, justru beliau (HT) berpikir strategis demi kepentingan bangsa negara. Tak ada barter kebijakan atau kompromi. Hukum adalah hukum, politik adalah politik. Itu prinsip,” kata Rofiq.

95total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *