Isu Radikalisme di Pilpres 2019, PDIP: Rakyat Akan Berdiri Bersama Jokowi

Kelompok radikal dinilai tak hanya berhadapan dengan pemerintahan Joko Widodo, tetapi akan berhadapan dengan bagian terbesar penduduk negeri ini. Demikian dikatakan Ketua DPP PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira menanggapi hasil pemetaan Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) yang menyebutkan kelompok radikal bakal bersatu melawan petahana, Jokowi, pada Pilpres 2019.

“Rakyat Indonesia akan berdiri bersama Jokowi, PDI Perjuangan, dan parpol-parpol yang menolak radikalisme,” ucap Andre saat dikonfirmasi Okezone, Kamis (14/12/2017).

Anggota Komisi I DPR ini mengatakan, radikalisme terbagi menjadi dua bagian. Radikalisme sebagai gerakan akan berhadapan dengan pihak intelijen dan keamanan. Sedangkan radikalisme yang berwujud dalam politik akan berhadapan dengan mayoritas masyarakat yang menolak hal tersebut.

“Kalau radikalisme sebagai gerakan tentu berhadapan dengan pihak intelijen dan keamanan. Radikalisme politik berhadapan akan berhadapan majority politic yang menolak radikalisme, baik DPR maupun di masyarakat,” ucap Andreas.

Sebelumnya diberitakan, Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens memetakan, kelompok berpaham radikal di Indonesia bakal bersatu melawan petahana, Joko Widodo (Jokowi) di Pemilu Presiden (Pilpres) 2019.

“Jadi, Pilpres 2019 nanti menjadi pertarungan antara Jokowi dengan kelompok radikalisme,” ujar Boni dalam dalam sebuah diskusi di Hotel Aryaduta Semanggi, Jakarta Selatan, Rabu 13 Desember 2017.

Karena jumlahnya yang masih kecil, Boni memprediksi kelompok ini akan dirangkul oleh kelompok agama-politik yang cenderung bersifat pragmatis, seperti partai politik.

Selain itu, Boni menilai bergabungnya kekuatan kelompok radikal dan partai politik ini cenderung akan menggunakan isu-isu irasional untuk menggerus kepercayaan publik terhadap Jokowi sebagai lawannya di Pilpres 2019.

83total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *