Ini Empat Tokoh Penentu Politik Pemilu 2019

Empat tokoh dinilai akan memainkan peran kunci menuju Pemilu 2019. Mereka adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi), Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

“Mereka sebagai empat penjuru mata angin. Punya wilayah masing-masing,” kata Ari Nurcahyo peneliti dari Para Syndicate dalam diskusi bertema 2018: Tahun Erupsi Politik di Jakarta, Jumat (15/12).

‎Ia menjelaskan pertarungan keempat tokoh tersebut bisa melahirkan erupsi politik. Bisa erupsinya melahirkan malapetaka jika pertarungan politik seperti pada pilkada DKI Jakarta yang mengedepankan kampanye sentimen suku, ras dan agama (Sara). Namun bisa juga melahirkan erupsi positif jika keempat tokoh tersebut meraih kekuasaan secara sehat, tanpa isu Sara dan berita-berita bohong (hoax).

Menurutnya, SBY punya pengaruh di pemilu 2019 karena sebagai mantan Presiden dan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD). SBY akan memainkan peran untuk meraih kekuasaan kembali lewat putranya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). SBY juga masih punya keinginan agar PD tetap partai yang masih diperhitungkan di republik ini.

Sementara Prabowo akan menggunakan partainya yaitu Gerindra untuk bertarung. Prabowo bisa kembali mencalonkan diri, tetapi juga bisa mengusung jagonya di pemilu 2019.

Sementara Jokowi dan JK merupkan dua tokoh tidak memegang partai politik (Parpol). Namun mereka bisa mempengaruhi konfigurasi poltik. ‎JK yang mantan Ketua Umum Partai Golkar akan tetap berupaya menguasai partai berlambang pohon beringin tersebut. Namun Jokowi juga punya kepentingan atas Golkar untuk pencalonan dirinya dan pengamanan pemerintahan hingga 2019.

‎Dia menegaskan tidak memasukkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam penjuru mata angin karena Megawati bukan lagi dalam posisi petarung politik. Posisi Megawati sebagai moral politik yang sedang menuju kenegarawan.

“Megawati bukan lagi petarung politik tapi moral politik. Megawati sedang bertransformasi menuju negarawan,” ujar Ari.

Dia menambahkan dalam pertarungan menuju 2019, pertarungan program dan wacana membangun bangsa akan minim. Yang dominan adalah kampanye-kampanye agitatif, kampanye SARA dan maraknya berita hoax. Kampanye seperti dalam Pilkada DKI Jakarta akan kembali muncul, dimulai Pilkada serentak 2018 dan berlanjut hingga Pemilu 2019.

“Ini ancaman Pemilu 2019. Kita berharap nantinya tidak melahirkan eruspi yang membawa malapetaka,” tutup Ari.

87total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *