Ini 5 Pengakuan Teranyar Setnov di Sidang Lanjutan Korupsi E-KTP

Lima fakta teranyar kembali diungkap oleh Mantan Ketua DPR RI Setya Novanto (Setnov) pada sidang lanjutan kasus pengadaan korupsi e-KTP hari ini, Kamis 22 Maret 2018. Dalam sidang tersebut, Jaksa Penuntut KPK mendengarkan berbagai kesaksian terbaru Setnov yang cukup mengejutkan publik.

Di awal persidangan, Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu sempat meneteskan air mata sesaat setelah dibukanya persidangan oleh Majelis Hakim. Setelah itu, Setnov meminta maaf kepada seluruh pihak bahkan masyarakat apabila ada kesalahan yang dia perbuat.

Pada sidang yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Setnov cukup mengungkapkan banyak hal. Mulai dari secara blak-blakan membeberkan sejumlah nama yang diduga turut menikmati uang haram itu hingga mengakui kesaksian yang sebelumnya pernah dibantah.

Berikut ini adalah sejumlah fakta terbaru dalam persidangan kasus pengadaan korupsi e-KTP hari ini:

1. Mengakui Terima Arloji Mewah Richard Mille

Pada persidangan sebelumnya, Setya Novanto membantah bahwa di tahun 2012 pernah mendapatkan arloji mewah Richard Mille yang diberikan oleh Direktur PT Biomorf, Johannes Marliem dan Andi Agustinus. Arloji asli yang dibeli di Benerly Hills, Amerika Serikat tersebut diketahui dibeli secara patungan oleh Andi dan Marliem karena harganya yang sangat fantastis.

Namun, dalam persidangan tadi, Setnov mengakui bahwa pernah menerima arloji mewah itu dari pengusaha Andi Agustinus. Dia menjelaskan bahwa arloji yang disebutkan berwarna kuning tersebut beberapa kali sempat mati.

Tetapi, Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu membantah menerimanya sebagai hadiah ulang tahun di tahun 2012 dan dirinya memberikan keterangan bahwa arloji tersebut didapatkan di tahun 2016. Sontak saja hal itu membantah pengakuan Marliem yang mengakui memberikan suap ke Novanto pada tahun 2012 lalu ke Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) terkait jam tersebut

2. Mengakui Kenal pengusaha Andi Agustinus

Seiring dengan pengakuannya yang pernah menerima arloji dari Johannes Marliem dan Andi Agustinus, maka secara langsung Setnov mengakui bahwa mengenal sosok Andi yang sudah divonis 8 tahun penjara tersebut. Bahkan, ia membenarkan pernah sarapan di kediamannya dan bertemu di ruang kerja di lantai 12 gedung DPR.

Walaupun akhirnya mengakui, Setnov tetap memberikan keterangan bahwa hubungannya dengan Andi hanya sebatas pengusaha konsorsium. Padahal, beberapa pejabat mengakui sering melihat Andi bolak-balik di Gedung DPR.

3. Mengungkap Aliran Uang ke Pramono Anung dan Puan Maharani

Dua nama petinggi politikus PDI Perjuangan, Puan Maharani dan Pramono Anung juga diakuinya telah menerima uang sebanyak USD500 ribu dalam proyek pengadaan e-KTP tersebut. Menurut Setnov, hal itu diketahuinya saat melakukan pertemuan dikediamannya yang dihadiri oleh Andi Agustinus alias Andi Narogong, Irvanto Hendra Pambudi dan Made Oka Masagung. Mendengar hal itu, Majelis Hakim kembali mengonfirmasi soal pengakuan Setnov. Setnov kembali mempertegas bahwa informasi itu didapatkan dari Made Oka saat hakim kembali menanyakan darimana informasi itu didapatkan oleh Setnov.

4. Mengungkap Aliran Uang ke Pimpinan Komisi II DPR

Selain dua politisi PDIP, Setnov juga buka-bukaan soal pembagian jatah untuk para pimpinan Badan Anggaran DPR dan pimpinan Komisi II DPR RI ketika proyek tersebut bergulir. Menurutnya, uang tersebut ada yang diberikan oleh Andi Narogong dan keponakannya Irvanto Hendra Pambudi.

Dia mengatakan bahwa aliran uang tersebut diberikan kepada pak Chairuman sejumlah USD500 ribu dan untuk Ganjar Pranowo yang sudah dipotong oleh Chairuman. Selain itu, untuk kepentingan pimpinan banggar juga diberikan melalui Melchias Mekeng sebesar USD500 ribu, Tamsil Linrung USD500 ribu, Olly Dondokambey USD500 ribu yang diberikan melalui Irvanto.

5. Mengakui Gunakan Uang untuk Rapimnas Golkas 2012

Walaupun sebelumnya sempat membantah, pada persidangan hari ini, setnov akhirnya mengakui pernah menerima uang senilai Rp 5 miliar dan diakuinya sudah dikembalikan ke KPK. Dia mengakui bahwa pada akhir 2011 Andi Anrogong merealisasikan pemberian ke beberapa anggota dewan.

Setnov juga mengungkapkan bahwa aliran dana proyek pengadaan e-KTP tersebut ada yang mengucur untuk pembiayaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar. Informasi itu, kata Setnov didapatkan dari keponakannya sendiri Irvanto Hendra Pambudi. Dia juga menyebutkan bahwa pada 2012 lalu Irvanto memang sempat berkontribusi membayarkan kekurangan dalam Rapimnas Partai Golkar.

70total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *