Ngetawain Kelompok Bumi Datar

0

“Min, kamu udah dengar kabar belum? Ada penemuan baru lho…!”, tanya Jupri pada Sarmin di pos ronda.

“Penemuan baru apaan Jup?” Sarmin balik bertanya.

“Ternyata bumi itu datar. Jadi apa yang kita dengar selama ini kalau bumi itu bulat, salah Min!” Jawab Jupri penuh semangat.

“Siapa yang menemukan Jup? Terus nemuinnya di mana?” Sarmin juga terlihat serius.

“Yang nemuin itu ilmuwan Min…! Temuannya pakai data, bukan menemukan di mana!” Jupri mulai sedikit kesal dengan Sarmin yang memang sering telat mikir.

“Ooo…!!! Kirain ilmuwan itu menemukan bumi yang bentuknya datar di satu tempat. Kayak aku nemuin dompet di jalan kemarin!” Kata Sarmin dengan polosnya.

Jupri yang mahfum dengan kebodohan Sarmin, sebenarnya sudah enggan menanggapinya lagi. Namun karena saat itu mereka hanya berdua, ia pun berusaha menjelaskannya. Itung-itung agar suasana tidak vakum sambil menunggu kedatangan warga lainnya yang mendapat tugas ronda. “Nggak gitu Min! Ilmuwan itu ngumpulin data, terus data itu dianalisis dan disimpulkan. Nah, kesimpulan ilmuwan itu bahwa bumi ini datar, bukan bulat.”

Sarmin manggut-manggut, “Hemmm… Jadi gitu toh! Ngomong-ngomong, analisis itu apaan!?”

Gubraakkkk!!! Mendengar itu, Jupri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

“Sarmin, Sarmin…Bodoh kok dipelihara! Aku jelasin ya, tapi kau dengerin baik-baik! Analisis itu cara menyimpulkan sesuatu berdasarkan data yang ada. Contohnya gini, dulu kan ada petugas sensus yang datang ke kampung kita. Mereka itu tugasnya mencari data tentang keadaan penduduk di kampung kita. Dari data itu, mereka tahu kalau sebagian besar penduduk kampung kita berpenghasilan rendah. Jadi, kesimpulannya kampung kita ini tergolong miskin!”

“Kok bisa mereka bilang kampung kita miskin!? Emangnya waktu mendata, keluarganya Pak Dirja nggak ikut didata ya? Pak Dirja kan kaya raya!” tungkas Sarmin.

“Kan hanya keluarga Pak Dirja, Min…! Kalau dibandingkan dengan jumlah warga di kampung kita, menurutmu lebih banyak yang kaya apa yang miskin!?”

“Ya, lebih banyak yang miskin sih!”

“Kalau begitu analisis mereka benar!” Jupri terlihat sumringah melihat Sarmin mulai paham dengan penjelasannya.

Tapi, itupun hanya sesaat karena Sarmin segera menolak pendapatnya. “Kok kamu bilang benar Jup! Mestinya mereka bilang saja kalau warga kita banyak yang miskin, tapi yang kaya juga ada. Coba kamu pikir, kalau kampung kita dibilang miskin, Pak Dirja kira-kira tersinggung nggak!?”

“Hadehhh…!!! Emang susah ngomong sama kamu Min!” kata Jupri bersungut-sungut.

“Kamu aja yang suka buat susah Jup! Analisis yang belum tentu benar saja kamu pikirin. Mestinya tuh, kita mikirin aja gimana caranya agar hidup kita tidak susah lagi seperti sekarang. Mau bumi datar kek…! Mau bulat kek…! Emangnya ngaruh ama hidup kita!?” timpal Sarmin.

Dalam hati, sesungguhnya Jupri membenarkan kata-kata Sarmin. Namun karena ia sudah terlanjur dongkol, ia pun menjawabnya sinis, “Terserah…! Pikirin aja kesusahanmu sendiri.”

Sarmin menjawab sekenanya, “Ya iya lah, Jup! Masak kamu yang mikirin aku. Gak perlu kamu bilang aku juga sudah tahu!”

Jupri sudah malas melanjutkan pembicaraan. Lagipula, beberapa warga yang mendapat tugas ronda malam itu sudah datang. Jupri terus melontarkan berita tentang bumi datar itu pada mereka dan menjadi perbincangan hangat malam itu. Sarmin hanya mendengar perbincangan mereka tanpa banyak komentar. Mungkin karena dia tidak memahami sepenuhnya yang mereka bicarakan, karena menurutnya itu tergolong pembicaraan kelas tinggi.

Selang beberapa hari kemudian, Sarmin memanggil Jupri yang sedang melintas di depan rumahnya. “Jupri… Tunggu!”

“Ada apa Min?” Jawab Jupri malas-malasan.

“Berita tentang bumi datar itu ternyata lagi ramai dibicarain warga lho!”

Mendengar itu, Jupri terlihat bersemangat, “Betul kan kataku! Makanya, sesekali ikuti perkembangan berita Min, biar nggak kuper jadi orang.”

“Kuper itu apaan!?” Tanya Sarmin sambil mengerutkan dahinya.

“Kurang pergaulan!” Jawab Jupri singkat.

“Ooo… Tapi ada yang aku nggak ngerti Jup! Katanya bumi datar itu sudah dihuni oleh kaum tertentu. Emang bumi datar itu tempatnya di mana sih?” Cerocos Sarmin dengan wajah serius.

Jupri tersenyum sinis, “Kirain kamu sudah tambah pinter, ternyata masih sama saja Min!”

“Ya gak mungkin lah Jup…! Masak gara-gara dengar berita tentang bumi datar saja, aku jadi tambah pinter. Bukannya kalau mau tambah pinter harus sekolah lagi. Lha, aku sudah tua gini masak harus sekolah lagi!” Ujar Sarmin dengan polosnya.

“Min, aku kasih tahu lagi ya! Bumi datar itu pendapat terbaru dari seorang ilmuwan…,” belum sempat Jupri menyelesaikan kata-katanya, Sarmin sudah menyela “Terus penduduknya yang dibilang dari kaum tertentu itu siapa?”

“Makanya Min, dengerin dulu penjelasanku!” Bentak Jupri yang membuat Sarmin terdiam.

Kemudian, Jupri melanjutkan penjelasannya, “Ada seorang ilmuwan yang berpendapat bahwa bumi itu datar, bukan bulat seperti pendapat ilmuwan sebelumnya.”

“Ooo… Kalau cuma bikin pendapat yang beda begitu aku juga bisa Jup! Aku bisa berpendapat jika bumi itu lonjong atau kotak, iya kan!?” Tungkas Sarmin.

“Tapi ini ilmuwan yang ngomong Min!”

“Ilmuwan juga manusia kan? Kita juga manusia!” Debat Sarmin tidak mau kalah.

“Iya, tapi bukan manusia oon seperti kamu. Sudah ah, males ngomong sama kamu!” Jupri mengayuh sepedanya meninggalkan Sarmin bengong sendirian. Sarmin menggelengkan kepala dan bersikap masa bodo, ia pun berjalan kembali ke rumahnya.

Selepas perbincangan itu, Jupri mulai enggan berteman lagi dengan Sarmin. Dia berusaha menghindar bertemu muka dengan Sarmin, bahkan sampai mengubah jadwal ronda supaya tidak bersama-sama lagi. Namun Sarmin tidak pernah peduli sikap Jupri yang berubah padanya karena ia tidak pernah merasa dekat atau bermusuhan. Bagi Sarmin, Jupri sama saja dengan warga yang lain, hanya teman biasa saja. Prinsip Sarmin dalam hidup memang sederhana, ‘Hidup itu soal sehari-hari! Bagaimana bisa mencukupi kebutuhan dasar keluarga, itu sudah cukup baginya!’ Bahkan masalah bumi datar sama sekali tidak mengganggu pikiran dan aktivitasnya.

Berbeda dengan Jupri yang hidupnya penuh ambisi. Dengan pendidikan yang relatif lebih tinggi untuk ukuran orang-orang di kampungnya, ia merasa bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Tetapi nasib baik ternyata kurang bersahabat dengannya. Kalah dalam pemilihan kepala desa dengan seorang yang pendidikannya sederajat lebih rendah darinya, membuatnya begitu sakit hati. Ia pun berpikir untuk mengubah jalan hidupnya dengan mengadu nasib ke kota. Tidak tanggung-tanggung lagi! Bukan hanya kota, melainkan ibukota.

Hingga tanpa terasa, setahun sudah Jupri meninggalkan kampung halamannya. Selama itu, Jupri memang mulai terlihat menapaki kesuksesan di ibukota. Rumahnya di kampung sudah direnovasi sehingga terlihat paling bagus dibandingkan rumah tetangga-tetangganya. Isterinya juga sudah menaiki motor keluaran terbaru.

Saat lebaran tiba, Jupri mudik ke kampungnya. Wowww! Penampilan Jupri benar-benar berubah! Sebuah mobil keluaran terbaru mengantarkannya masuk ke pintu gerbang rumahnya. Segera ia menjadi buah bibir di kalangan warga kampungnya.

“Hebat kamu Jup…! Baru setahun kerja di Jakarta, kamu sudah sukses sekarang!” Kata Hardi kepada Jupri selepas sholat Id.

“Ah, ini belum seberapa Har…! Aku baru merintis usaha!” Jawab Jupri seraya tersenyum lebar, serasa bangga dengan pujian Hardi.

“Emang kamu usaha apaan di Jakarta, Jup…?” Tanya Hardi lagi.

“Hanya bisnis kecil-kecilan kok, tapi hasilnya lumayan besar!”

Mbok aku diajak, biar bisa mengubah hidup kayak kamu. He…he…he…!” Pinta Hardi yang disambut tawa renyah Jupri.

“Boleh banget Har! Memang gue pulang bukan hanya untuk lebaran, sekalian juga mau ngajak warga kampung kita yang mau bekerja denganku. Siapa tahu aku bisa bantu memperbaiki kehidupan mereka dengan bekerja di Jakarta!” Jupri sudah mulai latah bilang gue sekarang.

“Beneran nih Jup…! Aku ikut kamu ya! Aku juga akan mengajak warga yang lain. Siapa tahu ada yang berminat.” Pungkas Hardi.

Berita kesuksesan Jupri dan keinginannya mengajak warga kampung untuk bekerja di Jakarta tersebar luas. Sudah ada sejumlah warga yang menyatakan kesiapannya untuk mengikuti Jupri bekerja di Jakarta.

Tidak demikian halnya dengan Sarmin. Bahkan ketika Jupri sendiri yang mengajaknya, ia menolaknya halus. “Maaf Jup, rezeki itu tidak bisa dikejar kemana-mana kalau memang bukan jatah kita! Kalau kamu sukses di Jakarta, belum tentu aku juga bisa sukses!” katanya.

“Benar Min…! Tapi tidak ada salahnya kau mencoba. Siapa tahu keberuntunganmu ada di Jakarta, bukan di sini.” Rayu Jupri.

“Sekali lagi maaf Jup! Aku lebih senang bertani. Aku sudah merasa bahagia bisa tinggal di sini bersama isteri dan anak-anakku.” Tolak Sarmin.

“Min, kalau kamu nanti sukses di Jakarta. Kamu bisa ajak keluargamu tinggal di sana! Suasana Jakarta pasti akan menyenangkan buat mereka. Itu kota besar lho Min, banyak hiburan. Tidak seperti kampung kita ini!” Jupri tak mau menyerah begitu saja.

“Iya Jup, aku ngerti! Tapi aku pingin tetap di kampung saja. Mudah-mudahan kamu bisa tambah sukses di Jakarta.”

Merasa tidak bisa lagi mengubah pendirian Sarmin, Jupri meninggalkan rumah Sarmin tanpa sepatah kata pun. Ia merasa sakit hati mendapat penolakan itu.

Seminggu kemudian, Jupri balik ke Jakarta dengan mengajak beberapa warga kampung. Setibanya di Jakarta, Jupri langsung bergelut dengan kesibukan yang luar biasa. Mengingat saat itu ada even politik yang mengagendakan banyak momen pengerahan massa. Momen ini tentu memberi keuntungan melimpah bagi usaha Jupri. Dan sekarang, keuntungan besar menanti Jupri karena demonstrasi secara besar-besaran dan bergelombang sudah diagendakan oleh kelompok pendukung salah seorang calon. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk menjatuhkan calon lain.

Untuk masuk ke dalam kelompok tersebut, Jupri harus mengubah penampilannya. Sebab mayoritas kelompok itu meyakini teori bumi datar. Namun itu bukanlah perkara yang sulit buat Jupri, karena aksesoris itu mudah diperoleh di toko-toko busana. Kecuali satu hal, membiasakan diri menggunakan ucapan-ucapan religius. Siapa yang tidak tahu Jupri di kampungnya, kata-kata kasar mengumpat mudah sekali mengalir dari mulutnya.

Momen yang dinanti Jupri akhirnya sampai juga. Demonstrasi besar tahap pertama segera digelar dan Jupri mendapat kehormatan menjadi koordinator pengerahan massa. Bayaran yang dijanjikan untuknya juga sangat menggiurkan, yakni ‘sepuluh ribu bersih’ untuk satu orang pendemo. Jupri tentu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Bayangkan saja, sepuluh milyar akan ia peroleh, jika ia berhasil menghadirkan satu juta pendemo. Enaknya lagi, untuk mencapai jumlah itu tidak diperlukan angka yang riil. Ia hanya perlu bekerja keras untuk membuat suasana Jakarta seolah-olah sedang dibanjiri pendemo. Selanjutnya, Jupri tinggal melaporkannya kepada penyandang dana bahwa ada sejuta orang yang ikut demo. Semua urusan beres!

Dengan berbusana ala penghuni bumi datar lainnya, Jupri mulai rajin mendatangi warga Jakarta untuk mengajak mereka demo. Isu yang dilontarkan sudah digodok matang dan Jupri tinggal menambahkan bumbu-bumbunya agar semakin menggugah. Tidak hanya itu, Jupri juga semakin rajin bermain di media sosial untuk menjaring pendemo dari luar Jakarta.

Hasilnya!? Wooww!!! Jakarta benar-benar dikepung banjir massa. Pejabat yang selama ini getol mengurangi banjir, dibuat tidak berkutik dengan banjir yang satu ini. Sebab, dia adalah sasaran tembak utama demo tersebut.

Demonstrasi yang semula damai, akhirnya berujung ricuh. Beberapa pendemo dan aparat kepolisian harus dilarikan ke rumah sakit. Jupri pun harus berurusan dengan pihak berwajib karena kapasitasnya sebagai koordinator pengerahan massa. Hingga suatu saat, wajah Jupri nongol di beberapa televisi nasional.

“Kami meminta maaf karena tidak bisa mengendalikan pendemo yang jumlahnya demikian besar. Kami sudah berusaha menjaga diri agar tidak terjadi kerusuhan dalam demo ini. Akan tetapi, karena terus diintimidasi oleh aparat kepolisian, akhirnya anggota kami tidak bisa menahan diri. Saya siap mempertanggungjawabkan kejadian ini secara hukum.” Pernyataan Jupri di layar televisi.

Di tempat lain, Sarmin yang melihat Jupri di layar televisi berteriak pada isterinya, “Bu… Bu….! Lihat Si Jupri masuk tipi!”

“Benar ya Pak! Hebat banget ya si Jupri, sudah masuk tipi sekarang. Benar-benar sukses dia di Jakarta. Bapak sih, dulu gak mau diajak ama Jupri! Kalau dulu Bapak mau, pasti Bapak juga bisa masuk tipi kayak si Jupri!” Celoteh isterinya.

“Iya ya Bu…! Si Jupri udah kayak artis sekarang.”

Berita si Jupri masuk televisi kian merebak di kampung itu. Apalagi setelah Jupri kerap berurusan dengan pihak kepolisian akibat aksi demo yang berlangsung ricuh itu. Beberapa warga kampung terlihat semakin rajin mengikuti berita di media dan memperbincangkan Jupri yang kini telah berubah laksana selebritis. Ada yang bangga melihat warga kampungnya jadi orang terkenal, sebaliknya banyak juga yang menyayangkan sikap Jupri bergabung dengan kelompok yang disebut-sebut penghuni bumi datar itu.

Mendengar perbincangan hangat di kampungnya, Sarmin hanya menggumam lirih dalam hati, “Ooo… Ternyata bumi datar itu adanya di Jakarta dan sekarang Jupri telah menjadi penghuninya. Tapi kok kemarin si Jupri bisa pulang ke kampung ini lagi. Apakah kampung ini juga termasuk bumi datar itu?” Pertanyaan itu terus menggelayuti benak si Samin.

Hingga Sarmin tersentak merasakan bahunya ditepuk oleh seseorang. “Eh..Hardi! Kapan kamu datangnya?” tanya Sarmin melihat Hardi sudah berdiri di sampingnya.

“Semalam Kang!” Jawab Hardi singkat.

“Lhoo, kok kamu malah pulang. Nggak ikut si Jupri masuk tipi!?”

“Nggak Kang! Aku mau kerja di kampung ini saja kayak Akang.”

“Kenapa Har…!? Kamu nggak pingin sukses kayak si Jupri?”

Hardi menyahutinya dengan senyuman ringan, “Untuk apa kita sukses kalau hidup yang kita jalani penuh dengan kemunafikan. Aku nggak bisa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraniku Kang!”

Sarmin hanya bengong mendengar jawaban Hardi, “Maksudnya, kamu nggak dibayar ama si Jupri?”

Hardi menyimpan tawanya mendengar jawaban Sarmin, “Dibayar sih Kang! Tapi apa yang kulakukan itu tidak sesuai dengan hati nuraniku!”

“Ah, nggak ngerti aku Har! Kalau aku sih, yang penting kerja dapat uang. Emang kamu disuruh kerja apaan sama si Jupri?”

“Kang Sarmin lihat demo yang di tipi kemarin?”

“Demo yang di Jakarta itu ya? Iya Har… Aku lihat di tipi kemarin…! Kamu juga lihat?” tanya Sarmin.

“Bukan lihat Kang! Aku adalah salah satu peserta demo itu!” Tegas Hardi.

“Ngapain kamu ikut demo Har! Emangnya kamu kenal dengan orang yang kamu demo itu? Terus salahnya dia apa?” Sarmin semakin tidak mengerti mendengar bahwa Hardi juga ikut demo yang dilihatnya di tipi kemarin.

“Itulah yang aku maksud bertentangan dengan hati nuraniku Kang! Aku sebenarnya tidak punya masalah apa-apa dengan orang yang didemo kemarin itu. Malahan kalau boleh aku jujur, sesungguhnya aku suka dengan orang itu!” Jawab Hardi.

“Dia kan laki-laki Har! Masak kamu suka!?”

Hardi tidak bisa lagi menahan tawanya mendengar kata-kata Sarmin yang begitu polos. “Kang..Kang! Bukan suka, seperti suka dengan perempuan maksudku. Aku suka dengan caranya memimpin Jakarta selama ini. Banyak perubahan kok. Tapi karena aku dibayar oleh si Jupri, ya mau nggak mau aku harus ikut. Makanya, aku putuskan pulang saja karena rencananya akan ada demo-demo lanjutan sampai orang yang didemo itu bisa diberhentikan dari jabatannya sekarang. Aku nggak mau ikut demo lagi Kang!” ,

Sarmin yang masih bingung dengan semua itu, kembali bertanya, “Emang si Jupri juga suka ikut-ikutan demo yang kayak kemarin itu ya?”

Hardi menyahut pelan, “Bukan hanya ikut-ikutan Kang. Itu kerjaannya Si Jupri. Dari situ dia memperoleh uang. Siapapun yang ingin demo, Jupri yang akan menyiapkan pendemonya. Mungkin kalau orang yang kita demo kemarin itu mau demo juga, bisa jadi si Jupri juga yang akan mimpin demonya!”

“Walah…walah…! Ternyata, nggak punya pendirian ya si Jupri!”

Hardi tersenyum lebar, “Itulah Kang! Makanya, lebih enakan kerja di kampung sendiri seperti Kang Sarmin. Walaupun hasilnya sedikit, tapi kita merasa bahagia. Baiklah Kang! Aku mau ke rumah Pak Dirja dulu. Mau nanya ada kerjaan nggak di kebunnya.”

“Baik Har…! Kamu coba tanyakan sama Pak Dirja. Kalau ada kerjaan di kebun, nanti beri tahu aku ya. Aku juga lagi sepi kerjaan nih!”

Sarmin menatap Hardi yang mengayuh sepedanya hingga menghilang di kejauhan. Sekali lagi, ia memikirkan perbincangannya dengan Hardi barusan.

“Oh, jadi begitu ya penghuni bumi datar. Gak punya pendirian! Hehee… Jupri…Jupri…! Saat penduduk bumi datar ingin demo, kamu ikutan nimbrung ke sana. Mungkin kalau di bumi datar nggak ada demo lagi, kau akan kembali lagi ke bumi bulat. Kamu kan tidak punya pendirian Jup!” Gumam Sarmin dalam hati.

Tamat!

723total visits,1visits today

Share.

About Author

Leave A Reply