Hasto Akui PDIP Terlalu Asyik Urus Soal Kekuasaan

PDI Perjuangan mengakui pihaknya terlalu asyik mengurus kekuasaan sehingga banyak muncul permasalahan di Indonesia khususnya munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) di Asmat, Papua.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri turut menyampaikan keprihatinan itu, melalui Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto di sela-sela acara Sekolah Partai yang diikuti 101 calon kepala dan wakil kepala daerah.

Hasto menyebut, Megawati menilai kasus yang melanda Suku Asmat tidak seharusnya terjadi jika pejabat publik memiliki kepedulian pada warga Papua.

“Terhadap apa yang terjadi di Asmat, Ibu Mega mengatakan seharusnya tidak perlu terjadi,” kata Hasto.

“Kita terlalu asyik di dalam mendapatkan kekuasaan dengan segala cara, sampai melupakan bahwa kekuasaan peri kehidupan,” sambung Hasto.

Untuk itu, kata Hasto, Megawati berharap agar tokoh politik lebih peduli dengan hal-hal yang berkaitan dengan Suku Asmat.

“Dengan memperhatikan bagaimana ibu-ibu yang hamil anak-anak yang berada dalam kandungan yang seharusnya mendapatkan sentuhan politik dengan nilai-nilai kemanusiaan itu,” kata Hasto.

Hasto Kristiyanto juga memastikan seluruh kadernya tidak akan menggunakan kekuasaan dalam memenangkan pasangan calon kepala daerah dalam Pilkada serentak 2018.

“Jangan sekali-kali partai-partai yang ada dalam pemerintahan, termasuk PDIP berpikir jangka pendek untuk menggunakan kekuasaan hanya sekadar untuk menang,” ujar Hasto.

Persoalan usulan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo terkait penjabat gubernur Jawa Barat dan Sumatera Utara dari perwira tinggi kepolisian, kata Hasto bukan merupakan kepentingan PDIP, tetapi hal tersebut merupakan ranah pemerintah.

“Jabar ini gubernur incumbent habis masa jabatannya pertengahan Juni 2018, atau sekitar 10 hari sebelum Pilkada dilaksanakan, sehingga persoalan terkait dengan penjabat, kami tidak pernah berpikir (memanfaatkan) karena ini adalah kewenangan pemerintah,” tutur Hasto.

Menurut Hasto, penjabat gubernur yang nantinya ditunjuk pemerintah memiliki tugasnya sendiri, yaitu menjaga suasana Pilkada di Jawa Barat maupun Sumatera Utama agar tetap berjalan kondusif.

“Kami yakini pemerintah Pak Jokowi dengan seluruh jajaran kementeriannya sebagai pembantu presiden akan mendengarkan seluruh aspirasi, bagaimana pemerintah betul-betul mamastikan pemilu bisa berjalan secara demokratis,” ucap Hasto.

Pada kesempatan tersebut Hasto juga bercerita mengenai partainya diserang sejumlah isu miring di tengah masyarakat.

“Kami kemarin ini, baru mendapatkan berbagai serangan. Untuk calon-calon dari PDI-P. Ada pihak-pihak yang mengatakan, jangan pilih (pasangan calon dari) partai A, jangan pilih partai B, jangan pilih partai C.” ujar Hasto.

“Tapi sebagaimana tadi kami katakan, PDI-P itu sudah kenyang dengan berbagai isu negatif,” lanjut dia.

Hasto kemudian menyebutkan sejumlah momen sulit Megawati sebagai pemimpin partai di era 90’an.

Salah satunya saat Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat diserang sekelompok orang.

“Bayangkan kantor partai diserang saat itu. Kami tetap tertib hukum. Kalau mau ikut emosi, seluruh barisan PDI-P di seluruh nusantara sudah bergerak dengan seluruh kekuatannya. Tetapi kita terus diajarkan untuk taat pada hukum,” ujar Hasto.

Ia juga menyebutkan saat PDI Perjuangan dilarang ikut Pemilu. Hasto memastikan, PDI-P dapat melalui sejumlah momen kelam itu dan tetap eksis sampai sekarang.

Hasto menegaskan, jangan ada pihak-pihak yang mencoba memunculkan isu negatif kepada PDI Perjuangan. Hal itu dinilai sama saja dengan mengkerdilkan suara rakyat itu sendiri.

“Itu malah mengkerdilkan suara rakyat itu sendiri. Suara rakyat seolah-olah bisa dimanipulasi oleh elit dengan ujaran kebencian, dengan ujaran yang memecah belah bangsa. Padahal 28 Oktober 1928 kita adalah satu bangsa, bertanah air satu, menjunjung tinggi bahasa persatuan,” ujar Hasto.

Hasto sekaligus menekankan bahwa seluruh bakal calon kepala daerah yang diusung oleh PDI Perjuangan bukan orang sembarangan.

Mereka memiliki kemampuan, rekam jejak dan profesionalitas yang tak diragukan lagi dalam membangun daerah.

Oleh sebab itu, Hasto yakin masyarakat tidak termakan isu negatif tersebut.

Sekolah calon kepala daerah yang digelar pun bertujuan agar para ‘jagoan’ PDI Perjuangan itu mendapatkan pembekalan tentang ideologi Pancasila.

Bisa memahami tata kelola yang baik di pemerintahan, bagaimana memenangkan Pilkada dengan cara-cara positif sekaligus mengimplementasikan visi misi partai dalam kepemimpinan di daerah kelak.

“Oleh sebab itulah sekolah para calon kepala daerah ini diadakan. Sebagai bagian dari keyakinan Ibu Mega bahwa pemimpin haruslah dipersiapkan. Kami PDI-P tetap kokoh meskipun kami sering dideskreditkan dengan berbagai isu yang tidak bertanggung jawab,” ujar Hasto.

80total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *