Gunung Agung Dalam Level Awas, BNPB Pasang Sirine

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memasang lima unit sirine peringatan dini apabila Gunung Agung yang terletak di Kabupaten Karangasemm, Bali, meletus.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho ketika dihubungi dari Pos Pengamatan Gunungapi di Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, Rabu (27/9) mengatakan, sirine tersebut dipasang tempat yang strategis antara lain di Polsek Kubu, Pos Polisi Tianyar, Polsek Selat, dan Polsek Rendang.

Menurutnya, sirine itu dipasang sebagai sarana peringatan kepada masyarakat agar segera mengungsi atau menghindar dari bahaya letusan Gunung Agung. Dia menjelaskan sirine itu bisa didengar dalam radius dua kilometer.

“Sirine dibunyikan secara manual oleh petugas jaga yang terhubung Pos Komando Utama di Karangasem,” ucapnya.

Selain sirine, BNPB juga memasang rambu-rambu evakuasi yang menginformasikan posisi di lapangan dari radius berbahaya. Peta radius berbahaya letusan Gunung Agung ditetapkan dengan rambu bertuliskan “Anda saat ini berada di radius sembilan kilometer dari puncak kawah Gunung Agung”.

PVMBG mencatat aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tetap tinggi dengan 329 kali gempa vulkanik dangkal, 444 kali gempa vulkanik dalam, dan 56 kali gempa tektonik lokal hingga pukul 18.00 Wita. Secara visual asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50 meter di atas kawah puncak.

Sementara itu jumlah pengungsi terus bertambah mencapai 96.086 jiwa di 430 titik pengungsian tersebar di sembilan kabupaten/kota di Bali hingga Rabu sore.

Masalah Kesehatan
Seiring dengan meningkatnya jumlah pengungsi, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya mengatakan sejumlah pengungsi di lokasi penampungan siaga darurat Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, mulai terjangkit penyakit infeksi saluran pernapasan, diare, dan hipertensi.

“Dari pantauan kami, dalam satu posko pengungsian yang menderita infeksi saluran pernapasan dan diare berkisar 20-30 orang, bahkan ada yang sampai harus dirujuk ke rumah sakit umum daerah,” kata Suarjaya di Denpasar, Rabu (27/9).

Menurutnya, penyebab penyakit itu karena di tengah musim kemarau saat ini banyak debu yang terhirup oleh pengungsi, di samping juga akibat faktor sanitasi yang mungkin kurang bagus.

“Banyak pengungsi yang juga saya lihat merokok sembarangan, padahal di situ banyak balita, anak-anak, ibu hamil dan kaum lansia. Selain itu, fasilitas MCK (mandi, cuci, dan kakus) yang jumlahnya sangat kurang,” ujarnya.

Pemerintah, lanjut Suarjaya, telah menaruh perhatian terhadap persoalan ini, bahkan telah mengerahkan petugas sanitarian, di samping menyiagakan tenaga kesehatan yang jumlahnya hingga berlebih.

“Masalahnya, untuk pencegahan terhadap penyakit ini, sangat memerlukan dukungan dari para pengungsi sendiri yang harus menjaga kesehatan diri dan turut membersihkan lingkungan. Jangan sampai karena keterbatasan sarana MCK, lalu malas mandi, tidak mencuci tangan sebelum makan dan buang air sembarangan,” ucapnya.

Sedangkan dari sisi dapur umum, kata Suarjaya, dilihat dari jenis makanan yang disajikan kepada pengungsi gizinya sudah cukup bagus dan berimbang, tinggal dari sisi kebersihannya yang harus terus dijaga.

“Kami juga telah menyiapkan biskuit bergizi yang dapat diberikan untuk anak-anak dan ibu hamil, sebagai upaya untuk memenuhi kecukupan gizi pengungsi,” katanya.

Sementara dari sisi obatan-obatan, juga diakui jumlahnya sudah mencukupi dan pihaknya telah mengingatkan para petugas kesehatan agar rasional dalam menggunakannya.

“Kami mengharapkan kesadaran para pengungsi untuk menjaga kesehatan, karena jika tidak kasus penyakit tersebut akan semakin berkembang. Apalagi kemungkinan para pengungsi akan tinggal lama di tempat tersebut,” ujar Suarjaya.

167total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *