Gelar Perkara Dilanjutkan, Polisi Segera Tetapkan Tersangka Baru Kasus Beras PT IBU

Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Tipideksus) Bareskrim Polri akan melanjutkan gelar perkara kasus kecurangan produksi beras PT Indo Beras Unggul (PT IBU) terhadap konsumen dan pihak lain yang melanggar Undang-Undang (UU) Pangan hari ini, Senin (28/8/2017).

Gelar perkara ini akan menghasilkan penetapan tersangka baru dalam kasus tersebut. Sejauh ini, polisi baru menetapkan satu tersangka yakni Direktur Utama (Dirut) PT IBU Trisnawan Widodo (TW).

Sebenarnya jajaran Dittipideksus sudah melakukan gelar perkara itu pada Jumat 25 Agustus 2017. Namun, gelar perkara ditunda hingga hari ini lantaran pembahasan yang cukup panjang.

“Pemaparannya panjang jadi belum selesai dan akan dilanjutkan hari Senin,” ucap Direktur Tipideksus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya saat dikonfirmasi Okezone, Jakarta, Jumat 25 Agustus 2017.

Sementara itu, dalam perkembangan kasus ini, Agung mengungkapkan bahwa PT IBU ‘mengkhianati’ kontrak kerja dengan salah satu perusahaan ritel di Indonesia dalam menyediakan produk beras yang dijual ke masyarakat.

Parahnya lagi, Agung menyebut ada 21 produk beras dari PT IBU yang tidak sesuai dengan isi kontrak kerja tersebut. Hal itu sangat merugikan masyarakat yang membeli produk beras tersebut.

“Semuanya ada 21 dari PT IBU. Kami akan dalami lagi satu per satu,” kata Agung.

PT IBU diduga melakukan monopoli harga dengan cara menaikkan harga saat membeli gabah ke petani. Padahal, Menteri Perdagangan (Mendag) telah mengeluarkan kebijakan mengenai harga pembelian gabah ke petani.

Kemudian, pelanggaran yang dilakukan PT IBU juga terjadi dalam melakukan penjualan beras merek Ayam Jago dan Maknyus lantaran tidak sesuai dengan aturan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pelanggaran itu adalah sistem pelabelan PT IBU di merek Ayam Jago dan Maknyuss menggunakan SNI tahun 2008 lantaran memakai istilah premium. Padahal, pada tahun itu SNI menggunakan istilah klasifikasi mutu I-V.

Kemudian, pelanggaran selanjutnya adalah mutunya tidak sesuai dengan SNI. Dalam pelabelannya, PT IBU tidak mencantumkan mutu bahkan kualitas beras juga tidak sesuai SNI. Lalu, PT IBU telah memberikan informasi yang menyesatkan untuk konsumen.

PT IBU juga menggunakan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Padahal, AKG dalam peraturan di BPOM AKG hanya bisa diterapkan pada produk yang langsung bisa dikonsumsi.

Untuk tersangka, polisi menjerat dengan Pasal 144 jo Pasal 100 (2) UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Tak hanya itu, polisi menjerat tersangka dengan Pasal 62 jo Pasal 8 ayat 1 huruf e, f, i, dan atau Pasal 9 h UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Bahkan, polisi akan mendalami praktik tindak pidana pencucian uang (TPPU).

169total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *