Front Pembela Islam Didzolimi?

0

BANGNAPI.COM, Jakarta – Front Pembela Islam (FPI) sedang mencari simpati. Lihat saja poster yang terpampang di markas besarnya Jl. Wates-Jogja. Mereka mengidentifikasi diri sebagai korban. “FPI sedang Didzolimi.”

Benarkah FPI didzolimi?
Menurut kaumnya pasti benar. Habibnya, Rizieq Shihab yang sedang ibadah umrah di tanah suci (holly land) malah diberi status tersangka. Orang lagi mendekatkan diri kepada Allah SWT malah dimasukkan Daftar Pencarian Orang (DPO). Benar-benar didzolimi, bukan?

Dia yang selama ini membela agama dan ulama, mengapa sekarang dikriminalisasi? Hal itulah yang membuat kaum FPI tidak mau duduk manis sekalipun pada bulan Ramadhan. Berbagai gaya dan daya upaya dilakukan untuk menunjukkan bahwa imam besarnya sedang didzolimi.

Diberitakan detik.com, ketika aksi 96 di Masjid Istiqlal ternyata ada pemandangan yang unik. Kalau aksi-aksi sebelumnya seolah uang berlimpah hingga bisa dibilang wah, aksi 96 harus turun derajat karena menggalang pengumpulan koin alias recehan.

Adalah liputan6.com yang mencatat bahwa aksi 411 dan 212 masih memiliki sisa 2 milyar. Sangat kontras dengan aksi 96 kemarin yang benar-benar mengais recehan dan baru terkumpul 5 jutaan. Benar-benar tidak sebanding.

Lebih miris lagi, dana itu pun dikumpulkan dengan cara tidak elegan. Anak-anak kecil dan ibu-ibu yang dibekali kotak penggalangan dana. Mereka dikerahkan secara terstruktur dan masif untuk mengumpulkan koin.

“Pengumpulan koin saat ini sudah terkumpul sekitar Rp 5 juta yang dikumpulkan sebelum salat asar dan akan terus bertambah. Uang ini akan diserahkan ke Komnas HAM untuk Tim Pencari Fakta Komnas HAM agar bertemu Habib Rizieq di Arab Saudi”

Pertanyaannya, kemana para penyandang dana aksi 411 dan 212 kemarin sampai tega mengerahkan anak-anak dan ibu-ibu? Sisa dana 2 milyar itu bagaimana juga kisahnya? Serba tidak jelas.

Padahal, hasil pengumpulan koin hendak diserahkan ke Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM). Tujuannya untuk membiayai Komnas HAM supaya bisa bertemu Habib Rizieq di Arab Saudi.

Dengan cara pengumpulan koin tersebut mungkin dipandang efektif untuk mendongkrak citra Habib Rizieq sebagai tokoh yang sedang didzolimi. Lihatlah hingga anak kecil dan ibu-ibu saja memberi perhatian yang besar pada sang imam besar.

Selain itu, di Jogja juga ikut-ikutan seru. Baliho dibuat supaya semua orang lewat melihat sehingga banyak orang bersimpati pada Habib Rizieq yang hingga sekarang belum pulang-pulang. Dipampanglah foto Habib dengan tulisan “FPI sedang Didzolimi.”

Kebelum-pulangan Habib tentu menarik untuk sedikit ditelisik supaya agak berisik. Adakah pihak yang merasa didzolimi oleh Rizieq yang tidak pulang-itu? Membayangkan situasi Firza tentulah dia yang merasa didzolimi.

Sudah jadi tersangka malah ditinggalkan dalam kesepian sama Rizieq. Kalau tidak dzolim, tentu Habib Rizieq menemani. Apalagi bila mengaku mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana diketahui bahwa baginda Rasul memiliki perhatian kepada para perempuan. Hati baginda sangat welas asih. Ketika zaman perang, banyak janda. Dititahkanlah supaya para janda dilindungi. Jangan sampai terjadi pembiaran terhadap penderitaan kaum perempuan. Martabat mereka harus dilindungi dengan cara menikahinya. Hal demikian dilakukan sebagai bagian dari dakwah.

Supaya jelas sosok keteladanan Nabi Muhammad berikut ini ulasan harianterbit.com. Ulasan ini penting supaya tidak salah paham tentang alasan baginda Rasul menikahi janda-janda. Karena banyak kaum kafir menuduh bahwa Nabi Muhammad SAW berpoligami karena mengejar syahwat.

“Padahal jika memang Muhammad SAW demikian, tentu baginda Rasul telah beristri lain selain Khadijah. Kaum Quraisy pun pasti bersedia mencarikan wanita pilihan untuk dinikahinya asalkan Muhammad SAW mau menghentikan dakwahnya. Selain itu, kalau memang syahwat yang mendorong beliau berpoligami, tentu akan dilakukannya pada usia yang lebih muda dan kaum Quraisy akan dengan senang hati mencarikannya.

Namun nyatanya Nabi Muhammad hanya memiliki dua orang istri yang berstatus gadis dan berusia di bawah 40 tahun ketika dinikahi Rasulullah, yaitu Aisyah dan Mariyah al-Kibtiyyah. Selebihnya istri beliau adalah janda yang sudah berusia di atas 40 tahun, selain Hafshah yang berusia 35 tahun. Bahkan ada di antara istri yang dinikahi Nabi adalah janda berusia 70 tahun dengan 17 anak, dia adalah Saudah binti Zum’ah. Maka jelaslah, bahwa setiap pernikahan beliau dilatar belakangi dakwah, seperti menikahi janda-janda beranak yang suaminya meninggal dalam perang membela Islam bersama Rasulullah. Rasulullah menikahi mereka demi membantu kelangsungan hidup para janda dan anak-anak yatim itu, jadi bukan demi memenuhi syahwat Nabi sebagai laki-laki.”

Nah, kalau Habib Rizieq mengikuti teladan baginda Rasul tentu tidak tega dengan Firza yang harus menghadapi sendirian kasus chat mesumnya. Padahal dalam rangka chat tersebut, Habib Rizieq memiliki peran yang sangat besar. Tanpa ide kreatif dari Habib tidak mungkin chat super cabul itu terkabul. Masalahnya, mengapa Habib tega meninggalkan Firza sendirian?

Sekarang, siapa yang sebenarnya dzolim? Siapa pula yang didzolimi? Semua tergantung sudut pandang. Mau pakai kacamata Habib atau kacamata Firza.

799total visits,1visits today

Share.

About Author

Leave A Reply