Ekonom Sebut Airlangga Layak Jadi Cawapres Jokowi

Direktur Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai, Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto, layak menjadi calon wakil presiden (Cawapres) dalam ajang Pilpres 2019. Kelayakan tersebut, dilihat dari aspek penguasaan konsep dan teknis industri manufaktur yang selama ini jarang mendapat perhatian.

“Seandainya ada yang orang yang paham tentang industri manufaktur seperti Pak Airlangga, yang bisa mendamping Pak Jokowi. Dirinya bisa memberikan masukan untuk memprioritaskan industri manufaktur,” ujar Faisal saat acara diskusi bertajuk “Capres-Cawapres Ideal di Mata Ekonom” di Mencure Hotel, Hayam Huruk, Jakarta, Rabu (28/3).

Selain Faisal, hadir juga sebagai narasumber Direktur Institute for Development of Economics and Finances (Indef) Enny Sri Hartati dan Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier.

Faisal menilai, Airlangga mempunyai kapasitas dan kemampuan teknis di bidang industri manufaktur. Kinerja Airlangga di Kementerian Perindustrian (Kemperin) sangat bagus dibandingkan menteri sebelumnya.

“Namun, Airlangga membutuhkan level yang lebih tinggi untuk mengawal pembangunan industri manufaktur di Indonesia. Misalnya, posisi wapres untuk mengawal agenda reindustrialisasi yang menjadi acuan menteri di bawahnya,” ungkapnya.

Menurut Faisal, jika Airlangga menjadi cawapres Jokowi, sektor industri akan menjadi prioritas pembangunan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Indonesia, perlu belajar dari Afrika Selatan (Afsel) yang mampu membuat industrinya berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Dari sisi capaian lain adalah tax ratio, kepatuhan membayar pajak, karena ada terobosan, mereka betul-betul melayani dengan semudah-semudahnya bagi yang mau membayar,” tuturnya.

Faisal sendiri tidak menyebut Sri Mulyani sebagai cawapres Jokowi karena dasar pijakannya adalah industri manufaktur. Sementara, kata dia, Sri Mulyani konsentrasi dan spesialisasinya di sektor keuangan.

“Jarang sekali Sri Mulyani, jarang sentuh masalah manufaktur. Ini kuncinya. Itu mengapa saya lebih condong ke Airlangga yang mau membantu Pak Jokowi ke depan untuk jadikan industri manufaktur sebagai prioritas,” terangnya.

Menurut Faisal, capres dan cawapres ke depan tidak boleh hanya menguasai dua bidang saja, yakni politik dan ekonomi. Mereka harus menguasai semua bidang dan bisa merangkul semua elemen bangsa untuk bersama-sama membangun Indonesia.

“Jadi, tidak perlu memaksakan seorang ekonom (jadi cawapres), tetapi harus punya multifungsi, representasi tokoh agama dan militer, Namun punya pemahaman ekonomi yang lebih baik dari presidennya,” kata dia.

57total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *